Pages

Minggu, 18 Juli 2010

di persimpangan pertigaan kah?

Tiba – tiba saja ingin mengabadikannya dalam sebuah goresan pena. Mungkin saja di antara kawan-kawan sudah pernah ada yang mengalaminya. Bahkan lebih mendalam, lebih jauh, dan lebih lebih lah pokoknya. Tapi, entah kenapa tangan ini gatal rasanya. Mungkin karena menurutku ini pengalaman berharga dari sebuah perjalanan menuju puncak keimanan.

Kejadian ini sudah lama, tapi ya nggak lama-lama amat. Tepatnya awal-awal semester dua kuliah. Masih canggung bagiku untuk bergaul, meski sudah sekitar 6 bulanan berada di tempat baru ini. Maklum, agak “Aku agak pendiam orangnya. Kalem. Tidak banyak bicara. Santun, ramah, baik hati, gemar menolong, tidak sombong, dan suka nodong”. Tapi apa daya, kewajiban dakwah membuatku harus memutar otak untuk menyebarkan ideology ini.

Siang itu, aku mengelilingi kampus hampir ada 7 kali. Suer, bro. Ya maksudnya bukan mengelilingi seperti ritual mengelilingi rumah sebanyak 40 kali agar kau bisa melihat wujud asli jin(kata seorang teman dari Joga), tapi bolak – balik lantai 1 kemudian lantai dua lalu lantai 3 untuk sekedar mencari “mangsa”. Akhirnya setelah hampir 2 jam, aku menemukan segerombolan orang. Untunglah kawan seangkatan. Jadilah mereka mangsaku. Tapi, entah aku harus mengatakan sayang atau bagaimanakah seharusnya yang kutemui adalah noni. Jadilah bulletin islam yang kubawa tak jadi kusebar pula. Tapi, jelas taka pa bagiku. Dakwah itu ditujukan pada semuanya. Meski musyrifah pernah berkata bahwa sekarang concern dakwah kita bukan pada mereka yang noni(dimana sampai sekarang aku masih tidak setuju dengan beliau tentang hal ini), aku tetap mencoba untuk membuka pintu hati mereka. Berharap bahwasanya ALLAH SWT mau berbaik hati kepadaku dengan menjadikanku sebagai perantara datangnya hidayah buat mereka.

Mungkin pengalaman ini masih kalah jauh dgn pengalaman bang Divan dkk, yang ku rasa sudah sampe mual2 memakan asin-asemnya suatu perdebatan teologis. Tapi yah, bagiku, kuanggap ini sebagai pengukuh keimananku. Setidaknya selain tulisan bang divan yang berjudul “atheisme”, aku punya pengalaman itu.
Kebetulan kawan pertamaku adalah seorang hindhu. Mulanya aku awali dengan bertanya;

“Sebenarnya kau ini beragama hindhu atau Budha?”

Sedikit mendramatisir keadaan, dy menghela nafasnya. Panjang sekali menurutku.

“Insyaallah Hindhu”, jawabnya.

Insyaallah?? Jika Allah menghendaki??? Aneh pula kawanku ini. Harusny kutanyakan pula apakah dy seorng muslim. Pakah dy berada dipersimpangan tiga agama. Hingga ia memasang dua dewa dari dua agama berbeda, dan mengucapkan sebuah kata khas muslim? Namun belum sempat aku mengolah kata, dy brtanya;

“Ada apakah gerangan dikau bertanya?”
“hmm… hanya heran dengan stiker yang ada di laptopmu. Dua dewa dari dua agama yang berbeda.”

Dy tertawa. Tak lucu bagiku. Yah kalian tahu, itu adalah hal yang sakral.
“Apa kau tidak bingung menyembah dewa-dewa yang tugasnya satu sama lain bertentangan?”
Maklum pertanyaan polos.
“Sebenarnya kami sama dengan kalian. Kami menyembah Tuhan.”

Aku berontak. Jelaslah, tak mau aku disamakan dgn penyembah berhala. Penyembah patung2 tak jelas bertangan lebih dari dua.
“Bagaimana bisa?”, tanyaku sambil sedikit melotot.
“Dewa-dewa ini bagi kami seperti halnya Nabi atau Rasul dalam agama kalian.”

Semakin berontak. Nabi-nabiku tak ada yang menjadi perusak seperti salah satu dewa mereka.
“Hmm…. Bagaimana bisa sama? Nabiku tidak pernah menyuruh kami untuk menyembah mereka.”
“Dewa-dewa ini hanya sebagai perantara antara kami dgn Tuhan.”
“Berarti kita berbeda. Tuhanku tak pernah menyuruh utusanNya untuk menjadikan mereka sebagai perantara. Berarti Tuhan kita berbeda. ”
“Yah memang itulah kepercayaan kami, yang kami yakini kebenarannya, Y.”
“Bagaimana mungkin kalian bisa meyakini sebuah ajaran yang dibawa dewa-dewa yang bahkan tiap kisah dari dewa itu kalian katakan sebagai dongeng para rahib kalian?”

Aku tak tahu apa yang saat itu dy pikirkan. Yang jelas, aku yakin sudah mengguncangkan keimanannya. Keimanan pada legenda Dewa-dewa yang mereka sebut sebagai dongeng dari rahib mereka. Tapi, mungkin hidayah itu tidak turun sekarang atau melaluiku. Hingga ujung-ujungnya dia berkata;
“Sudahlah, Perbedaan itu anugrah. Tuhan lah yang menghendaki perbedaan itu. Kita harus menghargainya. Tanyalah pada petinggi agamaku di pura yang biasa aku kunjungi disini.”


Dan kemudian ia berlalu tanpa pamit sembari mengambil bulletin Islam yang dari tadi sengaja kuletakkan di atas meja. Alhamdulillah, batinku.
Tp, sebenrnya ingin sekali kutanyakan padanya. Perbedaan seperti apakah yang ia maksud? Jika perbedaan dalam ranah teologi, dari mana ia tahu bahwa itu kehendak Tuhan, jika dapat kita buktikan dengan gampang bahwasanya kami amat berbeda dari segi teologi itu sendiri? Ah, bagaimana aku bs percaya pada kata2 seseorang korban doktrin rahibnya?
Wallahua’lam.
Kamis, 03 Juni 2010

GAZA TIDAK BUTUH KAU


Gaza tak butuh kau...Gaza tak butuh aku.. Yang Gaza butuhkan adalah Allah SWT. karena Gaza itu milikNya...
Kitalah yang butuh Gaza.. Kitalah yang butuh Gaza... Kitalah yang butuh Gaza...
Kita yang butuh Gaza, agar tercatat nama kita di sisiNya sebagai hamba yang bergerak untuk menolong agamaNya..


http://burjo.wordpress.com/2010/06/03/gaza-tidak-membutuhkanmu/
Selasa, 01 Juni 2010

HIDUP

Hari ini, ditengah2 perkuliahan berlangsung, hp sy bergetar. Sy pikir ini dari paman yang mengabarkan uang kiriman bs diambil hr ni jg. Tpi trnyata itu sms dr seorg sahabat. Kecewa kah sy? Hmmmm….sedikit + sedikit * sedikit – lumayan sedikit + 2*sedikit. :d(Note: just kidding).
Singkatnya sms itu berisi sbuah pertanyaan, yng menurutnya filosofis (jujur, sbnrnya sy kurang begitu paham makna kata filosofis :d). Pertanyaan itu mengingatkan sy pada keponakan tercinta. Yah, kebetulan sy sedang rindu berat pada nya. Surabaya-jogja tidaklah dekat, jd frekuensi bertemu jd sgt jarang.
Suatu hari,pernah sy mengajak keponakan perdana untuk jalan2(really walk by foot). Saat itu kira2 usianya belum ada satu setengah tahun..ya mislkan umurnya saya misalkan x, maka codomain nya adalah 1<1,5.>banyak,amat) lemas….:D Yah, kami bersendau gurau dengan ayam,kucing, bahkan syauki hampir mewarisi kebiasaan Susana, yakni makan bunga melati. Untunglah dengan sigap sy mencegahnya.  horeee….. Yah untunglah syauki tdk punya kebiasaan melempar batu seperti keponkan seorg kawan, ketika di ajak berkeliling kampung. Haha….

Ditulisan ini, sy tak hendak bercerita tentang keponakan perdana sy. Sy tak hendak cerita bagaimana lebih girangnya syauki bermain dengan kambing dari pada dengan saya. Atau saya tak hendak membuat cerpen tentang apa saja yang dia lakukan ketika mandi, yang menghabiskan waktu lebih lama dari saya.

Ya kembali ke pertanyaan kawan saya, yg membuat sy menulis artikel ini, setelah sebelumnya sy sedikit(baca: rada banyak) bercuap-cuap tentang keponakan saya. Kawan saya bertanya ttg apa arti hidup ini menurut sy. Hmmmm…. Jujur saja, sy bukan tipe orang yang memikirkan hal seperti itu. Sedikit tergelitik, atau lebih tepatnya muncul pula keinginan untuk mencari-cari. Dan akhirnya yang ada sy setuju dengan pendapat org kebanyakan tentang definisi hidup.
Ada yang mengatakan hidup itu pilihan. Sy setuju. Hidup adalah sebuah perjalanan. Hidup itu perjuangan. Hidup itu untuk berbagi dengan sesama. Segudang definisi hidup yang sy dapatkan ketika sy mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang kawan sy lontarkan tersebut. Nothing wrong, menurut sy. Hanya saja sy lebih melihat “Hidup” dari sudut pandang yang hidup. Bahwa hidup bukanlah mati. Bahwa hidup itu hidup. Ada kehidupan. Ah susahnya didefinisikan. :d

Bagi sy, apapun makanannya yang penting minumnya teh botol sosro. :d Maksudnya, apapun definisi hidup, bagi sy yg terpenting adalah tujuannya. Ketika sy memutuskan untuk memandang “Hidup” dari sudut pandang yang hidup, maka sy pahami bahwa dalam hidup ini tidaklah boleh ada suatu kediaman, harus ada pergerakan. Pergerakan yang didasarkan pada tujuan hidup. Tujuan hidup yang di dapat dari si Empunya hidup. Begitulah. Ketika yang sy pahami adalah demikian, maka sy pun tak boleh diam. Mau tak mau harus bergerak. Harus berbuat. Harus beraktifitas.

Nah inilah yang menurut sy menjadi kasusnya- Aktifitas saat hidup- yg seperti sy jelaskan di atas, harus punya tujuan. Maka, tujuan itu tak sy cari kemana-mana, seperti halnya beberapa kawan2 mahasiswa sy yg bermacam2 tujuannya sampai ada yg bingung ketika ditanya apa tujuan hidupnya saat di forum pengkaderan(baca: OSPEK). Saat itu ada yang menjawab, ingin membahagiakan keluarga dan orang tua, jadi orang sukses, dsb. Sangat prestige mungkin bagi mereka. Lantas sy bertanya (meski dalam hati), klo abis orang tua dan keluarga nya bahagia, dy mau apa? Setelah jadi org sukses(yang mungkin definisinya banyak) trus mau apa lagi?hmmmm…..

Maka dari itu, sy tak mau susah2 mncari tujuan hidup sy, sampai harus menyelam samudera pasifik. Allah sudah memberitahukan tujuan hidup ini pada kita, yakni beribadah kepadaNya. So based on this, pikiran sy hanya simple saja. Otomatis pergerakan(baca: aktifitas) sy harus berdasarkan apa yang diperintahkanNYA. Simple kan? Itulah tujuan hidup sy. Sy sama sekali tak punya tujuan untuk menjadikan keluarga sy kelak seperti keluarga sukses dengan parameter keluarga Bernaulli, yg dari buyut sampe cicit adalah ahli matematika. Mulai dari Jacob I, Johan I, Nicoulas, Daniel, Jacob II dst. Atau sy tak bertujuan menjadi seorang yang kaya raya seperti Bill Gates, atau penguasa IT lainnya. Tujuan sy hanya satu. ‘ibadallah untuk menggapai ridhoNya.

So, simple nya semua aktifitas yg sy lakukan semata-mata mendukung tujuan hidup sy. Sy memang berkeinginan menjadi perancang dan ahli network security yang handal dikemudian hari, tapi hal itu tak lepas dari tujuan hidup sy. Kalau sy ceritakan apa planning sy terkait hal ini, jadi panjang nantinya. :d

Ya intinya sekali lagi, bg sy tak penting apa arti/ definisi hidup. Wew, anda boleh kok tak setuju dengan perkataan sy. Anda punya hak. Toh tidak ada keharaman hukumnya ketika anda tidak setuju dengan pendapat sy. Bagi sy, pergerakan yg terjadi saat hidup, itulah masalahnya. :d

NB:
Smg bs menjawab….

Selasa, 20 April 2010

BERLARI DENGAN ASAN




Kini
Surya tengah melebarkan telinganya
Mendengar suara genta sekolah pagi buta
Mendengar jejak kaki pengejar asan di setiap buldan
Mendengar derap para pelari menuju pondok winaya
Mendengar petuah para guru yang terpajan di muka para pencari pemuas pemikiran

Surya kini merentangkan tangan panjang cahayanya
Membumbungkan asan para penjual lampin
Tuk jadi majikan tinta dan membeli sebuah pena dengan sebatang aurum
Meraba harapan budak-budak tuk mengukir cita di dada

Kini, surya sedang membuka mata
Melihat manusia mengejar kejayaan di belantara kehidupan
Melihat para bocah yang mengejar azam
Melihat bisu tumbuhnya asa dalam dada tiap insan

Sang surya pun menjadi saksi
Bagi para pencari dan budak, bagi para penjual lampin
Bagi para papa dan gahara
Bagi perjuangan tanpa limit menuju kemahsyuran wiyana nusantara
Bagi generasi penerus Muhammad bin Salamah
Tuk merebahkan peribahasa tua “Indah kabar dari rupa”
Kemudian berlari dengan asan penuh di dada
Tuk membelalakkan dunia(yrz)
Kamis, 28 Januari 2010

TANPA JUDUL

Jalan ini, memang dipenuhi darah dan airmata,,
Namun,
darah yang memberi warna keberanian sebuah revolusi akbar...
Air mata yang membasahi kerongkongan perjuangan, hingga hilang dahaganya

Jalan ini, terlampau banyak duri yang musti dihilangkan,
Namun,
Duri ini tlah meneguhkan kakiku tuk tetap membuatnya terpaksa tumpul dan tunduk dibawah kaki

Jalan ini,
jalan ini,
jalan ini,

Jalan ini,
penuh mutiara yang tersembunyi dan disembunyikan
maka, lewat revolusi akbar khan ku raih mutiara yang terbuang yang kini ada di tepi jurang yang para manusia takut tuk mengambilnya

Tak kan pernah berhenti,,
sebuah revolusi sampai akhir hidup ini
hingga yang Agung berada ditempatnya kembali

SALAM REVOLUSI
Rabu, 27 Januari 2010

ENTAH SAMPAI KAPAN

Entah sampai kapan
mereka akan tersadar bahwa negri ini
bukanlah panggung wayang golek yang butuh dalang org2 tak berguna

Entah sampai kapan
Manusia-manusia bodoh itu menejlma menjadi menteri berdasi
yang hanya bisa mengangguk pada pemilik kertas bernominal

Entah sampai kapan
boneka2 ini
menjadi pemeran utama di singgasana penentu
nasib jutaan manusia

Entah sampai kapan..............

"Apatah sampai generasi baru setelah kita yang nantinya berhasil menumbangkan peradaban busuk ini??"

atau

"Apatah cukup sampai disini saja peradaban ini berlenggak-lenggok,
dan generasi kita lah yang berhasil menumbangkannya??"
Sabtu, 19 Desember 2009

ESCAPIST

“Arggggggggggggggggggghhhhhhhhh………………………………”

“Nyebut tole….nyebut….”

“huh…………..huh………………….”

Ku rasakan tak karuan. Kacau. Rasa marah menyambut setiap pertanyaan yang kuajukan pada diriku sendiri.

“Sabar le,,,,sabar….”

Aku..aku bisa merasakan tangan emak yang membelai rambut dan mengusap dadaku. Tapi, aku…aku tak bisa mengendalikan kaki dan tanganku. Mereka seperti bagian lain dari tubuhku.

“Argghh……Arggh…..Argh……..”

Mulutkupun tak mau kalah liar.
“Huh,,huh”
Nafasku tersengal .Aku tak berdaya mengendalikan tubuhku sendiri. Aku lelah. AKU LELAH.
Mataku!!! Mataku!!! Aku tahu sorot matakupun ikut berlomba menjadi liar. Bengis, tajam, pancaran amarah. Aku..aku tak sangup melembutkan sorot mataku pada emak.
Aku lelah….aku lelah…..

“Argh…..Argh…..”
Teriakanku bertambah kencang setiap kali kurasakan tangan Abah yang renta menghalau gerak liar tubuhku.

“BRUK”

Suara itu sangat jelas. Dan bertambah nyata saat mataku dengan sorotnya yang tak berubah melihat abah yang tersungkur tak berdaya di lantai karena tendangan maut kakiku. Kemudian aku…..aku…….aku…..tak sadarkan diri.

---------------||----------------


“Piye le, rasane awakmu?”

Lega. Kini kubisa merasakan bahwa aku punya tangan dan kaki. Damai. Karna sorot mataku tak lagi penuh dengan amarah.

“Emak...Abah.....”
Senang. Mulutku menjinak. Aku kembali. Ha ha ha ha.........
“Apa kau haus? Emak ambilkan minum ya?”
Aku menggeleng. Kupegang tangan emak. Mengiba dengan tatapan mataku. Mencoba memohon padanya untuk tetap tinggal disamping ku.
”Apa yang kau pikirkan dan rasakan sekarang?”

Pertanyaan abah membuatku bisu daalm sekejap. Rasanya pun ingin bisu selamanya. Perlahan air mataku menetes. Namun hanya air mata hati. Aku....diantara tahu dan tidak tahu. Ah entahlah aku bingung. Aku tahu kenapa aku begini, tapi aku takut mengakui, bahkan mengakui pada diriku sendiri.


---------------||----------------

”Budi..... Budi......”

Sangat jelas. Ada yang memanggilku. Tapi aku tak peduli. Aku tak pedulikan mereka jika mereka memanggilku dengan nama Budi. Apakah ini berarti aku benci namaku? Sebegitu rumitkah aku?
Aku hanya tidak terima saja, ketika guru sekolah dasarku selalu mengeja kalimat ”Ini Ibu Budi ” atau ”Ini ayah Budi”. Andai aku punya ibu dan ayah, aku tak akan tersinggung. Aku hanyalah bayi tengil yang dipungut emak dan abah dari tumpukan sampah. Bahkan hidungku, kata emak, saat itu tertutup oleh pembalut wanita. Aku hanya benci. Hanya benci.

”Budi!! Aku memanggilmu dari tadi. Apa kau tak mendengarnya? Ehmmm..... Ini catatan Aljabar linear dan Pemrograman Terstruktur mu, kemarin ketinggalan di kampus.”

Kampus?? Heh... Halim mengingatkanku kalau aku mahasiswa. Aku ingin mengubur ingatan itu. Dan hampir berhasil, setidaknya sampai detik dimana ia menyebut kata kampus. Kata yang begitu aku benci, karena telah mengubah duniaku 180 derajat. Kata yang bisa membuat kepalaku penuh beban. Kampus..... tempat dimana aku hanya dididik untuk menjadi kapital hedonis dengan orientasi kebahagiaan materi. Tempat dimana aku, memulai debutku sebagai.......

”Oya, jangan lupa 2 hari lagi demo Final Project. Jadi rangkaian subtractor, divider dan modulo nya aku serahkan padamu.Oya Ujian akhir semester dimulai .....................”

Kepalaku.............mataku remang.......

”Budi..... Budi.....”

---------------||----------------

”Rangkaian mu sempurna. Hampir tak ada cacatnya. Bagaimana kau membuatnya?”

Asprak ini membuatku illfeel. Tapi sedikit menyenangkan ketika rangkaianku ia nilai perfect. Tapi sungguh, pembuatan rangkaian ini sangat mudah.

”Ini hanya rangkaian subtractor biasa. Rangkaian divider pun, dasarnya subtractor pula, sedangkan hasil modulo, diambil dari hasil subtractor akhir rangkaian divider.”

Apa penjelasanku cukup gmablang bagi mereka? Ah, apa pentingnya. Mereka lah yang bodoh jika tak mengerti ucapanku. Lagi pula nilai A sudah ada didepan mata karena ucapan “sempurna” nya. Ha ha ha……..

“Harus menggunakan rangkaian komparator pada rangkaian divider nya”
”Lalu, bagaimana bisa kau jadikan modulo sebagai outputnya, Budi?”

Dua kali sudah, manusia berjabatan asprak ini membuat ku kesal. Tapi nilai A nya, cukup meredamku.

”Counter up. Dengan rangkaian counter up”
“Aku tak melihatnya. Mana rangkaian counter up yang kau maksud itu?”

Ingin sekali rasanya aku lemparkan pena yang dari tadi kugenggam ke wajahnya. Tapi biarlah. Ku masih menganggapnya asprak bodoh yang saat semester satu selalu revisi praktikum.

“Dalam sub circuit. Saya buat IC sendiri.”

Kepalaku…..kenapa? kumohon jangan di saat2 seperti ini......

---------------||----------------

”Maaf nak Halim, apa Bapak boleh tahu kenapa anak Bapak, Budi, mendapat nilai E? Bahkan harus melakukan revisi minimal tiga kali?”
”Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Tapi Budi tidak mengerjakan tugas Praktikum nya. Uji rangkaian, ia hanya menyodorkan worksheet kosong, kemudian ia duduk, lalu diam dan tak menjawab sepatah katapun ketika penguji mengajukan pertanyaan padanya.”

Aku melihat kepala abah mengangguk-angguk, kala si Halim kudil itu berucap. Meski aku tak bisa mendengar apa yang mereka sedang perbincangkan, aku bisa menarik kesimpulan kalau abah sedang diguna-guna oleh halim, sampai abah tak berhenti menganggukkan kepala rentanya.


---------------||----------------

”BANGUN!! SADARLAH KAWAN!! KAU INI MASIH HIDUP!! KAU MASIH BERNYAWA…… JANGAN JADI PENGHAYAL SEJATI!!!”

Tepatnya, yang kurasakan, Halim seperti menyuruhku untuk jangan menjadi seorang escapist sejati. Yah…. Aku memang seorang escapist sejati. Membuat dunia khayalanku, dan lari dari kenyataan yang ada didepanku. Bahkan, Budi pun masuk sebagai actor utama dunia khayalku. Cerita kampus pun terilhami dari langit. Si kudil Halim, dia terpilih jadi pemeran pembantunya. Lantas siapa aku?? Aku tak tahu. Mungkin lain kali akan kujadikan kau sebagai tokoh dalam dunia khayalku. Namun yang pasti, aku adalah orang yang tlah terjerat selamanya dalam dunia khayal yang begitu nyata.
Rabu, 18 November 2009
mempersembahkan::::::


susah memang..............

Hari ni, setelah seminggu futur, akhirnya sy dicharge juga. Semangat dakwah membucah sesaat kemudian. Dan sy pun langsung mencari mangsa. Satu,dua,tiga,empat,lima,dan enam. Dengan semangat yang membara, menggebu,hot(not sexy). Sy mulai dengan pertanyaan yang biasa disebut sebagai simpul besar. Darimana kita, mau apa kita, dan mau kemana kita. Saya pun menjelaskan satu per satu dengan gamblang(menurut pandangan saya). Setelah sy menjelaskan,,,,,huf.....rasa kecewa menghantam. seprti sepeda motor yang dihantam bus Sumber Kencono kemudian dilindas Truk Container. qalbu dan aql para mangsa sy sepertinya tak berkutik. Sy tawari untuk mengkaji lebih dalam, mereka hanya menggelengkan kepala. Sibuk, g ada waktu, banyak tugas, sdh cukup ilmu, dll. Sempat terlintas di benak saya, mengapa mereka tak mau menerima ajakan sy untuk mengkaji ilmu Allah lebih dalam? Bukankah sudah sy tunjukkan bukti2 kekuasaanNya? Bukankah sdh nyata Al-quran itu benar?Tapi mengapa mereka susah menerimanya?
Dan kemudian, sy pun terhenyak. Elokkah pertanyaan sy? Bukankah ini namanya nafsu sesaat? Bukankah ni yg dinamakan kesombongan implisit? Bukankah sy hanya manusia biasa, yg tak punya kuasa untuk membolak-balik hati manusia? Lantas bagaimana bisa sy berpikir demikian?
Sy pun sadar, bahwa dakwah tidaklah instant. Nabi pun perlu waktu untuk bisa membuka hati Umar. bahkan Nabi pun tidak bisa membuka pintu hati pamannya untuk menerima islm, hingga pamannya meninggal. Lantas bagaimana dengan sy yg baru mendakwahkan islam pada kawan2 sy yang baru sekali sy lakukan pada mereka?
Dan sy sadar jua, sy bukanlah Tuhan yang bisa memberi hidayah pada setiap manusia. sy hanya menyampaikan, dan setelah itu adalah urusan Tuhan. Dan dunia dakwah tidak butuh org yg hanya punya semangat saja(apalagi semngt sesaat), tpi butuh org yng punya "ilmu retorika yang mengguncang dunia".
Minggu, 08 November 2009

"KHILAFAH, TEGAKKAN!!"

"ISLAM"

"TEGAKKAN"

"KHILAFAH"

"TEGAKKAN"

Itulah teriakan-teriakan yang terus kami gemakan dalam aksi damai yang bertemakan "Selamatkan Indonesia dari sitem dan birokrat korup dengan syari'ah dan khilafah".
Dengan penuh semangat, kami terus meneriakkannya dari awal hingga akhir aksi.Meskipun panas Matahari Surabaya membakar ubun-ubun kami sejak pukul 9 pagi hingga pukul 11.30, tapi kekhidmatan aksi ini tak berkurang.
Meskipun peluh tak pernah berhenti keluar dari kulit tubuh kami, namun kami tak sedikitpun menurunkan Bendera Al-Liwa' dan Ar-Raya.
Rasa lelah pastilah terasa, tetapi pemandangan kibaran bendera Islam semakin menguatkan kaki dan tangan kami. Lantunan kalimat Tauhid yang jua digemakan semakin meyakinkan kami bahwa janji Allah pasti kan datang. "KHILAFAH ADALAH JANJI ALLAH". Tak ada sedikitpun keraguan yang menyerembul di hati kami.
Meski berkali-kali mengalami penolakan, namun kami tak patah semangat menyebarkan Lembar-lembar kertas yang berisikan opini penegakkan syariah dan khilafah pada para pengguna jalan. Ya, sewajarnya, ada yang menolak, ada yang menerima lantas membuangnya, dan ada pula yang menerima kemudian membacanya(insyaallah).
Dalam hati, kami terus berdoa agar Allah membukakan pintu hati setiap pengguna jalan yang menjadikan kami pusat perhatian ketika mereka melintas.
Dan dalam setiap doa, kami selalu memohon agar Allah menyegerakan tegaknya Daulah Khilafah yang akan menaungi seluruh umat, hingga disetiap pelosok dunia tak akan ada lagi orang yang meragukan kekuasaanNYA.
Dan dalam setiap sujudku, aku selalu memohon agar Allah meridhoiku menjadi pejuangNya, dan agar Allah memberiku ijin untuk merasakan hidup dibawah tegaknya panji-panji islam.Amin.

"Ya Allah jika dengan nyawaku, SyariahMu bisa tegak dan Daulah bisa berdiri, maka seandainya aku punya 1000 nyawa, maka ambillah semua. Namun pintaku, ijinkanlah hamba menikmati kemenangan itu walau hanya sedetik saja."
Minggu, 25 Oktober 2009

KMII, ALLAHU AKBAR

Demokrasi, demokrasi, demokrasi pasti mati…
Demokrasi, demokrasi, demokrasi pasti mati…
Khilafah, Khilafah, akan tegak kembali…
Khilafah, Khilafah janji Allah yang pasti…

Itulah salah satu yel-yel yang dinyanyikan lebih dari 5000 mahasiswa-mahasiswi Islam dari berbagai perguruan tinggi dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, Bali, Madura dan Jawa dalam Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII), Ahad (18/10) di depan Basket Hall, Senayan, Jakarta.



Dengan penuh semangat, dari pagi hingga matahari tepat di atas kepala, mereka berulang kali melompat-lompat menerikan yel tersebut di sela-sela orasi para cendikiawan Muslim diantaranya adalah Fahmi Amhar, Dwi Condro Triono dan Fahmi Luqman di samping orasi dari para perwakilan mahasiswa.



Meskipun tidak turut melompat-lompat, sekitar seribu mahasiswi yang berdiri di sebelah kanan yang terpisah secara tegas dengan barisan mahasiswa, tidak kalah semangatnya, sambil mengangkat tangan terkepal, seirama menerikan yel tersebut.



Itulah salah satu ciri yang membedakan mahasiswa Islam dengan mahasiswa sekuler. Sehingga bukan hanya di masjid, barisan laki-laki dan perempuan terpisah. Di lapangan terbuka pun hukum Islam terkait dengan interaksi pria-wanita tetap diamalkan. Sehingga campur baur yang biasa terjadi dikalangan mahasiswa sekuler, tidak akan ditemukan dalam kelompok mahasiswa yang menjunjung tinggi syariah Islam.



Tonggak Perubahan


Kongres yang diselenggarakan Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) tersebut ialah sebagai koreksi atas pergerakan mahasiswa yang selama ini ada. Kongres menilai pergerakan mahasiswa yang ada selama ini lebih bersifat pragmatis dan demi kepentingan sesaat.



Fenomena itu bisa dilihat dari berbagai angkatan termasuk mahasiswa angkatan ’98 maupun ’66. Demi kepentingan perut semata mereka berebut kursi kekuasaan mengorbankan idealisme mereka sendiri ketika masih mahasiswa.



Bahkan lebih jauh dari itu, seperti yang dinyatakan Erwin Permana, Koordinator Badan Eksekutif Nasional BKLDK kepada Media Umat di sela-sela kongres, KMII ini merupakan koreksi total terhadap Sumpah Pemuda yang dilaksanakan pada 28 Oktober 1928 lalu.



KMII ini merupakan momentum dan tonggak perubahan sejarah mahasiswa atau pemuda kelak. "Kita bisa mengambil pelajaran dari Sumpah Pemuda 1928, sumpah tersebut dapat membawa arus perubahan dalam pergerakan pemuda untuk lepas dari penjajahan yang ada saat itu," ujar mahasiswa pasca sarjana UI tersebut.



Sumpah Pemuda mengubah persepsi para pemuda sehingga sadar dan bangkit bersama-sama mengusir penjajah. Namun sayangnya, mereka hanya berhasil mengusir penjajahan militer. Sedangkan penjajahan di bidang lain seperti penjajahan dalam bentuk politik, ekonomi, pergaulan, dan pendidikan masih terus berlangsung hingga saat ini.



Itu bukan karena perjuangan mereka yang melanggar sumpah. Tetapi konteks sumpahnya itulah yang bermasalah sehingga mereka hanya berkutat pada perjuangan melawan penjajahan militer.



"Sehingga kalau kita lihat konteks Indonesia kekinian memang penjajahan secara fisik itu tidak ada, tetapi secara ekonomi, politik, budaya, kita dijajah. Mengapa penjajahan non fisik ini tetap ada? Karena memang intelektual kitalah yang dijajah," ujarnya.



Oleh karenanya, Erwin menandaskan pemuda sekarang haruslah sadar dan bangkit secara intelektual. Terkait dengan itu, mahasiswa Islamlah yang sudah seharusnya menjadi garda terdepan dan menjadi motor penggerak untuk menyatukan dan membangun visi intelektual menuju Indonesia yang lebih baik.



Terbebas dari penghambaan terhadap manusia sehingga hanya perintah dan larangan dari Allah SWT saja yang layak diikuti karena memang hanya Allah SWT yang layak disembah seperti yang telah dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW.



Jadi pergerakan mahasiswa Islam ke depan bukanlah perjuangan revolusioner radikal yang memiliki cita-cita pendek dan dangkal yang akan menggantikan sistem yang satu dengan sistem buatan manusia lainnya. Bukan pula perjuangan yang hanya menggantikan penguasa tiran dengan penguasa tiran lainnya.



Akan tetapi pergerakan mahasiswa Islam ideologis. Berjuang dengan misi pembebasan umat manusia. Membebaskan manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Allah, Tuhannya manusia. Membebaskan manusia dari sistem buatan manusia menuju sistem buatan Allah SWT, Tuhan semesta raya.



Sumpah Mahasiswa



Semua duduk, hening, khusyu’ saat dibacakan ayat-ayat suci Alquran bahkan menangis ketika dibacakan do’a. Namun sorak sorai kembali membahana ketika mereka meneriakkan, "Allahu Akbar…! Allahu Akbar…! Allahu Akbar…!"



Mendekati puncak acara, yakni pembacaan Sumpah Mahasiswa, matahari semakin terik membakar, mendidihkan jiwa muda mereka yang semakin muak dengan sistem kufur yang selama ini diterapkan di Indonesia dan negeri-negeri Muslim lainnya.



Maka selain takbir dan yel Khilafah janji Allah yang pasti, dengan penuh semangat mereka pun meneriakan, "Demokrasi… hancurkan…! Kapitalisme… hancurkan…!", "Sosialisme… hancurkan…! Komunisme… hancurkan…!",



Mereka pun sangat rindu penerapan syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah menggantikan sistem buatan manusia yang selama terbukti secara telak sangat menyengsarakan manusia di dunia ini. Apalagi di akhirat nanti seperti yang telah Allah SWT tegaskan dalam Alquran.



Maka dengan tubuh yang bermandikan peluh dengan lantang mereka meneriakan, "Syariah… tegakkan…!, Khilafah…Tegakkan…!". Allahu Akbar… kemudian teriakan "khilafah, khilafah, khilafah…!" bergemuruh.



Tibalah acara puncak, semua peserta mengankat tangan kanannya dan mengacungkan jari telunjuk seraya bersumpah dengan sepenuh jiwa. Membaca serentak lima butir sumpah.



Mereka akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syariah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah di Indonesia dan negeri Muslim lainnya secara intelektual dan tanpa kekerasan.



Mereka pun bersumpah dengan sepenuh jiwa bahwa perjuangan itu dilakukan bukan karena sebatas tuntutan sejarah. Namun lebih dari itu. Perjuangan yang mulia tersebut merupakan konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT. (mediaumat.com ,19/10/2009)


-------------------------------------------------------------------------------------

ALLAHU AKBAR
SAATNYA KITA BERUBAH!!BANGKITLAH SELURUH KAUM MUSLIMIN DI DUNIA.....

KHILAFAH PASTI KAN TEGAK..TAPI BUKAN MELALUI JALAN DEMOKRASI YANG SESAT....
Wahai pengemban dakwah,,murnikanlah pemikiranmu. open your mind!!!!
Rabu, 29 Juli 2009

BEGINIKAH DEMOKRASI NEGERI INI?




Beberapa waktu lalu, tepatnya pada tanggal 5 Juli lalu, pernah menerbitkan sebuah surat elektronik milik Andi Malarangeng, sang jubir Presiden RI. Isi surat tersebut benar-benar mengejutkan. Terlihat sekali konspirasi di balik perhelatan demokrasi yang mahal itu. Pemegang kendali konstelasi politik dalam negeri tetap ada di tangan para munafikin antek kafir yang bermodal besar. Bukan rakyat, sebagaimana yang selama ini dielu-elukan dalam demokrasi.

Berikut adalah isi surat elektronik yang dikirimkan oleh Andi Malarangeng kepada Muchlis Hasyim, editor senior salah satu media cetak besar di Indonesia.

From: Andi Mallarangeng
Date: Fri, 3 Jul 2009 18:59:14 -0700 (PDT)
To: Subject:
Re: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan

Muchlis yang baik tapi sedang gundah, Menurut saya, kita masih on the track. Isu yang menyudutkan saya di Makasar, masalah di Medan, DPT bermasalah, atau omongan ngaco PS tentang GBK tidak akan mempengaruhi pemilih. Apa dia punya bukti kita memanipulasi media. Masyarakat kan melihat media sendiri lah yang menentukan berita mana yang pantas mereka turunkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ada beberapa argumen yang bisa memperkuat keyakinan saya bahwa beragam isu ini tidak akan mempengaruhi kita.

Pertama, bangsa kita berada pada tahap puncak konsumerisme yang menyebabkan kaburnya identitas Nasional. Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila itu tinggal jargon2 saja. Jadi orang akan memiih dari apa yang mereka lihat dan sukai dan itu jelas masalah pembawaan dan penampilan. Masyarakat konsumen tidak akan peduli dengan apa yang dibawa oleh orang tersebut. Mau kapatalis, sosialis, atau neolib sekalipun, mereka tidak akan pedulikan. Yang penting mereka puas dengan penampilan si kandidat.. Dan kandidat itu adalah SBY-Boediono. Jadi, kejadian saya di Makassar kemarin itu tidak usah dipikir terlalu berat, itu hanya sebuah eksperimen kecil saya untuk melihat apakah isu berbau SARA masih mendapat tempat di masyarakat kita? dan saya sudah mendapatkan jawabannya, memang betul terjadi sedikit riak di Makassar sana dan mungkin elektabilitas JK langsung meningkat tajam. Tetapi lihatlah pada hari pencontrengan nanti, masyarakat tetap tidak akan bergeming dari pilihan kita. Sebab bagi masyarakat konsumen, yang penting bukanlah isu, tetapi penampilan dari kandidat. Ibaratnya blackberry vs pancasila, jelas ketahuan mana yang laku dan tidak sekarang ini. Masyarakat kita mati2an berhutang kiri kanan buat beli blackberry makin lupa lah sama pancasila. Ingat bung, Obama bisa jadi presiden hanya karena konsumerisme dan kapitalisme di AS sedang runtuh sehingga penduduknya kembali ke nilai-nilai kebangsaannya yaitu "all men are created equal", makanya kulit hitam bisa jadi presiden. Kalau ndak ada keruntuhan ekonomi ndak mungkin kejadian tuh Obama boss.

Kedua, FZ cs tidak percaya bahwa politik aliran sudah mati di Indonesia. NU, Muhammadiyah apalah yang lain juga sudah tidak seperti dulu lagi. Kita kan juga liat sendiri, kyai kan UUD juga akhirnya toh, tinggal mana yang kantongnya paling dalam dan janjiny paling manis aja. Dan kita kan main cantik sekali seperti anda liat. Lalu, orang seperti ini ini juga tidak mau belajar dari sejarah kepemimpinan nasional di Indonesia. Sejak negara ini berdiri, semua presiden yang naik itu karena kecelakaan sejarah. Bung Karno diangkat menjadi presiden, karena Jepang kalah dari sekutu dan terjadi vacuum of power pada masa itu. Soeharto naik juga akibat kecelakaan sejarah yaitu terjadinya peristiwa 65. Nah yang lucu, setelah itu kecelakaan sejarahnya semakin ngaco. Reformasi bergulir tahun 98, menghasilkan presiden yang buta. Presiden buta dijatuhkan, naik pula lah perempuan bisu. Kalau politik aliran memang belum mati, sudah pasti Mega atau Habibie jadi. Lagipula kalau memang ada politik aliran maka alirannya pasti jawa, laki-laki, militer dan islam. Non jawa seperti saya dan teman-teman ini kan sudah memang tempatnya jadi king maker saja, lebih enak ndak repot tapi kebagian serunya toh. Makanya SBY berbeda, dia muncul by design yang matang lewat pemilihan langsung.

Ketiga, ancaman tentang gerakan mahasiswa dan rakyat itu sudah tidak relevan lagi dengan iklim demokrasi sekarang. Hanya mimpi siang bolong yang bisa menghadirkan kekuatan mahasiswa. Bahkan tahun 98 pun banyak orang salah meletakkan sejarah itu sebagai kebangkitan mahasiswa menggulingkan Soeharto. Padahal bukan begitu. Itu memang jatuhnya Soeharto dan mahasiswa jadi alat saja, tapi memang jumlahnya besar sekali jadi secara visual kelihatan seperti sebuah fenomena gerakan mahasiswa yang digerakkan sebuah pemikiran kebangsaan. Buktinya tidak ada satu pun tokoh mahasiswa yang jadi legenda karena pemikirannya di tahun 98. Rama yang jadi tokoh terpopuler pun ternyata Cuma onggokan omong kosong saja dan sebentar lagi berangkat pula ke bui. Jadi tidak perlu khawatir mahasiswa kita ndak ada yang berkualitas pemikirannya sampai bisa menggerakkan massa jadi selalu menunggu ditungangi. Dan yang menunggangi tidak pernah pintar sehingga selalu ketahuan sehingga masyarakat tidak pernah percaya lagi sama kredibilitas demo mahasiswa jadi tenang saja boss. Kita mengontrol pikiran dan sentiment public sekarang, ndak ada yang bisa kalahkan itu. Sudahlah, rakyat tidak percaya lagi pada mahasiswa. Kita datangin mereka ke tv saja mereka sudah senang sekarang. jadi Bos, gerakan mahasiswa itu bukan lagi suatu hal yang menakutkan sekarang.

Lagipula, taruhlah media tidak lagi "bersahabat" , itu hanya segelintir. Media itu bisnis bung, owner nya ndak mungkin ambil risiko untuk lima tahun ke depan. bisa ndak makan mereka kan. Yang penting anda kan sudah dijelaskan dan ditunjukkan. selama skenario utama tetap terjaga, Cuma hitungan hari kok dan jadilah kita berangkat ke Bermuda kan haha ingat saja, skenario ini sudah lima kali dites dan tidak pernah gagal.. Dengan persiapan sudah lebih lama dan panjang, skenario sekarang jauh lebih sempurna.Ndak usah paniklah dengan semua isu yang berkembang ini, mereka lupa musuh utama adalah waktu, bukan kita. betul kan? Kalau orang ini memang bisa berbuat sesuatu kan sudah lama dia lakukan.

Ok boss, nda usah kuatir dengan FZ cs, mereka itu cuma angin sepoi-sepoi. Tiga hari lagi dan lima tahun ke depan kita selesaikan urusan dengan mereka satu persatu.

Trims AM



From: Muchlis Hasyim
To: mallarangeng@ yahoo.com
Sent: Saturday, July 4, 2009 8:52:49 AM
Subject: Fw: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan

Daeng, Saya baru terima email dari kawan kita ini. Terus terang saya agak tidak nyaman. Mungkin ini kembali menjadi pengingat Daeng. Isu kemarahan masy sulsel, DPT, dan penggadaian GBK, Din Samsudin yang semakin rame, saya khawatir bisa bergulir diluar kontrol kita. Perlu dicermati baik-baik dan diantisipasi semaksimal mungkin boss. Saya harap Daeng bisa memberikan pencerahan.

Trims MH



From: Ronggo Lawe
Date: Fri, 3 Jul 2009 18:50:45 -0700 (PDT)
To: Subject: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan

Kawan Muchlis, Banyak yang mulai tidak suka dengan permainan kita di media. Mereka mulai mengerti cara kita mengontrol berita di media. Itu sebabnya mereka terus mempermasalahkan Kasus DPT bermasalah, isu SARA celi, penghinaan orang Bugis oleh Andi, penjualan Gelora Bung Karno, dll. Saya lihat Fadli Zon cs terus bergerak untuk menguji kekuatan kita di media.. Sebab mereka tahu untuk isu-isu yang sangat sensitif itu, akan sangat janggal sekali jika media tidak memberitakannya dan itu di luar kontrol kita boss. Saya lebih khawatir lagi orang-orang seperti Fadli Zon ini bisa menggerakkan mahasiswa dan masyarakat. Jadi boss, permainan di media ini mulai berbahaya. Kayaknya kita harus mencari strategi baru.

[Kompasiana]

ADAPTED FROM www.begundalmilitia88.blogspot.com

BLOG NURDIN M TOP PALSU




Sebuah blog baru yang menyatakan milik kelompok Al Qo'idah Indonesia muncul di internet. Pada blog tersebut memberikan keterangan resmi kelompok Al Qo'idah Indonesia atas serangan bom di hotel JW Marriot dan Rizt Carlton.

Belum jelas siapa pembuat blog tersebut, apakah benar-benar dari Al Qo'idah Indonesia. Berikut pernyataan yang dituliskan dalam blog yang beralamat di http://mediaislam-bushro.blogspot.com/ tersebut.


MEDIA TANDZIM AL QO'IDAH INDONESIA
.1.

KETERANGAN RESMI TANDZIM AL QO'IDAH INDONESIA
ATAS AMALIYAT JIHADIYAH ISTISYHADIYAH
DI HOTEL JW. MARRIOT JAKARTA
اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.
أمَّا بعد
Ini adalah keterangan resmi dari Tandzim Al Qo'idah Indonesia untuk ummat Islam dengan Amaliyat Jihadiyah Istisyhadiyah di Hotel JW. MARRIOT Jakarta, pada hari Jum'at pagi, tanggal 17 juli 2009 M./24 Rojab 1430 H. yang dilakukan oleh salah satu ikhwah mujahidin terhadap "KADIN Amerika" di Hotel tersebut.

Sesungguhnya telah sempurna pelaksanaan Amaliyat Istisyhadiyah dengan karunia Allah dan karomah-Nya setelah melakukan survey yang serius dan pengintaian yang mendalam terhadap orang-orang kafir sebelumnya.

Dan sungguh benar firman Allah :

فَلَمۡ تَقۡتُلُوهُمۡ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمۡ‌ۚ وَمَا رَمَيۡتَ إِذۡ رَمَيۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ‌ۚ وَلِيُبۡلِىَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡهُ بَلَآءً حَسَنًا‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ۬ (سورة الأنفال : 17)..

"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui". (QS. Al Anfal : 17).

Ini juga sesuai dengan firman Allah Ta'ala :

قَـٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيڪُمۡ وَيُخۡزِهِمۡ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٍ۬ مُّؤۡمِنِينَ (سورة التوبة : 14).

"Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman". (QS. Attaubah : 14).

Agar ummat ini mengetahui bahwasanya Amerika, khususnya orang-orang yang yang berkumpul dalam majlis itu, mereka adalah para Pentolan Bisnisman dan Inteljen di dalam bagian ekonomi Amerika. Dan mereka mempunyai kepentingan yang besar dalam mengeruk harta negeri Indonesia dan pembiyaan tentara kafir (Amerika) yang memerangi Islam dan kaum muslimin. Dan kami akan menyampaikan kabar gembira kepada kalian wahai ummat Islam, bi idznillahi Ta'ala dengan mengeluarkan cuplikan-cuplikan film dari Amaliyat Istisyhadiyah ini insya Allah.

Dan kami beri nama Amaliyat Istisyhadiyah ini dengan : "SARIYAH DR. AZHARI".

Kami ber-Husnu Dhon kepada Allah bahwa Allah akan menolong kami dan menolong kaum muslimin dalam waktu dekat ini.

الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون

Amir Tandzim Al Qo'idah Indonesia

Abu Muawwidz Nur Din bin Muhammad Top

Hafidzohullah


KETERANGAN RESMI DARI TANDZIM AL QO'IDAH INDONESIA

ATAS AMALIYAT JIHADIYAH ISTISYHADIYAH

DI HOTEL RIZT CALRTON JAKARTA

اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.

أمَّا بعد

Ini adalah keterangan resmi dari Tandzim Al Qo'idah Indonesia untuk ummat Islam dengan Amaliyat Jihadiyah Istisyhadiyah di Hotel Rizt Calrton Jakarta, pada hari Jum'at pagi, tanggal 17 juli 2009 M./24 Rojab 1430 H. yang dilakukan oleh salah satu ikhwah mujahidin terhadap antek-antek Amerika yang berkunjung di Hotel tersebut.

Sesungguhnya Allah menganugerahkan kepada kami jalan untuk menyerang Hotel termegah yang dimiliki oleh Amerika di Ibukota Indonesia di Jakarta, yaitu Rizt Calrton. Yang mana penjagaan dan pengamanan di sana sungguh sangatlah ketat untuk dapat melakukan serangan seperti yang kami lakukan pada kali ini.


"Mereka membuat Makar dan Allah pun membuat Makar. Dan Allah itu Maha Pembuat Makar". (QS. Ali Imron : 54).

Adapun sasaran yang kami inginkan dari amaliyat ini adalah :

1. Sebagai Qishoh (pembalasan yang setimpal) atas perbuatan yang dilakukan oleh Amerika dan antek-anteknya terhadap saudara kami kaum muslimin dan mujahidin di penjuru dunia

2. Menghancurkan kekuatan mereka di negeri ini, yang mana mereka adalan pencuri dan perampok barang-barang berharga kaum muslimin di negeri ini

3. Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Terutama dari negeri Indonesia

4. Menjadi pelajaran buat ummat Islam akan hakikat Wala' (Loyalitas) dan Baro' (Permusuhan), terkhusus menghadapi datangnya Klub Bola MANCESTER UNITED (MU) ke Hotel tersebut. Para pemain itu terdiri dari para salibis. Maka tidak pantas ummat ini memberikan Wala'nya dan penghormatannya kepada musuh-musuh Allah ini

5. Amaliyat Istisyhadiyah ini sebagai penyejuk dan obat hati buat kaum muslimin yang terdholimi dan tersiksa di seluruh penjuru dunia

Yang terakhir ….. bahwasanya Amaliyat Jihadiyah ini akan menjadi pendorong semangat untuk ummat ini dan untuk menghidupkan kewajiban Jihad yang menjadi satu-satunya jalan untuk menegakkan Khilafah Rosyidah yang telah lalu, bi idznillah.

Dan kami beri nama Amaliyat Jihadiyah ini dengan : "SARIYAH JABIR"

الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون

Amir Tandzim Al Qo'idah Indonesia

Abu Mu'awwidz Nur Din bin Muhammad Top

Hafidzohullah



******

Catatan:

Pasca pembom-an di hotel marriott dan ritz carlton yang penuh misteri. Saat ini, muncul ke anehan lag. Yaitu pernyataan tanggung jawab (tulisan) 'resmi' dari tandzim al qoidatul jihad Indonesia. Blog tersebut bisa dilihat disini, dan disini. Beberapa ketidak wajaran tersebut adalah:

1. Menggunakan istilah TANDZIM AL QO'IDAH INDONESIA, sedangkan biasanya dalam pernyataan pernyataan resmi tandzim al qo'idatul jihad (al qaida) Timur Tengah menggunakan kata 'Tandzim Al Qoidatul Jihad' bukan Tandzim Al Qo'idah Indonesia. Dan penggunaan kata Indonesia biasanya diberikan kata fie (kata sambung di), yaitu Tandzim Al Qo'idatul Jihad fie (wilayah) Indonesia.

2. Tandzim Al Qo'idatul Jihad yang merupakan organisasi yang bermarkaz di Afghanistan dan tunduk terhadap kepemimpinan Imaroh Afghanistan. Imaroh Afghanistan mengeluarkan buku petunjuk (idari) untuk pejuangnya dibelahan dunia manapun. Baik untuk administratif maupun untuk perkara amaliyahnya (baca). Mencangkup 13 Bab dan 67 artikel. Amaliyah Bom Kuningan yang terjadi 17 Juli lalu bisa dibilang terlepas dari al Markaz at Tandzim Al Qoidatul Jihad. Serta tidak memperhatikan idari (aturan) yang telah dimiliki pejuang Tandzim Al Qo'idatul Jihad 'Alamiyyah (internasional).

3. Penggunaan tulisan (blog) akan sangat tidak meyakinkan daripada penggunaan video (rekaman) seperti yang sudah dilakukan pada saat bom bali 2. Dalam propaganda jihad internasional biasa digunakan pengakuan Video - Suara - Surat dengan tingkat yang semakin turun. Gw pribadi meyakini tidak lebih dari 10% blog tersebut aseli...

4. Beberapa intelijen meyakini Nurdin M. Top tidak lagi berada di Indonesia, namun berada di Moro (Filipina). Beberapa buronan lainnya pun sedang berada di sana seperti dulmatin, dll.

Jadi... menurut perhitungan gw hanya 85% lebih blog tersebut adalah fake (palsu), 10% aseli, dan 5% adalah digunakan untuk mencapai tujuan selain pengakuan tersebut (barangkali untuk menunjukkan argumentasi jihadnya). Wallahu a'lam...(semoga Allah melindungi mujahidin yg ikhlas)

http://revolusidamai.multiply.com/journal/item/495/Blog_Pengakuan_Nurdin_M._Top
Selasa, 28 Juli 2009

MENJADI PROFESOR





Salah satu hal yang paling saya suka ketika saya main ke jogja adalah pertemuan saya dengan keponakan sulung saya. Dan tugas yang pasti diberikan pada saya adalah “momong”. Di depannya saya awalnya yang 100% waras jadi 100% gila. Bagaimana tidak? ketika saya lontarkan pertanyaan yang harusnya dia jawab, malah saya yang harus menjawab. Mirip orang gila yang menimang bonekanya. Dan beberapa kali saya harus berlagak seperti ayam, kuda, burung, dan kucing untuk menghiburnya sekaligus memberikan pemahaman padanya tentang perbedaan hewan2 itu (meskipun pemerannya adalah satu tokoh)
Melihat detik2 perkembangannya membuat saya berkhayal, ”kalau sudah besar akan jadi apa dia?” yah pastinya masih akan jadi manusia tulen bukan jadi2an sperti saya. Disela2 momong, saya teringat sms kawan seperjuangan tentang analogi bayi professor dengan umatkebangkitan. Ketika itu saya mengiriminya sms terlebih dahulu, yang singkatnya berisi semangat untuk menegakkan kembali khilafah demi diterapkannya aturan Allah secara kaffah. Dan dia menjawab :” Seorang professor, dulunya adalah seorng bayi yang belajar merangkak, berjalan, baru kemudian berlari. Yang dulunya hanya bisa menangis, berbicara terbata bata, baru kemudian berbicara dengan lancer layaknya orang dewasa. Begitu juga umat ini, butuh proses. Tak bisa langsung menegakkan islam di bawah naungan daulah.”
Yah saya hanya bisa menanggapi dengan balik bertanya: “ Lantas apa bedanya preman dengan professor?”




Maksud saya adalah ketika kawan sy menerangkan bahwa seorang profesor dulunya adalah bayi yang belajar merangkak, berjlan kemudian berlari, mka bukankah preman dulunya juga belajar berjlan, merangkak, kemudian berlari?Dimana bedanya dari segi ini? TAK ADA. Lantas kenapa bayi yang satu menjadi profesor dan yang lain menjadi preman?
Pastilah sebelum menjadi profesor, sang bayi mendapat didikan dari orangtuanya. Pastilah dy memang diarahkan untuk menjadi seseorang yang berpendidikan, intelek dsb. Atau mungkin juga lingkunganlah yang mendidik dan mengarahkannya, hingga dalam diri sang bayi tertancap tekad untuk menjadi profesor.
Berbeda dengan preman yang kemungkinan besar ia tak mendapat didikan dari kedua orgtuanya. Atau mungkin pula dia menjadi korban kesalahan dalam proses mendidik dan korban lingkungan yang membuatnya bermasadepan sebagai seorang preman.
Maka, menganalogikan proses bayi menjadi profesor dengan proses kebangkitan umat menjadi tidak tepat. Karena bukankah semua bayi pun akan mengalami proses yang demikian itu? Lantas dengn proses yang sama, apakah semua bayi itu menjadi profesor saat dewasa? Tentu tidak. Masa depan bayi bergantung pula pada siapa yang mendidik dan apa yang dididikkan padanya. Kemudian muncul pertanyaan lagi dalam benak sy, apakah proses umat menuju kebangkitannya akan berjlan alami seperti proses si bayi yang dari tidak bisa bicara menjadi bisa bicara, yang dari merangkak kemudian bisa berjlan kemudian baru berlari? Bukankah pertumbuhan sang bayi pun akan tersendat bila tidak ada stimulus atau rangsangan dari pendidik ato pengasuhnya?Lantas proses umat menuju kebangkitan hakikinya pun akan terhambat jika kita sebagai org yg lbh dulu paham tidak mendidiknya dengan benar? Jadi, bukankah tugas kita bersama untuk mendidik umat dengan cara yang benar? Dengan metode yang benar? Dan dengan tsaqafah islam yang kaffah dan benar? Bukankan ketika hanya mendidik umat dengan memberikan pengetahuan islam yang hanya parsial itu sama saja dengan kita menganggap bahwa umat tdk pernah tumbuh alias jadi bayi selamanya?
Maka kawan, apakah salah ketika saya berkoar pada seluruh penduduk di penjuru dunia untuk menegakkan islam secara kaffah dibawah naungan khilafah? Jika seluruh aktivis berpikiran sama dengannya, maka bukankah tak ada satupun umat ini yang tahu bahwa kemenangan hakiki adalah dengan tegaknya aturan Allah secara kaffah dan bukan kemenangan suatu partai dalam parlemen?
Meskipun sy berkoar demikian, bukan lantas sy tak tahu step ap yg harus sy tempuh sbg permulaan dakwah di suatu tempat terkait materi yang di dakwahkan. Hal ini hanyalah masalah uslub alias cara. Sehingga, tak akan berbeda islam yang dipahami antara masyarakat kota dengan masyrakat desa. Sekali lagi kita bermain dengan ”cara berdakwah”. So, meskipun yang kita dakwahi adalah org2 miskin, kita tak punya hak untuk mengatakan ” Org kelaparan kok diajak ke seminar tentang khilafah, yo ora tekan!”
Jadi seperti apapun uslubnya yang penting haruslah bertujuan dan bertarget.



LOYALITAS


Sering kali salah pandangan terjadi dalam menilik kata loyalitas yang itu membuat kita terlalu dangkal memahaminya. Loyalitas=kesetiaan. Begitu definisi padatnya. Dan kini pertanyaannya adalah : Ditujukan pada siapakah loyalitas itu?
Pernah suatu ketika seorang kawan seorganisasi sekolah mengkritik sebuah kebijakan yang dibuat oleh sang ketua terkait biaya yang dikeluarkan untuh HUT Sekolah dinilai terlalu besar. Hanya mengkritik kawan. Atau apa ya cocoknya?Ah mempertanyakan. “Mengapa begitu?Mengapa ini begini?” Yah hanya karena mempertanyakan suatu hal yang telah disepakati forum, sang ketua langsung men cap nya tidak loyal, dan pernyataan itu diikuti para petinggi yang lain.
“Anda tak punya loyalitas yang tinggi pada organisasi”
Buat saya, tak masalah jika yang seperti ini terjadi pada kalangan intelektual setaraf saya yang waktu itu masih duduk di bangku SMA. Tapi bagaimana itu terjadi pada para aktivis dakwah diberbagai jamaah? Ketika seseorang yang mempertanyakan kebijakan jamaah dianggap tidak loyal, maka bukankah pandangan untuk siapa loyalitas dalam dakwah itu menjadi kabur?
Pun saya juga mempertanyakan, loyalitas yang dimiliki setiap pengemban dakwah tersebut ditujukan pada jamaah atau kah Allah?

Rabu, 01 Juli 2009

EFEK SAMPING

Kalau di tilik-tilik, pada kisaran tahun 1999-2003/2004 kondisi keimanan saya lumayan canggih. Saat itu merasa siap mati. Sy tidak khawatir, karena sy menganggap Allah benar-benar dekat, entah sebagai Sahabat untuk berbagi, atau sebagai Tuhan.

Dan diatas tahun itu, yang ada hanyalah radikalisme pemuda, radikalisme ideologi, keinginan untuk eksis dan berkoar-koar, berkobar. Sy masih ‘malu’ untuk mengakui bahwa di dalam diri sy terdapat keinginan untuk ‘terlihat’ become a famous idol of resistance, sementara hati kecil ini sy borgol, sy sudutkan.

“Manusia memang membutuhkan pengakuan,” ucap seseorang yang nafasnya bau Gudang Garam.




Perkataan kawan saya itu memang manis, terasa renyah, kelihatan bijak. Tapi renyah, manis, bijak dari sudut pandang apa? Jika tak menyebabkan datangnya rahmat dan pahala, untuk apa?

Kita mungkin pernah mendengar, bahwa ujian pertama orang-orang besar bukanlah diosol-osol, diadu-adu, tetapi disanjung-sanjung sampai tinggi sampai tak bisa bernafas lagi, karena jiwa ini terbang jauh menuju atmosfer. Karena jiwa ini melayang tinggi membuat sesak.

Tak baik, tak boleh. Sy bukan orang besar. Sy hanya orang kecil yang berusaha untuk membakar keinginan akan semerbaknya sebuah nama. Karenanya, kini, sy berusaha tak peduli dengan ‘eksibionisme’ secular mengenai manusia harus eksis secara total.

Dalam konsep sy yang sekarang: eksis itu tidak berharga apabila pencapaiannya diawali, dilalui oleh keinginan untuk menjadi eksis. Eksis itu harus muncul alamiah. Harus muncul dari valensi. Karena valensi (menjadi terkenal karena usaha, bakat, karena kecedasan, skill) itu merupakan efek samping. Bukan tujuan. Tapi efek samping.


BY AKANG Divan
www.divansemesta.blogspot.com

NB: makasih pak Divan dah ijinin an buta copas artikel ant
Senin, 15 Juni 2009

LAYAKKAH DEMOKRASI?????






Tahun 1783, istilah demokrasi gencar diteriakkan. Diawali dari kemuakan bangsa eropa pada sistem monarki dan doktrin gereja, membuat Pantai Timur Amerika malah menampung semua ide kemuakan itu. Raja diganti dengan presiden, tiada lagi kaum pendeta yang atas nama Tuhan menindas rakyat. Aktivitas ekonomi dinyatakan sebagai hak seluruh rakyat bukan dominasi bangsawan. Negara Amerika Serikat adalah milik seluruh rakyat. Negara demokrasi. Begitu mereka menyebutnya.
”Democracy is from the people, by the people and for the people” Begitulah kata Abraham Lincoln yang sampai sekarang jadi pedoman Negara-negara penganut demokrasi.
“Negara Demokrasi.”
“Negara Demokrasi.”
Demokrasi…Demokrasi…Seperti sebuah kata yang mendatangkan hujan emas, Demokrasi terus bergaung di berbagai belahan dunia. Tak heran jika Indonesia pun turut serta dalam penyebar luasan “racun dunia” ini. Reformasi Indonesia tahun 1998 menggulingkan kerajaan feodal Soeharto. Rakyat menghendaki pemerintahan totaliter diganti dengan pemerintahan demokratis.
Tapi bolehlah kita tengok kondisi Negara-negara penganut demokrasi, dimulai dari sang perintis dan beberapa negara lainnya. Lalu kita sama-sama menyimpulkan pantaskah demokrasi dianut? Dan bisakah lewat demokrsai perjuangan menegakkan islam berhasil?
AMERIKA. Negara yang jadi kiblat Negara-negara di dunia sebagai Negara ideal. Pusat kemajuan teknologi, science, dan pusat perpolitikan dunia ada di sini. Bahkan markas besar PBB ada di negara super power ini. Tapi pada kenyataannya, kedaulatan rakyat di AS yang begitu diagungkan, hanyalah kedaulatan ”konglomerat”. Jabatan-jabatan di pemerintahan hanya diduduki para orang kaya atau orang yang mendapat dukungan dari para konglomerat yang sanggup membiayai kampanye ”penjualan diri”.(Noreena Hertz, The Silent Take Over Global Capitalism and The death of Democracy) Penipuan terhadap publik lewat para pejabat jadi santapan tiap hari. Dilihat dari segi moralitas, sebagai negara demokrasi Amerika Serikat tak bisa dibanggakan. 93% berpendapat bahwa tak seorang pun punya pegangan moral dalam hidup. 84% bersedia menentang ajaran agamanya, 91% mengatakan bahwa berbohong telah menjadi kebiasaan hidup mereka. 39% menyatakan pernah melakukan kejahatan yang berbeda dalam hidup mereka.(Patterson dan Kim, The day America Told the Truth)
Beralih ke negara lain. Di Swedia perceraian dan ortu tunggal mencapai lebih 50%. Bentrokan antar etnis dan rasialisme cukup terasa di Prancis dan Italia. Homoseks bahkan dilegalkan di Belanda. Orang-orang Jompo diserahkan oleh anaknya menjadi pemandangan yanng lumrahdi Eropa.(Husain Matla, Demokrasi Tersandera? Menyingkap misteri 2 ¼ abad )
Memang tak bisa secepat ini menyimpulkan kelayakan diterapkannya demokrasi. Tapi setidaknya dari kenyataan di atas sedikit kesimpulan bahwasanya tiada hal yang patut dibanggakan dari para negara penganut demokrasi. (Catatan: Ini belum semua aspek yang dibahas)
Jika kita mau berpikir lebih lanjut, pasti tak kan setuju jika demokrasi jadi pemahaman bangsa kita apalagi umat islam. Kalau sang perintis saja tak bisa dijadikan panutan dalam bidang ipoleksosbud nya, kenapa kita harus mengadopsi paham itu?
Apalagi kalau kita lihat imbasnya buat negeri kaum muslimin. Atas nama demokrasi, Amerika dan Israel membombardir Irak karena dugaan kepemilikan senjata pemusnah masal. Padahal ketika kedubes AS di jakarta mengundang Ismail Yusanto untuk melakukan pendekatan, terjadi dialog pendek. Sebuah pertanyaan dilontarkan oleh Ismail Yusanto. ”Mana senjata pemusnah masalnya?” merasa dituduh berbohong John Rath balik bertanya, ”Apakah anda menuduh kami berbohong?”
Singkat cerita, karena desakan dari pak Ismail pak John menyatakan bahwa memang kemungkinan tidak ada senjata pemusnah masal di Irak.(Al-Wa’ie, september 2008) Ini membuktikan bahwasanya Amerika hanya ingin menguasai minyak Irak dengan berlindung di balik jargon demokrasi.
Dengan demokrasi, Amerika semakin memperkuat pengaruhnya di negeri-negeri kaum muslim. Contoh paling dekat adalah di negeri kita tercinta ini saja. Dengan dalih demokrasi, berbagai kebijakan pemerintah lebih memihak pasar yang dikuasai para pemilik modal daripada memihak pada kepentingan rakyat. Misalnya dalam kasus kenaikan BBM yang alasannya karena standarisasi harga minyak dunia, juga untuk menghapus subsidi barang sekaligus mengalihkannya ke subsidi orang. Padahal yang dilakukan adalah untuk mengundang masuknya investor asing dalam sektor ini.
Dalam buku, Apakah Demokrasi itu? Yang disebarluaskan oleh kedubes AS untuk Indonesia, di halaman terakhir ditulis bahwa,”Demokrasi sendiri tidak menjamin apa-apa. Sebaliknya, ia menawarkan kesempatan untuk berhasil serta resiko kegagalan.” Dengan demokrasi yang tidak menjanjikan apa-apa, jelas keliru kalau kesejahteraan yang menjadi dambaan rakyat disandarkan pada proses demokrasi.
Lalu bagaimana dengan perjuangan penegakkan Islam dengan jalan demokrasi?
Seperti telah kita ketahui bersama, salah satu ciri demokrasi pada suatu negara adalah adanya Pemilu untuk menentukan konglomerat mana lagi yang akan berkuasa. Seperti Pilkada di seluruh daerah di Indonesia yang baru saja diadakan. Tapi, Pemilu yang diharapkan mendatangkan sebuah perubahan malah mendatangkan bencana baru. Terjadi kerusuhan hampir di setiap wilayah yang menyelenggarakan pemilu. Masa dari pendukung calon pejabat yang tidak menang dalam pemilu berunjuk rasa, seperti pada kasus Helmy Yahya dan pasangannya.
Sudah diketahui umum, partisipasi dalam demokrasi khususnya pemilu membutuhkan dana yang besar. Para calon pejabat yang mendapat dukungan dari para konglomerat meski ia tak punya integritas dan bahkan masih berstatus tersangka korupsi pun bisa mencalonkan diri lagi sebagai calon bupati, seperti yang terjadi di Magetan. Bahkan hingga kini masih terjadi perseilihan, karena salah satu mantan pasangan cabup-cawabup yang tidak terpilih mengajukan PK(Peninjauan Kembali) ke MA. Yang saya ketahui dari salah satu mantan pasangan cabup-cawabup Magetan ini menghabiskan dana lebih dari 19 M. Masyaallah. Saya jadi mikir, kalau dibelikan beras, dapat berapa ton ya? kalau rata-rata per cabup-cawabup dan cagub-cawabup mengeluarkan dana kampanye 20 M (bisa lebih), klo dikumpulin semua, pendidikan kita bisa gratis.(butuh dana 74,9 T untuk gratis)
Tapi anehnya, banyak dari kita yang dengan dalih memperjuangkan Islam, menghalalkan segala cara. Bahkan berjuang lewat paham laknat ini. Bahkan ada partai islam yang berkoalisi dengn partai non islam ntuk meraih kekuasaan di Jayapura. Bolehkah ini? Jelas tidak. Ada lagi yang berjuang lewat parlemen. Menjadi pejabat mungkin begitu istilahnya. Ya, ada ada saja. Saya jadi teringat cerita teman saya beberapa tahun ayng lalu. Dia menghadiri sebuah acara dialog antar partai di sebuah masjid megah sebuah PT di Yogya,hadirin serta merta tertawa ketika seorang petinggi partai islam yang mengikuti dialog tersebut mengatakan, ”Memasuki sistem yang tidak sesuai dengan islam itu memang harom, tapi demi menegakkan islam, harom-harom dikit gak papa lah.....” GUBRAK!
Bukankah ini sebuah pelecehan terhadap sang khalik?
Demokrasi membuat yang hitam jadi abu-abu. Yang biru jadi ungu. Yang islam jadi sedikit kafir. Bahkan di salah satu program debat di stasiun TV swasta, salah satu partai yang menyebut diri mereka partai islam lewat jubirnya mengatakan bahwa mereka hanya menjadikan islam sebagai substansi dan tidak memperjuangkan islam sebagai sebuah sistem pemerintahan. Apa namanya ini kalau bukan abu-abu? Apakah bisa kita benarkan dengan dalih agar diterima masyarakat tak masalah kita menjadi abu-abu lalu sedikit demi sedikit kita menghitam? Pasti anda setuju untuk mengatakan tidak. Buktinya, para pejuang islam yang sekarang duduk di kursi goyang pemerintahan tak bisa berkutik apa-apa saat RUU APP diganti dengan RUU PP. Karena apa? Ya, karena negara kita negara demokrasi bukan negara agama.
Apa kita masih akan berjuang lewat demokrasi dengan anak emasnya PEMILU? Pastinya kita semua tak mau punya andil dalam kehancuran dan dosa. Mungkin beberapa dari kita terus berusaha untuk memenangkan partai kita dalam pemilu, baru setelah menang kita ubah sistem yang ada. Bukankah ini mustahil? PEMILU lahir dari paham demokrasi yang lahir dari ideologi komunis, maka otomatis sebuah sistem yang lahir dari sebuah ideologi pastilah sistem itu akan semakin memperkokoh ideologi tersebut. Seperti sistem pendidikan kita yang kapitalistik bertujuan memperkokoh ideologi kapitalis-sekuler yang semakin bercokol. Jadi tak mungkin sang induk membiarkan sang anak membunuhnya. Dalam artian, tak mungkin ideologi kapitalis membiarkan ideologi islam bangkit lewat anaknya, DEMOKRASI. Jadi, sudah kita dapatkan jawabannya. Tak layak demokrasi kita jadikan sarana meraih kebangkitan islam yang hakiki. Wallahu’alam bishawab.
Jumat, 05 Juni 2009

Ur friends, Si pencari Tuhan


“Kami percaya akan 1 Allah, Bapa Yang Maha Kuasa, Pencipta hal-hal yang kelihatan dan tak kelihatan. Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Sang sabda dari Allah, Terang dari terang, Hidup dari hidup. Putra Allah Yang Tunggal Yang Pertama lahir dari semua ciptaan, Dilahirkan dari Bapa, sebelum segala abad…”

Syahadat Kaesarea. Ku ucapkan kalimat panjang ini di hadapan dua pendeta sebagai saksi kembalinya aku pada agamaku, Kristen katolik, setelah sekitar 4 tahun aku hidup tak berTuhan. Dalam waktu 4 tahun, Yesus begitu pemurah. Ia bahkan tak menghukumku meski aku anggap Dia tak pernah ada.
”Yesus penuh kasih”
Itulah yang diucapkan Romo Martin setelah aku menceritakan semua kisah panjangku saat berada di dunia kampus yang membuatku jadi penyorak arena bebas Tuhan.
”Sudah fitrahnya, manusia itu berTuhan anakku.”
Fitrah? Ya, memang fitrahnya manusia mensakralkan sesuatu yang lebih kuat darinya.
Akupun pulang, setelah puas membuat pengakuan dosa pada Romo. Aku suci kembalikah? Semudah itu kah? Lalu bagaimana dengan Tuhan2 yang lain? Sepemurah Yesus kah? Yang rela disalib demi menebus dosa umatnya?

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

”Argggggghhhhhhhhhhhhhhhh...............................”

Kuinjak pedal rem, hingga roda mobil berhenti berputar. Tuhan memberkatiku. Aku selamat dari kecelakaan ini. Tuhan memang penuh kasih, tapi......
”Hey keluar dari mobil!!!”
Kulihat dalam samar, manusia-manusia mengerumuniku. Menggedor-gedor pintu mobilku. Dan aku keluar. Dan dengan sekejap mereka sperti setan yang dikirim Yesus untuk menyerangku.
”Apa ini setan, yang Kau kirim? Untuk menghukum ku selama 4 th?”
”Bukan”

Dalam hati terus bergejolak. Tak terasa, seluruh tubuh terasa di pukul palu godam. Sakit. Babak belur. Bonyok. Benjo. Dan menangis,tapi tangisku ini bukan karena menahan sakit fisik yang teramat. Karena hal lain.
Aku tersungkur. Darahku mengucur. Dan saat itulah, saat q mencoba bangun, mendongakkan kepala, terlihat seorang lelaki dengan tubuh berlumuran darah, sperti tidur di atas jalan.
”Aku menabrak orang. Atau Tuhan yg menabraknya?”
Belum tegak aku berdiri, 2 org bertubuh kekar menarik tbuhq. Menaikkanku dalam sebuah mobil, dan membawaku entah kmn. Aku masih setengah sadar, saat tiba2 aku seperti didudukkan di kursi di sebuah ruangan di kantor polisi.
”Apakah...............................................?”
”Kenapa saudara................................?”
”Bagaimana bisa................................?”
”Berapa kecepatan..........................?”

Pertanyaan itu berlalu saja, tanpa ada satu katapun yng terucap dari mulutku sbg jawabannya. Aku masih shock. Tapi bukan krn kecelakaan yg br pertama kali q alami ini.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Aku berdiri di sebuah ruangan yg semuanya serba putih. Memandang sesosok lelaki muda bertubuh kekar seperti polisi malam itu sedang terbaring tak berdaya.
”Bagaimana keadaanmu?”
”Baik”
”Untung kau seorang preman, yg tak begitu diperhatikan oleh para polisi itu.”
”Jadi, bersyukurkan kau karena tak ditahan setelah menabrakku?”
”Bersyukur? Pada siapa?”

Entah aku yang terlalu melebih2kan, atau salah memberi gambaran, tapi senyumnya begitu renyah. Meski sesama lelaki, aku terpesona.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

”Kuantar kau pulang hari ini.”
Aku memaksakan jasa pada laki2 yang kini tengah mengemasi barangnya. Tak terasa aku punya sahabat baru. Laki2 jarang bisa akrab satu sama lain, tapi tak seperti pasangan homoseksual, ini persahabatan, sisi lugu dari setiap lelaki. Ini mgkin sperti diberi sebuah anugrah. Diberi?Oleh Tuhankah?
”Tak takut mengantar preman pulang?"
”Preman juga punya perasaan.”
Rumahnya amat jauh ternyata. Tawangmangu, sekitar 1,5 jam dari Solo, domisiliku skrg.
”Pegunungan yang indah”
Gumamku dalam hati. Aku bukanlah tipe petualang seperti sahabt baruku ini, karena petualangan itu tlh kuwakilkan pada akalku. Kubebaskan ia berpetualang mencari tempat terakhir ia berlabuh dan menyandarkan segala doktrin kehidupan.
”Kita mampir masid dulu.”
Zein, namanya. Ia melongo, diam dan paham bahwa kini q tlah berkonversi.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

”Preman ternyata takut pada org tua juga ya?”
Aku menggodanya. Menggodanya yang seketika itu manggut2 ketika diutus oleh ibunya untuk mencangkul di kebun.
”Bukan takut. Tapi patuh. Taat begitu.”
Zein, tak punya rasa humor sedikitpun.
Siang semakin panas. Kami istirahat sejenak, bersandar di bawah pohon talok yang rindang.
”Dulu, aku sering memanjat pohon ini. Memetik buahnya, lalu kumakan”

Ia memulai pembicaraan. Terhenti sejenak, kemudian meneruskan lagi.
”Karena aku sgt menyukainya.”
Berhenti lagi. 1 detik, 2 deti, 3 detik...............67 detik. Dan tanpa ku minta ia lanjutkan lagi.
”Bukankah ini urusan perasaan?”
Aku mengangguk2. Kemudian, ia bertanya lagi.
”Lantas?Apa alasanmu pindah agama?”
Aku memandangnya. Nice prologue.
”Aku seorang Atheis. Dulu, 4 tahun lalu. Kemudian, q putuskan untuk memeluk agamaku lagi.”
”Kenapa?”

Tanyanya datar.
”Ibuku sakit. Aku kalut. Kemudian, aku mencoba mengumpulkan pecahan2 keyakinanku yang berserakan. Lalu, berdoa pada Yesus untuk menyembuhkannya.”
Jelasku.
”Lantas kenapa berkonversi lagi?”
Ku memandangnya sekilas. At glanced. Dan aku melanjutkan.
”Hari itu, sesaat sebelum menabrakmu, aku mengucapkan syahadat Kaesarea sebagai tanda kembalinya aku pada agamaku dihadapan 2 pendeta keluargaku.”
Aku berhenti sejenak. Mengambil nafas, melihat ke dpn dgn batas bidang imajiner. Mencoba merangkai kata dalam otak tuk ku utarakan sbg penjelasn.
”Lalu, q plg dari gereja, setelah sblumny berdoa pada Yesus agr memberiku keselamatan selama perjalanan. Tapi faktanya, aku menabrakmu. Aku berdoa, saat mobilku mendadak berhenti karena reflek q mengerem, agar tak ada yg terluka. tapi, huhhhhh......huf......kau terluka.”
Sedikit emosi q bercerita. Ku menengok ke arahnya, dan kulihat ia tersenyum sebentar. Kemudian berdiri menghadap hamparan ladang yg baru ia cangkuli. Hening tuk sejenak. Dan kembali mulutnya bergerak, pita suaranya bergetar.
”Besok, kau pulanglah.”
”Pulang? kau mengusirku?”
”Tidak. Hanya saja, di sini tdk ada jalan raya yang cukup ramai.”
”Apa maksudmu, Zein?”
”Solo. Ah banyak jalan raya yang amat ramai. Jalan di dpn RS Moewardi, Sekar Pace. Ya, kau yang lebih tahu.”

”Lalu?”
”Kau berdirilah di tengah jalan itu. atau tiba2 nyelonong ke tengh jalan. Kemudian, berdoalah pada Tuhanmu yg skrg agar kau diberi keselamatan. Minta Dia menyelamatkanmu saat akan ada truk yang menabrakmu.”

Akal dan perasaanku tak bisa menerima apa yang bru sj ia katakan. I’m insulted. Apakah dy memandang kata Tuhan dgn amat plural? Bukankah Tuhanku yg skrg juga Tuhannya? Lalu kenapa sepertinya dy menyuruhku untuk meragukan adanya Allah?
Ah, akhirnya aku pergi meninggalkannya dan kembali ke kota domisiliku skrg.
Tak habis pikir. Pencarian ini.....Ah apa bnr2 ku tlah menemukan t4 terkahir untuk pelabuhan akalku? mung..............
”Arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”
Sebuah truk besar melaju cepat dari arah berlawanan di tikungan. Seperti truk pencari tumbal. Aku banting stir ke kiri. Dan hasilnya? Aku masuk jurang. Mobilku tak berbentuk. Aku terjepit diantara kursi dan kemudi. Hawa dingin langsung menyeruak di dlm tbuhku. Penglihatanku mulai remang, tak jelas dan kemudian gelap gulita. Namun, aku mencoba berontak. Terus berusaha tuk keluar dar mobil. Apa hasilnya? nihil. Kakiku terjepit.
”Ya Allah, tolonglah hamba. bkankah kau Maha Penolong?”
Aku coba sekali lg dan gagal, 1 kali, 2 kali, 3 kali, 5 kali, aku coba dan ttp gagal. Aku diam, mengumpulkan tenaga.
”Bukankah Kau sendiri yang berjanji akan mengabulkan setiap doa hambaMu? Bukankah itu yang tertulis dalam wahyuMu?Tapi....”

Ternyata Tuhan yang aku sembah sekarang memang tidak ada. Apakah ini perkataan Zein? Kalau begitu.....
” Tuhan Yesus, Bapa di surga, tolonglah aku.”
1,2,3,4,,,10 kali, aku mencoba dan masih nihil. Gagal. Kakiku tak amu digerakkan sedikitpun, bahkan aku merasakan seperti tak punya kaki. Aku shocked. Shocked seperti kecelakaan lalu. Tapi bukan karena kecelakaan ini. Aku shocked karena 2 Tuhan tak bisa menolongku. Mungkin bnr jika aku hidup tak BerTuhan. Persetan dengan fitrah manusia yang punya naluri menuhankan.
”PERSETAAAAAAAAAAAAAAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Toh 2 Tuhanpun tak sanggup mengeluarkanku dari mobil ini. Toh aku pun tak bisa melihat keberadaan mereka di hadapanku sekarang.
”huh.....huh...huh.....”
Aku tak kuat lagi. Mataku benar2 gelap. Tubuhku, setiap selnya tak bisa aku perintah untuk bergerak. Aku.... aku......
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

”Bagaimana keadaannya, Dok?”
Mataku mengeriyip. Samar2 mendengar suara yang sungguh aku kenal. Tak asing lagi bagiku. Zein.
”Dia baik2 saja. tetapi, kemungkinan besar ia tak kan bisa berjalan lagi. Tulang kakinya patah, menembus dagingnya."
Mendengarnya membuat mataku terbuka lebar.Zein, dan lelaki yang dipanggilnya Dokter itu menyadari bahwa aku telah siuman dan mndengar perbincangan mereka. Tanpa diminta, Dokter itu meninggalkan kami berdua.
”Apakah kau benar2...................?”
”Tidak. Tidak sengaja.”
”Syukurlah, Aku kira.....”
”Ketidaksengajaan yang membuatku berpikir untuk menjadi atheis lagi”

Zein, menatapku tajam. Tak terima atas ucapanku.
”Aku berdoa agar bisa selmat dari kecelakaan maut itu. Aku berdoa agar bisa keluar dari mobilku yang ringsek. Tapi 2 Tuhan pun tak bisa menolongku.”
Kami berdua sama2 menghela nafas. Zein, memalingkan mukanya terhadapku.
”Itu karena Kau tak 100 persen percaya. Bahkan kau tak punya iman. Dan mungkin jg begitu terhadap Tuhan lamamu.”
”Lalu kau suruh aku bagaimana, Zein? Kembali lagi menyembah Tuhan yang sama sekali tak menampakkan wujudnya atau bahkan yg tak memberiku sdkit pertolongan saat itu?”
”Kau ingat saat ku bilang aku suka makan talok??”

Aku mengangguk.
”Kau ingat saat ku blg itu urusan perasaan?”
Aku mengangguk untuk kedua kalinya.
”Kau, selama ini, hanya mempertualangkan perasaanmu yang hanya mendatangkan prasangka dan kerelativan ketika menilik suatu kebenaran. Seperti rasa enak yang kurasakan ketika makan talok itu. relativ bg org lain. Itulah perasaan yang tak disertai akal.”
”Kebenaran? kebenaran yang mana Zein?”
”Yang ada sekarang. bahwa kau seorang pengecut yang tak berani keluar dari frame kotakmu itu, frame pemikiran ilmiahmu, hingga kau melangkahi otoritas Tuhan.”
”Otoritas apa?”

”Manusia adalah manusia.makhluk yg diciptakan. Dy tak bisa menyuruh Tuhannya. Seperti yang kau lakukan.”

”Lalu Tuhan yang mana yang kau minta untuk aku sembah?”
”Gunakan akal mu, yang bisa membedakanmu dari kucing jalanan.”
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Pembicaraan kami berakhir, dengan keluarnya Zein dari ruang ICU saat itu. Zein, aku tak bisa menemukanmu hingga saat ini. Andai Kau tahu bahwa aku tlah menunggu di pintu lbh dr 6 thun? Maaf kawan, aku hanya bisa meninggalkan surat ini untukmu.

To : Zein

Assalaamu’alaikum Wr.Wb
Aku, kawan. Ehmmmmmmm................................
Aku tak mungkin tak berTuhan jika yang kulihat disekelilingku semuanya adalah bukti KuasaNya. Air mengalir, Ladang yang subur, dataran pegunungan, Matahari yang tak bernah terbenam di timur, Bintang yang selalu berkedip, Bulan yang terlihat berubah bentuknya meski pada kenytaannya tdk demikian, siang dan malam, dan Kau manusia yg diciptakannya tuk jadi sahabtku. Semua ini lebih dari cukup.
Aku takkan mungkin BerTuhan pada Tuhan yang baru lahir setelah 2000 tahun bumi diciptakan, aku tak mungkin berTuhan pada Tuhan yang bahkan dalam kitab suci agama itu Dia tak pernah menyebut dirinya Tuhan yang harus disembah, Aku tak mungkin berTuhan pada Tuhan khayalan manusia. Aku tak mungkin beragama pada agama yang kebenaran kitab sucinya dipertanyakan, aku tak kan mgkin beragama pada agama yang kitab sucinya ditulis berdasarkan inspirasi Tuhan. Aku tak mungkin percaya pada agama yang menuduh nabi-nabinya adalah para pezina.
Aku tak mungkin merubah dienku yng tlah kupegang sejak 6 tahun lalu, tahun yang sama kau menghilang.


Ur friends.

Si pencari Tuhan

































NB:

N_u ,,,,, this for you... I'm waiting for you back.....





perang ideologi tak kan pernah berakhir!!!

Kamis, 04 Juni 2009

KEBENARAN ITU MUTLAK




Copysoft chatting saya dengan kawan karib saya yang sedang merantau(Doc: 20-05-09)
Cat: N_u : Kawan saya
  Sy : Saya


N_u : “Hey Honey, gimana kabarnya?”
Sy    : “Tumben ol?”
N_u : “:-)”
Sy    : “:-?”
N_u : “Sibuk apa skrg?”
Sy    : “ Nganggur”
N_u : “Gak skul?”
Sy    : “Nunggu pengumuman, lulus ato ga’!
N_u : “Pasti lulus.”
N_u : “Ga’ mgkin kwanq ini Cm berdiam diri skrg. Ngejob pa?sbuk ngpain?
Sy    : “Gak ngejob. Lg mencari sesuatu.”

        Pada waktu itu, kira2 sekitar 5 menit kemudian dy baru menjawab.
N_u : “Mencari kebenaran?”
N_u : “Ga’ berubah!”

       Padahal waktu itu saya sednag sibuk mencari pena saya yang jatuh. 

Sy    : “Apx?”
N_u : “Kamu.”
N_u : “That’s relative, honey.”
Sy    : “Apa?”
N_u : “Truth”
 
      Jujur kawan, sebnrnya saya bingung, karena percakapan kami g nyambung. Tapi karena kangen lama tak mengobrol, ya saya ikuti saja alur yang dy buat.

Sy     : “Kok?”
N_u : “Bisa mendeskripsikan gajah?”
Sy    : “Besar”
N_u : “Benar”
Sy    : “Berbelalai panjang”
N_u : “Benar”
Sy    : “Punya 4 kaki yang besar”
N_u : “Benar”

 
 Cut..................
       Terlalu banyak ciri2 yang sy sampaikan saat itu.

N_u : “All are right.”
Sy    : “Lalu?”
N_u : “Ketika org buta kau suruh mendeskripsikan gajah dengan meraba tubuhnya, mereka                      akan bilang, gajah itu panjang(karena memegang belalainya)
N_u : “Gajah itu tubuhnya keras dan berujung lancip(karena memegang gadingnya)
N_u : “Gajah itu sebesar batang pisang(karena memegang salah satu kakinya)”


Cut.............  
        Terlalu banyak yang kawan karib saya sebutkan.

N_u : “Apa mereka salah?”

       Tiba2 mag saya kambuh. Sakit dan nyeri sekali. Sy pun mta ijin padanya untuk membeli obat mag dulu. Kira2 setelah 15 menit kemudian, sy kembali.

Sy    : BUZZ
N_u : “Udah diminum obatnya? Udah makan belum td? Udah baikan? Apa wkt q suruh dulu,                  kamu udah periksa ke dokter buat ngecek parah ato tdkkah mag mu                                                  itu?.........................Cut
Sy    : “1. Udah, 2. Blm, 3. Dikit, 4. Udah n ga’ parah, ...............5-11.”
N_u : “Gmn td?”

         Kemudian sy mengcopy message nya sbelum ini.

Sy    : “Ketika org buta kau suruh.........................”
Sy    : “Buta sejak lahir atau tdk kah?”
N_u : “Bisa keduanya.”
Sy    : “Kalau buta tidak sejak lahir, maka kmungkinan besarnya dia sudah pernah melihat                        gajah.”
Sy    : “Kalau buta sejak lahir, q sebagai org yang menyuruh lah yang bodoh.”
N_u : “Kalau buta sejak lahir.........”
N_u : “Kok?”
Sy    : “Namanya aja org ga’ tahu, mau cari tau masa’ qt sesatkan. Q akui, pendapat mereka ga’              ada yang salah, tapi masih perlu pembenaran. Ibaratnya, kalau soal dalil, kita tunjukkan               dalil yang lebih kuat.”
N_u : “Hmmm....mmmmmmmm”

         Tanpa ijin, sy meniggalkan chatting beberapa saat untuk pergi ke kamar mandi.

N_u : BUZZ
N_u : BUZZ
Sy    : “Mf2, habis menunaikan hajat.”
Sy    : “Tentu tdk salah apa yang mereka katakan. Tapi, bukankah kita bisa memberikan                          pengarahan pada mereka agar mendapat suatu info yang tak sepotong2 ttg gajah?
N_u : “:-)?”
Sy    : “Bukankah jika dibiarkan saja, jadinya ada keslahpahaman ttg gajah?”
Sy    : “Kalau sdh th begini dan qt membiarkan, bukankah berarti qt yg bodoh ato bhkn kita yg                 buta?”
N_u : “Kalau qt tak menyuruh org buta itu?”
Sy    : “Sama saja. Q tak pernah menyuruhmu untuk menerapkan teori relatifitas ini terhadap                kebenaran. Tapi ketika kau menerapkannya, dan trnyata trjdi keslhpahaman, q mencoba             meluruskannya.”
N_u : “Locked”
Sy    : “Dan hal ini tak bisa dijadikan sandaran untuk mengatakn bhwa kebenaran itu relatif                      hanya karena perbedaan persepsi org, pa lg persepsi org buta. Karena bukankah semua                yang mereka katakan merupakan suatu kebenaran yang tak keluar dr konteks kebenaran            ttg gajah itu sendiri?Lalu bagian mana yg relatif?”
N_u : “tapi, bukankah tidak ada klaim kebenaran tunggal yg dpt ditarik dr pendpt mereka?”
Sy    : “memang tidak,, karena apa yg mereka utarakan msh berupa sesuatu yg salah jika                          digunakan untuk mendeskripsikan kebenaran ttg gajah itu.”
Sy    : “Sy, sbgai org yg tidak buta, ketika bertanya pada org buta ttg definisi gajah, dan mereka               menjawab dgn salah satu definisi di atas, mka ketika definisi itu digunakan unt uk                           mendeskripsikan gajah seutuhnya, maka jelas sy salahkan.Bukankah memg harus                          begitu?”

        Tidak ada jawaban sampai sekitar 7 menit an. 
N_u : BUZZ
N_u : BUZZ
N_u : “ Ada 10 orang, sedang berdiri dipinggir sungai.”
N_u : “Memakai kacamata dengan warna yang berbeda2 dan ada yg tdk berkacamata..Ada                     ungu, kuning, hijau, hitam, dkk. “
N_u : “Maka akan berbeda jawaban mereka satu sama lain, antara yang tak berkacamata,                      berkacamata merah, hijau, biru dkk.”
N_u : “Ada yang bilang warnanya keungu-unguan, kekuning2an, kehjau-hijauan,                                        kebiru2an,dkk.”
N_u : “Lalu, dari jawaban mereka, mana yang salah? Tak ada kan?”
N_u : “Karena memang mereka menggunakan kacamata dengn warna yang berbeda2. Semua                yang mereka katakan itu benar dan tidak ada yang bisa menyalahkan salh satunya.”
N_u : “Benarkan?”
Sy    : “Sebentar,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,”
Sy    : “Ya ya ya, kawan. Saya benarkan bahwa akan berbeda jawaban antara org yang bermata              telanjang, berkacamata hijau, biru merah, dkk.”
Sy    : “Tapi, sy tdk akan membenarkan jawaban mereka yang berkacamata warna warni itu.”
N_u : “??”
Sy    : “Ibaratnya, org yang berkacamata adalah org yang dengan sengaja menutupi proses                       penginderaan secara alami. Jelas sy tdk bisa membenarkan.”
Sy    : “Karena dkatakan sbuah kebenaran jika ada kesesuaian antara fakta yang kita indera                      dengan proses penginderaan kita.”
Sy    : “Jika kita mengikuti pendapat mereka yang berkacamata, jelas itu bertentangan dengan                fakta warna air sungai itu sendiri. Apakah ini disebut sbg kebenaran?”
Sy    : “Jelas tidk.”
Sy    : “Dan mengapa kita harus menggunakan kacamata untuk melihat warna air sungai, jika                   dengan mata yang tanpa kacamata saja kita bisa melihat kebenaran warna air sungai                    tanpa bisa digugat oleh pendapat mereka yang berkacamata?”
Sy    : “lalu, kenapa tidk kita tanggalkan kacamata yang malah menyesatkan kita dengan                           mengubah warna air sungai itu slma proses penginderaan?”
Sy    : “Bagaimana?”


      Tak ada jawaban selama setengah jam....Entah ini yang dinamakn debat kusir atau apalah namanya, karena tiada pihak yang mengakui kuatnya hujjah pendapat dr kawan diskusi. Tapi sy kenal kawan sy ini, tak ada istilah debat kusir baginya. Apapun yg ia lakukan saat itu, sy yakin kami sama2 memikirkan diskusi kali ini.,,,akhirnya sy yang berinisiatif pamitan terlebih dahulu, bukan karena apa2, tapi saya tak punya cukup uang tuk byr warnet kalau lebih lama lagi.



NB:
Kbnaran itu nilainya mutlak, kawan. Tdk akan pernah q benrkan implementasi teori relativitas thdp kebenaran.
N_u,,,,sampai jumpa di suatu t4 di sbuah area yang pernah menjadi angan kta bersama untuk bertemu disana......
Aku menunggumu di jalan yang kini q lalui, kawan........................


perang ideologi tak kan pernah berakhir!!!

Sabtu, 30 Mei 2009

IBU DAN ANAK


 “Oek...........oek..........oek”
Seorang bayi mungil lahir dari seorang wanita yamg kini tengah mengatur nafasnya yang tersengal. Bayi itu kecil, Mungil dan rentan. Fragile. 

 Hari demi hari dilalui sang ibu dengan diiringi tangisan sang bayi. Kadang keras, kadang sesenggukan. Bayi itu. Kini, memang hanya bisa menangis untuk meluapkan apa yang ia rasa dan inginkan. Dan perlu kepekaan yang kuat dari sang ibu.
 Minggu demi minggu dilewati snag bayi dengan menerima didikan dari ibunya. Usianya sudah memasuki 4,5 bulan. Tubuhnya mulai lincah bergerak. Ia sudah bisa duduk tanpa bantuan org lain.
 “Aa....Aa....Aa......”
 Mulutnya menganga. Jarinya menunjuk pada sebuah benda.
 “Oh,,ini namanya buku”, jelas sang ibu.
 Perlahan, sang anak membuka lembar demi selembar buku yang ada di depannya.
 “Hya....Hya....Hya...”
 Wajahnya seringai, ketika melihat gambar sebuah bangunan.
 “oh,,,,ini namanya masjid Cordova. Suatu saat, adik pasti kesana.”
 Sang ibu terus menjelaskan dengan sabar dan perlahan tentang gambar-gambar dalam buku tersebut, meski sang anak sepertinya tak menghiraukan.

 Waktu terasa agak cepat berlari. Bayi itu mulai tumbuh menjadi balita berumur 1,5 tahun. Dia sudah mahir berjalan dan mahir mengamati setiap sesuatu yang ada disekelilingnya, meskipun yang dilakukannya hanya sebatas penginderaan, tapi alat inderanya begitu tajam. Terutama indera penglihatannya. Matanya begitu awas, megamati setiap gerakan tangan ibunya yang perlahan menunjuk pada sebuah bola tenis. Dan seperti sudah instingnya sang anak mengambil bola itu dan memberikannya pada sang ibu. 
 “ Anak pintar...Ini namanya bola tenis. Dipakai dalam permainan tenis lapangan.”
 Satu per satu informasi tentang hidup ini diberikan sang ibu pada anaknya.

 Kali ini, berbeda. Waktu begitu terasa lama bagi sang ibu yang kewalahan mengurus sang anak. Saking lelahnya ia hampir menyerah mengikuti perkembangn buah hatinya yang tlah berusia 2 tahun. Sang ibu mulai kesusahan menghadapi solah tingkah nya. Mulai kelelahan mengikuti langkah2 sang anak. Lari kesana-kemari.
 “Nak ............jangaaaaaaaaaaannnnnnnn.”
 Prak! Seringkali hal ini terjadi. Sang ibu terlambat memprotect buah hatinya. Sebuah gelas kaca akhirnya pecah dibanting sang anak. Tangan si kecil terluka karena terkena serpihan kaca gelas. Sang anak menangis dengan keras.
 “oh sayang..bunda lihat tangannya. Oh tak apa-apa Cuma sedikit berdarah kok!”
 Sang anak tersu menangis dan sang ibu terus mengoceh menenangkan.
 “Lihat gelas ini, kasihan sekali. Dia pecah dibanting adik. Jadi tidak bisa dipakai. Kasihan kan, harus dibuang.”
 Seketika sang anak berhenti menangis. Dia mengamati pecahan gelas kaca itu. Dan mulai menyadari bahwa dia terluka karena kesalahannya sendiri dan menuebabkan kerugian bagi org lain.
 “Hoh....hoh....”
 Tangannya kembali menunjuk2. Kepalanya mengangguk. Terlihat ia merasa iba pada gelas yang baru saj ia pecahkan dan melupakan luka yang ada di tangannya.

 Suatu kali, saat sang anak berumur 5 tahun, ia mengikuti lomba menggambar khusus siswa TK. Didampingi sang ibu, ia bersemangat. Namun, ketika ia telah selsai menggambar, wajahnya cemberut. Kecewa akan gambarnya yang terasa tak sebagus gambar teman2nya. Kemudian sang ibu berkata:
 “Kamu kecewa dengan hasil karyamu? Belum sesuai dengan harapanmu, ya? Bagaimana jika ibu temani untuk mebuat lagi?”
  
Begitulah sang ibu terus mendampingi anaknya. Meskipun lelah, ia berusaha terus tegar. Meski terkadang kesal, sang ibu tetap mendidiknya dengan sabar.
 Suatu kali saat ia duduk di bangku kelas 5 SD, Ia menangis karena menelan kekalahan sebuah perlombaan balap sepeda. Lalu sang ibu memeluknya, dan berkata:
“Kamu tidak marah karena kalah bukan? Kamu hanya kecewa, karena belum berhasil meraih juara. Tapi, bukankah kau masih punya kesempatan di lomba balap sepeda tahun depan?”
Sang ibu berusaha mengarahkan emosi anaknya. Sang ibu mencoba untuk memberikan penjelasan persamaan dan perbedaan macam emosi yang dirasakan anaknya.

Kini, tak terasa buah hati tercinta tlah menjadi dewasa. Gesit, pintar,, berprinsip, mandiri, mampu menganalisis setiap masalah yang ia hadapi, pun ia juga mampu menyelesaikannya.
Tak sia-sia lah segala perjuangan dan pengorbanan sang ibu ketika mendidik anaknya dari buaian hingga menjadi seperti sekarang ini.


NB:
UNTUK KAWAN2 SEPERJUANGAN: NEVER GIVE UP!
Tak usah hiraukan kata2 org yang selalu pesimis dan pragmatis. Karena suatu saat, ktika Allah menghendaki, pastilah kita berhasil mendidik umat ini.Amin


perang ideologi tak kan pernah berakhir!!!