Pages

Selasa, 12 Juli 2011

AKU MENCINTAIMU

dan bangunkanlah aku
dari mimpi indahku
terengah anganku jangan lari
dari rasa yang harus ku batasi

dan kau menawarkan rasa cinta dalam hati
ku tak tahu harus bagaimana
untuk hal bermimpi atau nyata
dan bedakan rasa dan suasana
dalam rangka sayang atau cinta yang sebenarnya

letto-Sebenarnya Cinta

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bermula dari melihat kertas putih yang tergeletak di bawah meja, mataku mulai mencari-cari sebuah pena untuk melukis di atasnya. Dan otak pun bekerja merangkai kata, agar indah dinikmati dan lembut dirasa hati.

Sejenak tangan terdiam. Kemudian akhirnya diputuskan untuk menggerakkan kaki, berpindah tempat mencari inspirasi. Dan jemari pun kembali lincah.

Kata pertama yang tertulis:

C

I

N

T

A

Sebuah kata dengan ribuan makna. Yang mungkin engkau tengah dan telah bosan melihatnya, mendengarnya, dan merasanya. Tapi tidak denganku. Kata ini bagai candu. Aku tak memiliki penawarnya. Sudah kadung overdosis. Hingga ingin kumuntahkan kata ini di depanmu. Dan disetiap satuan waktu dalam hembusan nafasku, ingin selalu kubisikkan padamu; “Aku mencintaimu.”

Cinta. Sebuah rasa yang mendorongku tuk mengenangmu di setiap titik pelabuhan muara gerakku. Rasa yang membuatku tak pernah lupa menyebut namamu dalam setiap doa yang kupanjatkan. Cinta ini yang memaksaku tuk terus berada di sisimu. Mendampingimu. Menemani kepingan mozaik perjalananmu. Tak ingin berpisah, tak rela berada jauh darimu meski seinci pun. Rasa yang tak pernah berhenti membara dalam hati. Bara yang membuat mataku selalu ingin melihat sosokmu. Bukan. Tak CUKUP! Tak cukup jika harus melihat sosokmu dari jauh. Tak cukup jika hanya melihat punggungmu saja. Aku harus mendekat. Kemudian aku memandangimu, tuk melepas rinduku. Dan sekali lagi, ingin kubisikkan di telingamu;”aku mencintaimu”.

Hingga ku merasa gila. Gilanya orang yang waras. Memikirkanmu. Memaknai setiap kata mutiara yang terlintas di benak. Memaknai cinta sejati. Cinta yang entah terbalas atau tidak, namun aku masih mampu tersenyum dan turut bahagia untukmu. Yang jika aku memilikinya, aku tak butuh apapun. Tapi jika aku kehilangan dirinya, apapun yang kumiliki tak ada artinya.

Aku memulai cinta ini dengan sebuah senyuman tulus padamu. Diiringi binarnya mataku ketika ku memandangmu. Meski kau tak pernah memintanya. Karena cinta memang senantiasa memberi. Walaupun ia membawa derita, namun tak pernah mendendam, dan tak pernah membalas dendam. Cinta inilah yang membawa kehidupan, manakala kebencian mengundang kemusnahan tuk menerkam. Cinta ini lahir dari sebuah kejujuran dan ketulusan. Yang muncul saat pertama kali bertemu denganmu. Dan untuk kesekian kalinya dalam lukisan tinta ini, biarlah kugoreskan keinginanku tuk bisikkan di telingamu; “aku mencintaimu”.

Tapi, sengaja tak pernah kuungkap kalimat indah ini di depanmu. Tak pernah sekalipun kuperdengarkan di telingamu. Bukan karena takut. Namun, memang sedikit khawatir. Khawatir jika kau tak menyukainya. Tapi itu pun tak mengapa. Toh cinta itu tak pernah merasa senang jika ia dirasakan dan dinanti. Dan dia juga tak pernah sekalipun kecewa bila diabaikan. Dia hanya berpikir untuk memberi. Sekali lagi tapi, kekhawatiran ini terlampau jauh mengungguli batas yang bisa aku terima. Hingga akal ini tak henti-hentinya mencari cara. Cara agar aku bisa ungkapkan cinta padamu, tanpa melalui kata.

Meski aku mencoba mengumpulkan segenap egoku tuk tak mencintaimu, tapi seperti yang dikatakan Pascal, hati ini selalu memiliki alasan-alasan yang tak bisa dimengerti oleh akal. Akhirnya, kuputuskan tuk mengerahkan segenap tenagaku tuk ungkap rasa ini padamu. Aku berjalan bersamamu. Berbincang menemanimu. Menatap teduh gelak tawamu. Mencoba membantumu, meski tak bisa selalu menghilangkan dukamu. Dan selalu memanjatkan doa padaNya agar memberimu yang terbaik. Melindungimu, menyayangimu, menjagamu, dan melancarkan urusanmu.

Mungkin, hanya mungkin. Dan semoga ini hanya dugaan saja. Ada atau tidaknya aku di sampingmu tak ada bedanya menurutmu. Aku bukanlah seseorang yang kau beri bingkai sebagai seorang sahabat, atau hanya sekedar kawan. Inginku jadi tempat tuk mencurahkan isi hatimu pun tak tercapai. Inginku tuk jadi orang pertama yang tahu sedihmu, pupus. Aku juga bukan menjadi seseorang yang sering tertangkap oleh mata mu untuk sekedar kau temui.

Aku bukan mereka. Anggapan itu ada dibenakku. Dan kemungkinan kuat, ada dibenakmu pula. Aku bukanlah mereka, yang mungkin lebih membuatmu nyaman. Yang kau lebih senang bergurau, tertawa hingga membahana. Mereka bukan aku. Aku yang mungkin terlalu banyak menyinggung perasaanmu dengan ucapanku. Aku yang mungkin kau bilang terlampau banyak “berceramah” di hadapanmu. Terlalu sering mengingatkanmu. Mengingatkanmu untuk meninggalkan hal-hal yang dilarangNya, yang masih sering engkau lakukan. Kau, sekali lagi mungkin merasa asing denganku karena ini.

“Siapa kau?”

Mungkin itu tanyamu. Tanyamu padaku di saat aku mengingatkanmu tuk menutup auratmu. Tanyamu padaku ketika aku mencoba meluruskan kesalahanmu. Tanyamu padaku, ketika kukatakan padamu tentang hal-hal wajib yang belum kau lakukan itu. Mungkin. Hanya mungkin. Dan mungkin untuk yang kesekian kalinya kau menjadi tak nyaman berada di sampingku.

Tapi, tahukah engkau betapa aku mencintaimu? Dan tlah kuutarakan di awal goresan, bahwa rasa cinta ini membuatku selalu ingin mendampingi setiap mozaik kehidupanmu? Dan cinta ini tak pernah mendendam, sahabat. Karena ketika kuserahkan seluruh cintaku padamu, aku tak mengharap engkau membalasnya. Hanya saja, aku akan menanti cinta itu tumbuh di hatimu. Tetapi jika tidak, aku akan tetap bahagia dan bersyukur padaNya karena cinta itu tumbuh di hatiku.

Bukan, sahabatku. Bukan aku ingin menyakitimu dengan ucapan kesalku di suatu waktu karena kau tak kunjung merubah dirimu. Hanya aku terlalu mencintaimu. Karena bukankah ini pula yang di perintahkanNya ?

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. 103; 2-3).

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat suatu golongan manusia yang bukan dari para nabi dan bukan pula syuhada, akan tetapi para nabi dan syuhada iri dengan kedudukan mereka disisi Allah pada hari Kiamat.” Para sahabat berkata, “Beritahukanlah kepada kami siapa mereka wahai Rasulullah?” Lalu Rasulullah menjelaskan, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena Allah bukan karena ikatan kekerabatan diantara mereka dan bukan pula karena faktor harta yang mereka harapkan, demi Allah sesungguhnya pada wajah-wajah mereka terdapat cahaya dan mereka berada diatas cahaya, mereka tidak merasa khawatir ketika manusia khawatir, dan tidak pula bersedih hati ketika manusia bersedih hati, lalu beliau membaca firman Allah, “Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran pada diri mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62) (HR. Abu Dawud, shahih

Dan bukankah iman kita kan sempurna karena rasa cinta ini?

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau berkata, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”.

Tapi, memang cinta ini kuutarakan padamu bukan dengan cara mereka kebanyakan. Bukan dengan sering mengajakmu jalan-jalan, bukan dengan mengajakmu makan di tempat mewah, atau mengajakmu berbelanja. Maka sering kali ungkapan cintaku menyakitkan. Karena hanya berisi ingatan kepada kematian. Dan indahnya surga yang menantimu, menantiku, kawan.

Namun sungguh dalam setiap doaku, kupanjatkan pinta agar cinta ini mampu melunakkan besi, menghancurkan batu. Meski butuh waktu. Tapi tak mengapa, karena sesungguhnya manifestasi Cinta adalah Dia. Dia yang kn selalu membalas rasa ini. Rasa cintamu, cintaku. Dan tujuan cintaku padamu hanyalah satu sahabat, yakni untuk bersama-sama menujuNya. Maka ingin sekali ku menggandengmu bersamaku. Mengajakmu berlari meraihNya. Karena surga itu terlampau luas tuk kutinggali sendiri, sahabatku…

Karena cinta ini pula, ketakutan itu selalu mendatangiku. Seperti jamur yang tumbuh subur di tanah yang lembap. Ketakutan ini, ketakutan yang tak bisa kuhilangkan. Mungkin untuk selamanya. Ketakutan yang terus menjadi selimut ditidur malamku. Ketakutan yang seolah menjadi pengganti matahari dikala siangku. Sungguh aku benar-benar merasa takut. Takut jika kematian itu datang, sebelum aku berhasil memahamkan ilmuNya padamu, hingga kau hendak merubah dirimu. Takut, yang muncul karena rasa cintaku. Rasa cinta yang sekali lagi ingin kuutarakan padamu seperti Rasulullah mengutarakan pada sahabatnya;

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal RA bahwa Rasulullah SAW meraih tangannya lalu mengatakan, “Wahai Muadz, demi Allah aku mencintaimu!” Lalu beliau bersabda, “Wahai Muadz, aku berpesan kepadamu untuk tidak meninggalkan doa setelah shalat. ‘Allahumma `ainni `ala dzikrika wa husni ibadatika’ (Ya Allah bantulah aku untuk selalu berdzikir, mensyukuri nikmatmu dan beribadah kepadamu dengan baik’.” (HR. Abu Dawud)

Rasa cinta yang tak akan pernah padam, dan membuat diri ini tak lelah tuk merengkuhmu. Karena kau adalah sahabatku. Karena kau adalah saudaraku… Aku mencintaimu sahabat.

Minggu, 22 Mei 2011

DISKUSI AKTIVIS

20 Mei 2011, Gedung Fakultas Budaya Unair B

Diskusi dimulai dengan ucapan salam--> pastilah...mrgreen
Kebetulan sy menjadi wakil dari mahasiswa ITS untuk menjadi pembicara di forum. Dan pertanyaan pertama pun dilontarkan moderator.
"Apakah sebagai aktivis kampus, anda merasa terbelenggu dengan sistem sekarang?(baca:kapitalisme)"

"ehem ehem... ndak.. ndak salah...", jawab saya.
Bukan jalannya diskusi yang hendak saya ceritakan. Tapi fakta-fakta yang ada disekitar saya yang sering kali membuat saya gemas, hingga seandainya dy adalah sebuah kertas yang bs saya remas, kemudian sy lemparkan saja ke tong sampah.huah....venere
Jika kita sedikit saja mau berkenalan dengan fakta yang ada, maka akan sangat mudah kita menemui hal2 yang tidak seharusnya terjadi.... Bagaimana di ITS, jam malam tidak diindahkan. Pulang di atas jam 9 jadi hal biasa buat para mahasiswinya. alasan tugas, praktikum, rapat, dkk. termasuk jg saya....cry
itu masih di hari biasa... bagaimana jika soal praktikum keluar? bagaimana jika sudah tiba final project? Bayangkan sndiri saja. Bagaimana tidak teraturnya pergaulan laki-laki dan perempuan, hingga kita2 yang sdah paham sangat sulit menghindari... Sistem pendidikan yang mendidik kita hanya berorientasi pada materi sering kali membuat saya dan beberapa kawan tertekan.

Akibatnya, sangat sulit sekali untuk menerapkan aturanNya. Jangankan menerapkan, mempelajarinya saja susah. Mau ikut kajian, tapi ada tugas membuat laporan praktikum. Mau ikut pembinaan, tapi kuliah padat. Jika memang tidak berawal dari niat yang kuat, tak akan bisa menjadi pribadi muslim yang kaffah di tengah terpuruknya sistem pendidikan sekarang.

Kajian-kajian dijurusan pun sepi, banyak yang duduk di lab sambil menekan2 mesra tut keyboardnya. Bagaimana kita tidak terbelenggu namanya? Acara-acara keagamaan sudah tidak menarik lagi, padahal dari mana kita tahu syari'at islam yang harus kita kerjakan jika tidak belajar dari majelis2 ilmu atau perhalaqahan? sungguh benar2 kita sedang dicetak menjadi manusia yang jauh dari fitrahnya.

Sangat miris rasanya kawan, melihat ternyata kemalasan tidak hanya menjangkiti kawan2 kuliah saya. tapi juga menjangkiti para aktivis dakwah kampus. Sejenak tadi menikmati tulisan kawan bagaimana para ADK lebih memuliakan syuro' ketimbang liqo'. ironis memang. Jika sudah melihat begini, rasanya lelah(padahal hanya sekedar melihat). padahal Allah jelas2 memberi pahala dan menjanjikan surga bagi manusia yang bertaqwa. Tapi sungguh pertanyaan besar, kenapa kenikmatan abadi yang dijanjikanNya sering kali manusia gadaikan dengan kenikmatan dunia yang sesaat?
Mereka bilang "Belum dapat hidayah, yan?" lalu buat apa manusia punya akal?...sering geram dan emosi. tapi sekali lagi Allah menyuruh saya untuk sabar. Karena kesabaran (dengan definisi syara' -->baca di kitab syakhsiyah Islam) adalah kunci menuju surga... :D

Semoga Allah memudahkan segala urusan untuk menapaki jalanNya
Minggu, 03 April 2011

SUNGGUH DIA AKAN DATANG

#include "stdafx.h"
#include
using namespace std;

Baris code di atas sedang saya tulis pagi ini. Tepatnya sesaat sebelum hape saya bergetar tanda sms masuk. Lumayan mengagetkan saya, karena memang saya taruh di atas meja berdampingan dengan laptop tercinta. Dan ternyata sms berisi jarkom(penyebutan sms berantai satu angkatan kuliah).
Isinya tak kalah mengejutkan. Berita duka dari 3 orang kawan di jurusan teknik sipil. Ketiganya meninggal dunia dengan perantara kecelakaan sepulang dari Grand City. Huf...Tangan saya lemas. Bahkan sekarang, saat mengetik tulisan ini pun sy masih merasakan demikian. Teramat muda untuk merasakan sakitnya sakratul maut, pikir saya.
Tapi, bukankah bs saja satu detik lagi adalah giliran saya? Hanya Allah yang tahu. Saya? hanya bs berdoa semoga dosa2 diampuni.
Hampir selalu ketika mendengar berita duka, tubuh rasanya langsung lemas. Apalagi jika yang meninggal adalah saudara atau teman seperjuangan. Seperti beberapa saat lalu ketika seorang sahabat yang sudah lebih dari 1 tahun tidak bertemu, tiba2 dikabarkan meninggal dunia karena sakit gagal ginjal. Sedih rasanya. Tapi tidak sampai di situ. Menusuk. Bagaimana jika setelah ini saya?
Maka, diri ini pun cepat2 untuk bertobat. Mungkin juga dengan anda. Kematian adalah sebuah alat pembelajaran(baca:penghajar) yang paling ampuh untuk kita, para manusia. Tapi sungguh, banyak di antara manusia yang dihajar pun tak sadar2. padahal sungguh, kematian itu datang. Masih banyak yang bermaksiyat. Mungkin juga dengan saya. Setelah mendengar berita duka langsung tobat. tapi setelah itu??? mungkin balik lagi...

confused
Apakah wajar jika tabiat manusia memang seperti ini?Saya sungguh tidak setuju jika jawaban anda adalah iya. Karena kita, manusia. Makhluk berakal dengan segenap aturan yang diberikan olehNya. lantas kenapa? ketika sudah jelas konsekuensinya, kewajiban urung kita laksanakan? alasannya bla bla bla...mungkin bagi anda yang menyandang gender wanita, untuk tidak berjilbab dan berkerudung anda bilang belum matang, harus memperbaiki diri, ndak punya jilbab ma kerudungnya,atau belum siaplah. Padahal pasti ajal itu siap menjemput. Bagi anda para lelaki, sudah pasti jadi aktivis dakwah itu wajib. Tapi??? huf... susahnya di ajak ngaji... Kata kawan2 saya..."Ngoding lebih penting..." naudzubillah...
Mengapa dan mengapa? pertanyaan yang selalu muncul di kepala. Ketika mengajak kawan untuk menuju jalanNya, penolakan yang kita terima. Ketika memberi tahu bahwa demokrasi haram(dalil pasti), tapi keengganan dan keraguan yang dimunculkan. Bahkan, seorang kawan aktivis BEM, muslim, aktivis dakwah pula, menentang dengan halus perubahan dunia dengan penegakan khilafah. Yang ditentang dalil bung, bukan logika manusia. Padahal sudah jelas dalilnya. Mungkin juga saya tak pantas bicara seperti ini. tapi sungguh dia(baca: kematian) pasti datang. lantas apa persiapan kita? Terlalu banyak alasan. seperti yang saya katakan tadi, mungkin pun termasuk saya yang terlalu banyak hujah menunda kewajiban.
Terlalu meremehkan kah kita?? sy tidak tahu... dan saya tidak bisa menjawab.
Sabtu, 05 Februari 2011

Tentangmu.....

Aku melihatmu seperti kertas putih.
Aku dapat menulis seluruh ceritaku di atasnya. Menggoyangkan pena, menggores kisah, lekukan hidupku.

Aku menganggapmu sebagai sebuah kanvas. Yang khusus tertakdirkan untukku.
Aku dapat menggambar perjalananku menuju muara hidup di tubuhnya. Membuat kuas ku menari, menguras lautan tinta tuk melukis rasa, cinta, suka, asa.

Aku merindui wangimu. Hingga ingin kuciumi nafas yang syarat dengan kisah harum kesturi yang mengundang hasrat tuk menciptakan sarang bagimu. Sampai-sampai ingin sekejap saja aku merasakan melihat dengan matamu. Melihat segala jenis kesedihan yang kau sulap menjadi permata perjuangan.

Aku menyukai senyummu. Yang menginspirasi lidahku, tuk bertutur tentangmu. Meski hingga mulutku membusa, tapi tak kan pernah ku mengeluh kelelahan atau merasa jemu.

Aku mengagumimu karena engkau adalah laut.
Laut yang airnya semakin membuatku haus.
Laut ilmu dan keceriaan yang tak kan lelah ku selami.
Laut yang indahnya melarang mataku terpejam. Bukan tuk sekedar puaskan pandangan. Lebih dari itu, mencuri masa untuk menumpuk kenangan.

Namun, kau hanya berlalu. Bukan aku yang berjalan menjauhimu. Sekali lagi kau berlalu. Sebelum puas aku merampas volume yang kau miliki. Sebelum aku berani mengatakan pada mu sebuah kalimat cinta. Kau tlah berlalu bersama suara angin malam yang sekarang menemani dudukku di sebuah bangku. Sebuah bangku tua yang penuh debu. Yang menjadi saksi rasaku. Sesalku. Karena kediamanku saat kau melambaikan tangan perpisahanmu. Karena inginku belum terucap. Inginku untuk menjadi lebih dari sekedar tokoh yang mampir dalam perjalananmu.
Dan potongan kue kerinduan ini menghantuiku, yang dengan sombong waktu terus menciptakannya, karena keberlaluanmu.

Kini ku hanya bisa menjamahmu dalam kawah imajiku, dan berharap berbincang dalam mimpiku.
Kini ku hanya bisa mengiang-iang kata-mu. "Masalah membuat kita dewasa", suatu hari dipertemuan berdua terakhir kita kau berucap.
Kini pula, aku tersadar oleh keberlaluanmu. Keberlaluan yang menjadi masalah. Keberlaluan yang mengajariku bahwa setiap pertemuan pasti berujung pada perpisahan. Keberlaluan yang mengajariku, bahwa aku seorang yang memang tak punya, tak memiliki apa-apa. Termasuk dirimu.

Tapi,
Sebagaimana yakinmu bahwa kemenangan pasti kan datang, maka kuyakinkan pula padamu, Ia mencipta ruang dan waktu untuk kita kembali bersua, mendiskusikan kisah, atau hanya tuk sekedar bertatap kemudian bersandar. Pasti ada... suatu saat yang tercipta bagi kita, untuk mencurahkan jutaan cinta yang masing2 tersimpan, di hari yang berbeda. Meski tidak hari ini, saat ini. Tapi saat itu, pasti ada.


tribute to my second mother;
luv u cz Allah
I'll miss You so much
thx 4 everything...
Senin, 17 Januari 2011
Kamis, 06 Januari 2011

KECENDERUNGAN

Pagi-pagi. Setelah isi pulsa gprs 5 ribu, cepat-cepat modem saya tancapkan. go to mail.yahoo.com plus gmail.com. file presentasi harus segera dikirim. Dan sungguh jaringanny amat sgt lemot sekali. dan terbersit untuk membuka situs jejaring sosial yang sungguh sudah sangat lama tidak saya buka.
Mata terbelalak, melihat salah satu profil picture seorang kawan wanita mengenakan pakaian "kurang kain" dengan dipeluk sang kekasih(hasnt married yet). Ditambah lagi comment-comment mesum dari beberapa senior di kampus. Sungguh harus mengelus dada. Belum lagi chat2 tak bermutu yang tak menyedapkan mata. Dan mata kadung melihat. Astaghfirullah. Sebegini parahnya kah?
Tapi, ada sebuah note yang cukup mengundang perhatian. Note seorang sahabat yang kini berdomisili di Malang. Tentang dakwah. dan sy pun tergelitik untuk mengkomentari.
Metode dakwah. Itu bahasannya. hmmm... singkat cerita, sahabat saya online dan kami melakukan diskusi (not face to face) sampai pada sebuah kata "kecenderungan". Kecenderungan yang kata sahabat saya sering tidak kita sadari, bahkan termasuk saya, atau mungkin kalian.
Hmmm... sy berpikir sejenak. Jika kecenderungan ini dikaitkan dengan pendapat islam yang sy sampaikan dalam diskusi, saya rasa semua pun punya kecenderungan. Keimanan itupun sebuah kecenderungan (absolutely from thinking), sy pun memiliki kecenderungan pemahaman, bukan begitu? Bolehlah jika kawan2 tidak setuju, tapi bagi saya tanpa kecenderungan berarti keraguan pasti masih menghinggapi diri. Keraguan ttg apa? keraguan tentang dienullah yang sedang kita genggam sekarang.
Seperti apa yang pernah bang divan tuliskan dalam commentnya dlm menanggapi comment seorang anonymous. Logika yang sy terima hanya logika hukum syara'. bukan logika cost dan benefit. Dari mana pun datangnya anda, jika memang membawa dalil yang lebih kuat, pastilah sami'na wa atho'na. Bukan saatnya lagi menutup diri dari kebenaran yang dibawa saudara seiman meski berpijak pada pergerakan yang berbeda. Masa bodoh dengan nama, sy hanya tahu bahwa Al-Jamaah (dengan alif --> bukan tanpa alif--> lihat di HR at-Turmudzi no 2091, atau HR Ahmad no 109) harus di tegakkan. Mau cari apa dalam hidup ini klo bukan ghayatul ghayahnya seorang muslim?!
Kembali pada metode dakwah Rasulullah yang kita pahami tidak boleh ada perbedaan, jika memang acuan sama--> qur'an, sunah, ijma' shabat, dan juga qiyas, apapun bahasa penyebutannya pastilah sama pula. jadi tak akan dikatakan sama metodenya jika mengambil jalan tengah dengan sistem, misalkan. sudah sangat jelas sy rasa, apapun alasannya. Dan sy rasa ini bukan pendapat sebuah pergerakan, ini pendapat islam. Begitulah kira2.
Sekarang, memang sudah saatnya membuka mata terhadap kebenaran, meski kata orang kadang-kadang pahit (NB: dalam dimensi manusia). Karena kemenangan akan menyongsong tak lama lagi. Maka persiapkan diri kalian untuk menyambutnya. ALLAHU AKBAR
Senin, 13 Desember 2010

IT'S THE TIME!!!

Beberapa waktu yang lalu seorang kawan mengunjungi blog. Dan saya melakukan kunjungan balik. Ketika melihat blognya, saya jadi teringat kisah salah satu pejuang jenius favorit sy. Pemuda 21 tahun penakluk Konstantinopel. Pemuda yang memulai debutnya sebagai Sulthan dari umur 12 tahun, Pemuda yang dengan ide gilanya bisa membuat kapal berlayar di daratan. Subhanallah.kakashi
Kemudian, ini menjadi sebuah perenungan. Bagaimana dengan saya? Oh setiap hari lebih banyak waktu dihadapkan pada program code, pada compiler, pada terminal LINUX, pada console hitam putih command prompt. Dibanding dengan Muhammad The Second?? Pemuda yang tak pernah masbuk dalam sholatnya, yang tak pernah tertinggal tahajudnya. Dakwah?? sungguh beliau selalu pergi berjihad setiap 3 bulan sekali. Bahkan beliau meninggal ketika hendak berperang untuk menaklukkan kota kedua yang dijanjikan Rasulullah, Roma.
Bagaimana dengan saya? anda? para pejuang islam? berapa ayat yang telah kita sampaikan dalam 1 hari? sering kali kita menjadi orang yang minimalis, hingga mungkin hanya 1 ayat yang disampaikan. Berapa orang yg sudah menerima dakwah kita dalam 1 hari? hmmm.... Bahkan mungkin anda(bukan saya) masih takut untuk sekedar mengatakan demokrasi itu sistem kufur… hmmm..ingin jadi Al-Fatih??

Cukupkah dengan acara-acara besar yang kita gelar di Lembaga dakwah Kampus tanpa follow up dan pembentukan syakhsiyah islam dikatakan sebagai dakwah? Saya rasa kita semua sepakat untuk mengatakan tidak. Cukupkah dengan member materi sebatas amalan yaumiyah pada ummat dengan menyembunyikan kesempurnaan ideology islam disebut sebagai dakwah? Sy yakin kita semua sepakat lagi untuk mengatakan tidak. Lantas, bagaimana mungkin bisa menjadi sesosok Al-Fatih? Jika pemikiran kita saja masih belum bersih dari kotornya pemikiran sistem yang ada sekarang?

Muhammad II sempat akan mundur dari perang melawan pasukan Sebuah kota yang selama 800-an tahun tak bisa dikalahkan, karena ucapan salah satu petinggi saat itu. Tapi, memang kuasa ALLAH, lewat ucapan tangan kanannya Sang penakluk terus dengan pendiriannya untuk meraih gelar “panglima terbaik” yang dijanjikan Rasulullah. Bagaimana jika beliau mundur? Dan menerima sejumlah harta yang ditawarkan oleh Raja Konstantinopel saat itu? He3…

victoire

Bagaimana dengan kita? Takut menyampaikan islam sebagai sistem yang sempurna? Masih menganggap Khilafah adalah hal utopis yang amat jauh untuk dicapai? Tidak…semoga itu jawaban yang kita sepakati kali ini.

Sekali-kali bukan!! Bukan saya merasa diri lah yang sempurna. Kesepmurnaan itu hanya milik ALLAH dan RasulNya. Sombong?? Oh itu selendang ALLAH, sy sungguh tak berani menyentuhnya. Hanya saja, ketakutan, keraguan, sikap yang enggan untuk berkomitmen inilah yang menghalangi kemenangan. Lantas, apa yang harus dilakukan sekarang?

IT’S THE TIME FOR CHANGING OUR SELVES. Sekarang adalah waktunya menjemput kemenangan yang dijanjikan ALLAH SWT. There’s no second change. Cz after this, ISLAM WILL NEVER EVER BE DEFEATED. Ini waktunya kawan, menanggalkan seluruh keinginan eksistensi diri untuk selainNya. Apa yang kita takutkan jika surga ALLAH sudah tergambar jelas di console otak kita karena refleksi aqidah yang mantap? Masih kah kita ragu? Tidak,itu jawaban saya. Jawabanmu, Kawan??ok

Jumat, 03 Desember 2010

OBROLAN

Pagi ini dari mulai jam 6 sya sudah stand by di lab jaringan. Suasana yang nyaman. Masih hening. Hanya terdengar pantulan suara tuts keyboard yang saya tekan, dan nada instrumentalia blues yang dimainkan MPC. Sungguh suasana yang nikmat sekali untuk meng-coding. Tapi baru 1 jam kenikmatan itu berjalan, dan baris code baru mencapai 200 line, teman2 admin mulai berdatangan dan mereka yang memang menginap mulai mengeluarkan uap alias menguap .mrgreen
Semriwing suara mereka masuk ke telinga sy yang sy pasangi headset.
"Memang tidak akan ada habisnya."
Kata seorang kawan, yang duduk tepat di samping saya. sebut saja namanya Inem(gomen ne.)
victoire
"Yah memang begitulah."victoire
timpal lawan bicaranya, sebut saja Paijo.
Saya mulai tertarik. Apa sich memang 'yang tidak ada habisnya itu'?
diam2 sy pelankan volume.
"Memang susah kalau bicara dengan orang keras kepala."
hmmmmmmm.....sejenak aktifitas meng-coding saya hentikan.
kemudian si Inem melanjutkan....
"Tidak akan pernah ada habisnya kalau bicara tentang kebenaran."

WAKS??question

hmmmmm........ kakashi
saya masih terdiam. program yang tengah sy buat pun tertelantarkan. layar console pun sy biarkan. comment debugging tak sy hiraukan.
"Yah memang begitulah. tak ada habisnya. palagi orangnya mau benar sendiri..."
balas paijo sembari mengetik di laptopnya. Sementara si Inem terus bicara. dan sy paham apa yang mereka bicarakan.
Dan cukup. Sy menyetop diri. bahasan yang tidak ada habisnya ketika membahas orang2 seperti mereka yang tidak tahu arti kebenaran. Obrolan pagi yang membuat sy teringat tulisan Akang Ridho Al-Hamdi dalam buku mungilnya Melawan Arus. Ketika masih duduk di bangku SMA, sungguh senang rasanya memndapat hadiah buku dng judul yang cukup menawan. Tapi isinya?

happysungguh dapat melalaikan pemikiran umat. Dia bilang tak ada kebenaran tunggal, karena kaca mata yang dipakai bisa berbeda warna. apalagi kalau pakai kaca mata kuda, kang!

cool Pembahasan mengenai kebenaran pastilah berujung jika antar pihak sepakat akan parameter, definisi dan tolok ukur yang digunakan. Pendapat terkuat yang di anut nantinya. Jika memng lawan diskusi tdk sepakat, tinggalkan di tengah jalan saja.
venere mrgreen
Karena seorang penganut deisme pun pasti mengakui kebenaran. Sangat melekat di otak tulisan bang Divan yang berjudul 'Mutlaknya Relativitas'. Bagi para penganut deisme kebenaran adalah aturan yang paling memuaskan atau paling logis dan argumentative ketika di benturkan. Berarti relativitas kebenaran itu sebenarnya tidak ada. Kebenaran itu tidak relative. http://www.divansemesta.com/search/label/Mutlaknya%20Relativitas.
Jadi mana mungkin pembahasan kebenaran tidak ada habisnya? yah memang kecuali pakai kaca mata kuda.
ok
Selasa, 23 November 2010

AKU...

Aku adalah anak kecil itu. Yang duduk sila di pinggir jalan sambil menepuk genderang kecil yang terpaksa ku curi dari sebuah toko di pasar minggu.
Aku adalah anak kecil itu. Yang tiap hari kau lihat di perempatan lampu merah daerah sunter yang terpaksa mengamen demi sesuap nasi dan selembar Koran sebagai selimut.
Aku adalah anak kecil itu. Yang tiap hari melihatmu tersenyum lebar di surat kabar – surat kabar bergengsi di Ibu kota. Melihatmu tersenyum di kala bibirku bahkan bergerak pun tak sanggup. Melihatmu tersenyum di saat aku bahkan tak sanggup merintih karena lapar yang menyerang.
Aku adalah anak kecil itu. Yang diam-diam merengek kepadamu untuk kau beri sedikit nafas bahagiamu. Yang diam-diam sebenarnya menaruh harapan padamu agar suatu hari kau dapat mengangkat statusku.
Tapi, anak kecil itu sekarang sudah mulai jenuh melihat tingkahmu yang sok mewah, sok berkuasa, padahal kau ini tak lebih dari wakilku dan org2 sepertiku di sana. Tapi, kau malah berkhianat. Kau pikir kau ini siapa?


Aku lelaki yang baru saja terbaring dirumah sakit bersama istriku tercinta. Luka bakar ini membuat kami tak bisa bergerak. Padahal kami harus bekerja menafkahi ketiga buah hati kami.
Kami menerima keadaan kami, karena pasti Allah sangat sayang pada kami. Hingga Ia memberi cobaan bagi kami. Tapi kenyataan membuat kami bertanya-tanya. Kenapa masih saja orang2 berdatangan ke rumah sakit karena kasus yang sama dengan kami? Malah terkadang luka bakar mereka lebih serius, atau nyawa mereka tak terselamatkan.
Apakah ini cobaan? Atau buah dari kelalaianmu? Jika satu, dua atau tiga kasus itu normal adanya. Tapi ini? Coba kau hitung keabnormalan dari jumlah kasus yang terjadi selama satu bulan. Apakah ini sebuah konspirasi baru yang kau ciptakan? Ataukah buah dari keteledoran?


Aku baru saja berumur 5 bulan. Umur dimana seharusnya aku ditimang, disayang, dibelai oleh ibuku. Tapi apa yang ku dapat? Apa kau tahu?
Perutku buncit. Kulit ariku kusut. Mukaku lebam karena ibu memukulku. Tak tahan mendengar tangisanku, katanya. Sudah pusing dengan urusan cari makan, katanya. Akhirnya aku jadi pelampiasan.
Apa kau tahu? Aku hampir dibakar olehnya. Tak sanggup membelikan susu untukku, katanya. Jadi mending aku mati saja, pikirnya. Baru lahir tapi sudah menanggung hutang Negara, begitu teriaknya tiap hari padaku. Apa kau tahu???


Aku adalah pemuda itu. Pemuda yang melihat mobil dinasmu melintasi jalan dengan kawalan ketat. Pemuda yang muak melihat senyum palsumu yang kau beri pada rakyat.
Apakah bisa kau menjadi teladan kami? Haruskah kelak kami-generasi penerus bangsa- menjadi sepertimu? Seperti dirimu yang merangkul musuh negrimu. Sepertimu yang menangis hanya karena dugaan “ancaman” teroris yang ditujukan padamu. Sepertimu yang hanya bisa berkata manis dan membuai dengan wajah melasmu. Haruskah kami sepertimu?


Aku adalah orang tua yang sangat renta yang kau salami beberapa waktu yang lalu. Apakah kau masih mengingatku? Aku orang tua yang ada di pengungsian yang kau kunjungi saat itu. Kunjungan yang hanya menambah pertanyaan di otakku yang sudah sedikit tak berfungsi ini. Kenapa baru menjenguk rakyatmu? Kemana saja kau?
Kenapa tak kau beri kami alas tidur di barak pengungsian? Kenapa tak kau siapkan pakaian layak pakai bagi kami? Apakah kau tahu kalau aku, anak-anakku, dan cucuku kedinginan? Kenapa kau malah menjamu penjajah dengan bakso dan nasi goreng di tengah2 derita kami? Masih bisa kah kau makan dengan “yang muliamu ” itu, sementara rakyatmu hny makan dgn lauk mie yang bahkan tak baik untuk kesehatan? Masih bisakah kau tidur kelelahan setelah menjamu tamu amerikamu itu, sementara rakyatmu mengemis sebuah bantal?


Kenapa hanya tersenyum, PAK?? Begitu berarti kah pencitraanmu dibandingkan dengan nasib kami, rakyatmu?
Kenapa hanya menggelengkan kepala, PAK?? Begitu takutkah kau pada majikanmu hingga kau biarkan kami bergelimang kesengsaraan?
Kenapa hanya diam, PAK?? Tidak sanggupkah engkau menjadi pemimpin, hingga kami terbengkalai?
Kenapa PAK?? Tak punya jawaban?? Haruskah kami, rakyat yang kau anggap bodoh yang menjawab????
Jumat, 29 Oktober 2010

Hunuslah pedang Ali dan Aisyah di tempat yang pantas(Sebuah intorspeksi 16:125)

Barangkali saja namanya manusia, aktivis dakwah pun terkadang masih menyimpan sifat membuta. Ia begitu tempramental. Hingga terkadang tipis bedanya antara berargumentasi dengan mempertahankan gengsi dan emosi (al-baqa'). Padahal jika demikian, bukankah 'mundur untuk menang' adalah pilihan yang harus dilakukan? Bukan ia kalah, tetapi menghindari 'unsur setan' mestinya sebuah kemestian.

Mungkin ada hal yang terlupakan ketika kita mengedepankan otot-otot perdebatan -jika tidak dikatakan pertikaian-. Boleh jadi benar kita mempertahankan kebenaran, tetapi jika terselip kepentingan ’keperkasaan intelektual’, hingga kemudian mengakibatkan putus tali persaudaraan, bukankah dengan itu kita justru melakukan hal yang diharamkan? Ironisnya, jika keharaman itu hanya diakibatkan oleh perkara-perkara cabang, atau berupa kesalah-fahaman definisi yang masih mereka pegang. Dan na’udzubillah, jika kekisruhan itu dimunculkan atas nama ta’ashub pergerakan. Maka dimana letak tolok ukur amal (miqyasul ’amal) yang kita punya? Maka dimana kita menyembunyikan kaidah yang mengatakan bahwa menghindari kerusakan itu lebih utama dari pada mengambil kemaslahatan?

Pada saatnya kita memang perlu untuk meninggikan suara, tetapi, tetap pada saatnya. Sulit rasanya jika sejak awal kita berangkat dari kebencian. Bukan lah kita akan mendapat kebenaran, tetapi selalu saja pembenaran. Saya sendiri pernah berkata dalam hati: Lebih baik saya tak hafal dalil! Jika dengannya hanya sebagai bekal untuk menyakiti. Bukankah dakwah ini karena kita cinta, hingga menyampaikannya pun harus dengan cinta. ”Katakanlah kebenaran walau pahit!”, tetapi apa harus dengan meninggalkan luka?

Agama ini bukan untuk gagah-gagahan, Kawan. Maka seberapa toleran kita pada yang lemah? Seberapa sabarkah kita memposisikan diri sebagai ’pencerah’? Tancapkanlah dalam hati, bahwa semua aktivitas membentak, mengumpat atas nama dakwah, pada hakekatnya hanya menunjukkan bahwa diri kita lebih menguasai. Bahkan di saat yang sama, ia menunjukkan terbatasnya asa, sikap yang tergesa-gesa, atau rapuhnya jiwa kita, bahkan ia pun menunjukkan seberapa kemampuan kita.

Tegaslah jika memang harus tegas, keraslah kalau memang harus keras, tetapi semua itu harus dilandaskan atas argumentasi, bukan sekedar emosi sampai-sampai mengumbar aib tiap-tiap pribadi. Atau sesumbar dengan kebaikan-kebaikan diri. Atau pembantaian mental berupa cibiran dan hinaan yang ditujukan kepada saudara Muslim sendiri.

Dan ingatlah, Kawan, ingat! Siapa yang bergembira di balik sana di saat pedang Ali dan Aisyah -radhiyallahu ’anhum- berkelebat satu sama lain? Ah, tak perlulah aku jawab pertanyaan itu di sini. Kitapun sama-sama tahu siapa musuh sesungguhnya saat ini.

Terakhir, sengaja kubuat tulisan ini sebagai instrospeksi diri pribadi, namun barangkali akan terpakai pula oleh kawan sesama peniti jalan ini. Karena lagi-lagi, khawatirnya, kita yang mengerti konsep Gharizah Al-Baqa’ malah justru terjebak dengan Baqa’ sendiri. Khawatirnya, ilmu yang kita miliki belum cukup didukung dengan keikhlasan hati. Khawatirnya, ’kaburo maqtan ’indaLlahi..’. Khawatirnya, wal-’Iyadzubillah..

Maka sekiranya ada yang ’tersamar’, akhiri perkataan dengan istighfar. Dan jika hal itu pernah menimpamu dariku, maka tak segan-segan kukatakan padamu: Terimalah maafku, Kawan.

copied from:
http://ahsanhakim.blogspot.com/
nice writing, bro...
Minggu, 18 Juli 2010

di persimpangan pertigaan kah?

Tiba – tiba saja ingin mengabadikannya dalam sebuah goresan pena. Mungkin saja di antara kawan-kawan sudah pernah ada yang mengalaminya. Bahkan lebih mendalam, lebih jauh, dan lebih lebih lah pokoknya. Tapi, entah kenapa tangan ini gatal rasanya. Mungkin karena menurutku ini pengalaman berharga dari sebuah perjalanan menuju puncak keimanan.

Kejadian ini sudah lama, tapi ya nggak lama-lama amat. Tepatnya awal-awal semester dua kuliah. Masih canggung bagiku untuk bergaul, meski sudah sekitar 6 bulanan berada di tempat baru ini. Maklum, agak “Aku agak pendiam orangnya. Kalem. Tidak banyak bicara. Santun, ramah, baik hati, gemar menolong, tidak sombong, dan suka nodong”. Tapi apa daya, kewajiban dakwah membuatku harus memutar otak untuk menyebarkan ideology ini.

Siang itu, aku mengelilingi kampus hampir ada 7 kali. Suer, bro. Ya maksudnya bukan mengelilingi seperti ritual mengelilingi rumah sebanyak 40 kali agar kau bisa melihat wujud asli jin(kata seorang teman dari Joga), tapi bolak – balik lantai 1 kemudian lantai dua lalu lantai 3 untuk sekedar mencari “mangsa”. Akhirnya setelah hampir 2 jam, aku menemukan segerombolan orang. Untunglah kawan seangkatan. Jadilah mereka mangsaku. Tapi, entah aku harus mengatakan sayang atau bagaimanakah seharusnya yang kutemui adalah noni. Jadilah bulletin islam yang kubawa tak jadi kusebar pula. Tapi, jelas taka pa bagiku. Dakwah itu ditujukan pada semuanya. Meski musyrifah pernah berkata bahwa sekarang concern dakwah kita bukan pada mereka yang noni(dimana sampai sekarang aku masih tidak setuju dengan beliau tentang hal ini), aku tetap mencoba untuk membuka pintu hati mereka. Berharap bahwasanya ALLAH SWT mau berbaik hati kepadaku dengan menjadikanku sebagai perantara datangnya hidayah buat mereka.

Mungkin pengalaman ini masih kalah jauh dgn pengalaman bang Divan dkk, yang ku rasa sudah sampe mual2 memakan asin-asemnya suatu perdebatan teologis. Tapi yah, bagiku, kuanggap ini sebagai pengukuh keimananku. Setidaknya selain tulisan bang divan yang berjudul “atheisme”, aku punya pengalaman itu.
Kebetulan kawan pertamaku adalah seorang hindhu. Mulanya aku awali dengan bertanya;

“Sebenarnya kau ini beragama hindhu atau Budha?”

Sedikit mendramatisir keadaan, dy menghela nafasnya. Panjang sekali menurutku.

“Insyaallah Hindhu”, jawabnya.

Insyaallah?? Jika Allah menghendaki??? Aneh pula kawanku ini. Harusny kutanyakan pula apakah dy seorng muslim. Pakah dy berada dipersimpangan tiga agama. Hingga ia memasang dua dewa dari dua agama berbeda, dan mengucapkan sebuah kata khas muslim? Namun belum sempat aku mengolah kata, dy brtanya;

“Ada apakah gerangan dikau bertanya?”
“hmm… hanya heran dengan stiker yang ada di laptopmu. Dua dewa dari dua agama yang berbeda.”

Dy tertawa. Tak lucu bagiku. Yah kalian tahu, itu adalah hal yang sakral.
“Apa kau tidak bingung menyembah dewa-dewa yang tugasnya satu sama lain bertentangan?”
Maklum pertanyaan polos.
“Sebenarnya kami sama dengan kalian. Kami menyembah Tuhan.”

Aku berontak. Jelaslah, tak mau aku disamakan dgn penyembah berhala. Penyembah patung2 tak jelas bertangan lebih dari dua.
“Bagaimana bisa?”, tanyaku sambil sedikit melotot.
“Dewa-dewa ini bagi kami seperti halnya Nabi atau Rasul dalam agama kalian.”

Semakin berontak. Nabi-nabiku tak ada yang menjadi perusak seperti salah satu dewa mereka.
“Hmm…. Bagaimana bisa sama? Nabiku tidak pernah menyuruh kami untuk menyembah mereka.”
“Dewa-dewa ini hanya sebagai perantara antara kami dgn Tuhan.”
“Berarti kita berbeda. Tuhanku tak pernah menyuruh utusanNya untuk menjadikan mereka sebagai perantara. Berarti Tuhan kita berbeda. ”
“Yah memang itulah kepercayaan kami, yang kami yakini kebenarannya, Y.”
“Bagaimana mungkin kalian bisa meyakini sebuah ajaran yang dibawa dewa-dewa yang bahkan tiap kisah dari dewa itu kalian katakan sebagai dongeng para rahib kalian?”

Aku tak tahu apa yang saat itu dy pikirkan. Yang jelas, aku yakin sudah mengguncangkan keimanannya. Keimanan pada legenda Dewa-dewa yang mereka sebut sebagai dongeng dari rahib mereka. Tapi, mungkin hidayah itu tidak turun sekarang atau melaluiku. Hingga ujung-ujungnya dia berkata;
“Sudahlah, Perbedaan itu anugrah. Tuhan lah yang menghendaki perbedaan itu. Kita harus menghargainya. Tanyalah pada petinggi agamaku di pura yang biasa aku kunjungi disini.”


Dan kemudian ia berlalu tanpa pamit sembari mengambil bulletin Islam yang dari tadi sengaja kuletakkan di atas meja. Alhamdulillah, batinku.
Tp, sebenrnya ingin sekali kutanyakan padanya. Perbedaan seperti apakah yang ia maksud? Jika perbedaan dalam ranah teologi, dari mana ia tahu bahwa itu kehendak Tuhan, jika dapat kita buktikan dengan gampang bahwasanya kami amat berbeda dari segi teologi itu sendiri? Ah, bagaimana aku bs percaya pada kata2 seseorang korban doktrin rahibnya?
Wallahua’lam.
Kamis, 03 Juni 2010

GAZA TIDAK BUTUH KAU


Gaza tak butuh kau...Gaza tak butuh aku.. Yang Gaza butuhkan adalah Allah SWT. karena Gaza itu milikNya...
Kitalah yang butuh Gaza.. Kitalah yang butuh Gaza... Kitalah yang butuh Gaza...
Kita yang butuh Gaza, agar tercatat nama kita di sisiNya sebagai hamba yang bergerak untuk menolong agamaNya..


http://burjo.wordpress.com/2010/06/03/gaza-tidak-membutuhkanmu/
Selasa, 01 Juni 2010

HIDUP

Hari ini, ditengah2 perkuliahan berlangsung, hp sy bergetar. Sy pikir ini dari paman yang mengabarkan uang kiriman bs diambil hr ni jg. Tpi trnyata itu sms dr seorg sahabat. Kecewa kah sy? Hmmmm….sedikit + sedikit * sedikit – lumayan sedikit + 2*sedikit. :d(Note: just kidding).
Singkatnya sms itu berisi sbuah pertanyaan, yng menurutnya filosofis (jujur, sbnrnya sy kurang begitu paham makna kata filosofis :d). Pertanyaan itu mengingatkan sy pada keponakan tercinta. Yah, kebetulan sy sedang rindu berat pada nya. Surabaya-jogja tidaklah dekat, jd frekuensi bertemu jd sgt jarang.
Suatu hari,pernah sy mengajak keponakan perdana untuk jalan2(really walk by foot). Saat itu kira2 usianya belum ada satu setengah tahun..ya mislkan umurnya saya misalkan x, maka codomain nya adalah 1<1,5.>banyak,amat) lemas….:D Yah, kami bersendau gurau dengan ayam,kucing, bahkan syauki hampir mewarisi kebiasaan Susana, yakni makan bunga melati. Untunglah dengan sigap sy mencegahnya.  horeee….. Yah untunglah syauki tdk punya kebiasaan melempar batu seperti keponkan seorg kawan, ketika di ajak berkeliling kampung. Haha….

Ditulisan ini, sy tak hendak bercerita tentang keponakan perdana sy. Sy tak hendak cerita bagaimana lebih girangnya syauki bermain dengan kambing dari pada dengan saya. Atau saya tak hendak membuat cerpen tentang apa saja yang dia lakukan ketika mandi, yang menghabiskan waktu lebih lama dari saya.

Ya kembali ke pertanyaan kawan saya, yg membuat sy menulis artikel ini, setelah sebelumnya sy sedikit(baca: rada banyak) bercuap-cuap tentang keponakan saya. Kawan saya bertanya ttg apa arti hidup ini menurut sy. Hmmmm…. Jujur saja, sy bukan tipe orang yang memikirkan hal seperti itu. Sedikit tergelitik, atau lebih tepatnya muncul pula keinginan untuk mencari-cari. Dan akhirnya yang ada sy setuju dengan pendapat org kebanyakan tentang definisi hidup.
Ada yang mengatakan hidup itu pilihan. Sy setuju. Hidup adalah sebuah perjalanan. Hidup itu perjuangan. Hidup itu untuk berbagi dengan sesama. Segudang definisi hidup yang sy dapatkan ketika sy mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang kawan sy lontarkan tersebut. Nothing wrong, menurut sy. Hanya saja sy lebih melihat “Hidup” dari sudut pandang yang hidup. Bahwa hidup bukanlah mati. Bahwa hidup itu hidup. Ada kehidupan. Ah susahnya didefinisikan. :d

Bagi sy, apapun makanannya yang penting minumnya teh botol sosro. :d Maksudnya, apapun definisi hidup, bagi sy yg terpenting adalah tujuannya. Ketika sy memutuskan untuk memandang “Hidup” dari sudut pandang yang hidup, maka sy pahami bahwa dalam hidup ini tidaklah boleh ada suatu kediaman, harus ada pergerakan. Pergerakan yang didasarkan pada tujuan hidup. Tujuan hidup yang di dapat dari si Empunya hidup. Begitulah. Ketika yang sy pahami adalah demikian, maka sy pun tak boleh diam. Mau tak mau harus bergerak. Harus berbuat. Harus beraktifitas.

Nah inilah yang menurut sy menjadi kasusnya- Aktifitas saat hidup- yg seperti sy jelaskan di atas, harus punya tujuan. Maka, tujuan itu tak sy cari kemana-mana, seperti halnya beberapa kawan2 mahasiswa sy yg bermacam2 tujuannya sampai ada yg bingung ketika ditanya apa tujuan hidupnya saat di forum pengkaderan(baca: OSPEK). Saat itu ada yang menjawab, ingin membahagiakan keluarga dan orang tua, jadi orang sukses, dsb. Sangat prestige mungkin bagi mereka. Lantas sy bertanya (meski dalam hati), klo abis orang tua dan keluarga nya bahagia, dy mau apa? Setelah jadi org sukses(yang mungkin definisinya banyak) trus mau apa lagi?hmmmm…..

Maka dari itu, sy tak mau susah2 mncari tujuan hidup sy, sampai harus menyelam samudera pasifik. Allah sudah memberitahukan tujuan hidup ini pada kita, yakni beribadah kepadaNya. So based on this, pikiran sy hanya simple saja. Otomatis pergerakan(baca: aktifitas) sy harus berdasarkan apa yang diperintahkanNYA. Simple kan? Itulah tujuan hidup sy. Sy sama sekali tak punya tujuan untuk menjadikan keluarga sy kelak seperti keluarga sukses dengan parameter keluarga Bernaulli, yg dari buyut sampe cicit adalah ahli matematika. Mulai dari Jacob I, Johan I, Nicoulas, Daniel, Jacob II dst. Atau sy tak bertujuan menjadi seorang yang kaya raya seperti Bill Gates, atau penguasa IT lainnya. Tujuan sy hanya satu. ‘ibadallah untuk menggapai ridhoNya.

So, simple nya semua aktifitas yg sy lakukan semata-mata mendukung tujuan hidup sy. Sy memang berkeinginan menjadi perancang dan ahli network security yang handal dikemudian hari, tapi hal itu tak lepas dari tujuan hidup sy. Kalau sy ceritakan apa planning sy terkait hal ini, jadi panjang nantinya. :d

Ya intinya sekali lagi, bg sy tak penting apa arti/ definisi hidup. Wew, anda boleh kok tak setuju dengan perkataan sy. Anda punya hak. Toh tidak ada keharaman hukumnya ketika anda tidak setuju dengan pendapat sy. Bagi sy, pergerakan yg terjadi saat hidup, itulah masalahnya. :d

NB:
Smg bs menjawab….

Selasa, 20 April 2010

BERLARI DENGAN ASAN




Kini
Surya tengah melebarkan telinganya
Mendengar suara genta sekolah pagi buta
Mendengar jejak kaki pengejar asan di setiap buldan
Mendengar derap para pelari menuju pondok winaya
Mendengar petuah para guru yang terpajan di muka para pencari pemuas pemikiran

Surya kini merentangkan tangan panjang cahayanya
Membumbungkan asan para penjual lampin
Tuk jadi majikan tinta dan membeli sebuah pena dengan sebatang aurum
Meraba harapan budak-budak tuk mengukir cita di dada

Kini, surya sedang membuka mata
Melihat manusia mengejar kejayaan di belantara kehidupan
Melihat para bocah yang mengejar azam
Melihat bisu tumbuhnya asa dalam dada tiap insan

Sang surya pun menjadi saksi
Bagi para pencari dan budak, bagi para penjual lampin
Bagi para papa dan gahara
Bagi perjuangan tanpa limit menuju kemahsyuran wiyana nusantara
Bagi generasi penerus Muhammad bin Salamah
Tuk merebahkan peribahasa tua “Indah kabar dari rupa”
Kemudian berlari dengan asan penuh di dada
Tuk membelalakkan dunia(yrz)
Kamis, 28 Januari 2010

TANPA JUDUL

Jalan ini, memang dipenuhi darah dan airmata,,
Namun,
darah yang memberi warna keberanian sebuah revolusi akbar...
Air mata yang membasahi kerongkongan perjuangan, hingga hilang dahaganya

Jalan ini, terlampau banyak duri yang musti dihilangkan,
Namun,
Duri ini tlah meneguhkan kakiku tuk tetap membuatnya terpaksa tumpul dan tunduk dibawah kaki

Jalan ini,
jalan ini,
jalan ini,

Jalan ini,
penuh mutiara yang tersembunyi dan disembunyikan
maka, lewat revolusi akbar khan ku raih mutiara yang terbuang yang kini ada di tepi jurang yang para manusia takut tuk mengambilnya

Tak kan pernah berhenti,,
sebuah revolusi sampai akhir hidup ini
hingga yang Agung berada ditempatnya kembali

SALAM REVOLUSI
Rabu, 27 Januari 2010

ENTAH SAMPAI KAPAN

Entah sampai kapan
mereka akan tersadar bahwa negri ini
bukanlah panggung wayang golek yang butuh dalang org2 tak berguna

Entah sampai kapan
Manusia-manusia bodoh itu menejlma menjadi menteri berdasi
yang hanya bisa mengangguk pada pemilik kertas bernominal

Entah sampai kapan
boneka2 ini
menjadi pemeran utama di singgasana penentu
nasib jutaan manusia

Entah sampai kapan..............

"Apatah sampai generasi baru setelah kita yang nantinya berhasil menumbangkan peradaban busuk ini??"

atau

"Apatah cukup sampai disini saja peradaban ini berlenggak-lenggok,
dan generasi kita lah yang berhasil menumbangkannya??"
Sabtu, 19 Desember 2009

ESCAPIST

“Arggggggggggggggggggghhhhhhhhh………………………………”

“Nyebut tole….nyebut….”

“huh…………..huh………………….”

Ku rasakan tak karuan. Kacau. Rasa marah menyambut setiap pertanyaan yang kuajukan pada diriku sendiri.

“Sabar le,,,,sabar….”

Aku..aku bisa merasakan tangan emak yang membelai rambut dan mengusap dadaku. Tapi, aku…aku tak bisa mengendalikan kaki dan tanganku. Mereka seperti bagian lain dari tubuhku.

“Argghh……Arggh…..Argh……..”

Mulutkupun tak mau kalah liar.
“Huh,,huh”
Nafasku tersengal .Aku tak berdaya mengendalikan tubuhku sendiri. Aku lelah. AKU LELAH.
Mataku!!! Mataku!!! Aku tahu sorot matakupun ikut berlomba menjadi liar. Bengis, tajam, pancaran amarah. Aku..aku tak sangup melembutkan sorot mataku pada emak.
Aku lelah….aku lelah…..

“Argh…..Argh…..”
Teriakanku bertambah kencang setiap kali kurasakan tangan Abah yang renta menghalau gerak liar tubuhku.

“BRUK”

Suara itu sangat jelas. Dan bertambah nyata saat mataku dengan sorotnya yang tak berubah melihat abah yang tersungkur tak berdaya di lantai karena tendangan maut kakiku. Kemudian aku…..aku…….aku…..tak sadarkan diri.

---------------||----------------


“Piye le, rasane awakmu?”

Lega. Kini kubisa merasakan bahwa aku punya tangan dan kaki. Damai. Karna sorot mataku tak lagi penuh dengan amarah.

“Emak...Abah.....”
Senang. Mulutku menjinak. Aku kembali. Ha ha ha ha.........
“Apa kau haus? Emak ambilkan minum ya?”
Aku menggeleng. Kupegang tangan emak. Mengiba dengan tatapan mataku. Mencoba memohon padanya untuk tetap tinggal disamping ku.
”Apa yang kau pikirkan dan rasakan sekarang?”

Pertanyaan abah membuatku bisu daalm sekejap. Rasanya pun ingin bisu selamanya. Perlahan air mataku menetes. Namun hanya air mata hati. Aku....diantara tahu dan tidak tahu. Ah entahlah aku bingung. Aku tahu kenapa aku begini, tapi aku takut mengakui, bahkan mengakui pada diriku sendiri.


---------------||----------------

”Budi..... Budi......”

Sangat jelas. Ada yang memanggilku. Tapi aku tak peduli. Aku tak pedulikan mereka jika mereka memanggilku dengan nama Budi. Apakah ini berarti aku benci namaku? Sebegitu rumitkah aku?
Aku hanya tidak terima saja, ketika guru sekolah dasarku selalu mengeja kalimat ”Ini Ibu Budi ” atau ”Ini ayah Budi”. Andai aku punya ibu dan ayah, aku tak akan tersinggung. Aku hanyalah bayi tengil yang dipungut emak dan abah dari tumpukan sampah. Bahkan hidungku, kata emak, saat itu tertutup oleh pembalut wanita. Aku hanya benci. Hanya benci.

”Budi!! Aku memanggilmu dari tadi. Apa kau tak mendengarnya? Ehmmm..... Ini catatan Aljabar linear dan Pemrograman Terstruktur mu, kemarin ketinggalan di kampus.”

Kampus?? Heh... Halim mengingatkanku kalau aku mahasiswa. Aku ingin mengubur ingatan itu. Dan hampir berhasil, setidaknya sampai detik dimana ia menyebut kata kampus. Kata yang begitu aku benci, karena telah mengubah duniaku 180 derajat. Kata yang bisa membuat kepalaku penuh beban. Kampus..... tempat dimana aku hanya dididik untuk menjadi kapital hedonis dengan orientasi kebahagiaan materi. Tempat dimana aku, memulai debutku sebagai.......

”Oya, jangan lupa 2 hari lagi demo Final Project. Jadi rangkaian subtractor, divider dan modulo nya aku serahkan padamu.Oya Ujian akhir semester dimulai .....................”

Kepalaku.............mataku remang.......

”Budi..... Budi.....”

---------------||----------------

”Rangkaian mu sempurna. Hampir tak ada cacatnya. Bagaimana kau membuatnya?”

Asprak ini membuatku illfeel. Tapi sedikit menyenangkan ketika rangkaianku ia nilai perfect. Tapi sungguh, pembuatan rangkaian ini sangat mudah.

”Ini hanya rangkaian subtractor biasa. Rangkaian divider pun, dasarnya subtractor pula, sedangkan hasil modulo, diambil dari hasil subtractor akhir rangkaian divider.”

Apa penjelasanku cukup gmablang bagi mereka? Ah, apa pentingnya. Mereka lah yang bodoh jika tak mengerti ucapanku. Lagi pula nilai A sudah ada didepan mata karena ucapan “sempurna” nya. Ha ha ha……..

“Harus menggunakan rangkaian komparator pada rangkaian divider nya”
”Lalu, bagaimana bisa kau jadikan modulo sebagai outputnya, Budi?”

Dua kali sudah, manusia berjabatan asprak ini membuat ku kesal. Tapi nilai A nya, cukup meredamku.

”Counter up. Dengan rangkaian counter up”
“Aku tak melihatnya. Mana rangkaian counter up yang kau maksud itu?”

Ingin sekali rasanya aku lemparkan pena yang dari tadi kugenggam ke wajahnya. Tapi biarlah. Ku masih menganggapnya asprak bodoh yang saat semester satu selalu revisi praktikum.

“Dalam sub circuit. Saya buat IC sendiri.”

Kepalaku…..kenapa? kumohon jangan di saat2 seperti ini......

---------------||----------------

”Maaf nak Halim, apa Bapak boleh tahu kenapa anak Bapak, Budi, mendapat nilai E? Bahkan harus melakukan revisi minimal tiga kali?”
”Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Tapi Budi tidak mengerjakan tugas Praktikum nya. Uji rangkaian, ia hanya menyodorkan worksheet kosong, kemudian ia duduk, lalu diam dan tak menjawab sepatah katapun ketika penguji mengajukan pertanyaan padanya.”

Aku melihat kepala abah mengangguk-angguk, kala si Halim kudil itu berucap. Meski aku tak bisa mendengar apa yang mereka sedang perbincangkan, aku bisa menarik kesimpulan kalau abah sedang diguna-guna oleh halim, sampai abah tak berhenti menganggukkan kepala rentanya.


---------------||----------------

”BANGUN!! SADARLAH KAWAN!! KAU INI MASIH HIDUP!! KAU MASIH BERNYAWA…… JANGAN JADI PENGHAYAL SEJATI!!!”

Tepatnya, yang kurasakan, Halim seperti menyuruhku untuk jangan menjadi seorang escapist sejati. Yah…. Aku memang seorang escapist sejati. Membuat dunia khayalanku, dan lari dari kenyataan yang ada didepanku. Bahkan, Budi pun masuk sebagai actor utama dunia khayalku. Cerita kampus pun terilhami dari langit. Si kudil Halim, dia terpilih jadi pemeran pembantunya. Lantas siapa aku?? Aku tak tahu. Mungkin lain kali akan kujadikan kau sebagai tokoh dalam dunia khayalku. Namun yang pasti, aku adalah orang yang tlah terjerat selamanya dalam dunia khayal yang begitu nyata.