
KECENDERUNGAN
Mata terbelalak, melihat salah satu profil picture seorang kawan wanita mengenakan pakaian "kurang kain" dengan dipeluk sang kekasih(hasnt married yet). Ditambah lagi comment-comment mesum dari beberapa senior di kampus. Sungguh harus mengelus dada. Belum lagi chat2 tak bermutu yang tak menyedapkan mata. Dan mata kadung melihat. Astaghfirullah. Sebegini parahnya kah?
Tapi, ada sebuah note yang cukup mengundang perhatian. Note seorang sahabat yang kini berdomisili di Malang. Tentang dakwah. dan sy pun tergelitik untuk mengkomentari.
Metode dakwah. Itu bahasannya. hmmm... singkat cerita, sahabat saya online dan kami melakukan diskusi (not face to face) sampai pada sebuah kata "kecenderungan". Kecenderungan yang kata sahabat saya sering tidak kita sadari, bahkan termasuk saya, atau mungkin kalian.
Hmmm... sy berpikir sejenak. Jika kecenderungan ini dikaitkan dengan pendapat islam yang sy sampaikan dalam diskusi, saya rasa semua pun punya kecenderungan. Keimanan itupun sebuah kecenderungan (absolutely from thinking), sy pun memiliki kecenderungan pemahaman, bukan begitu? Bolehlah jika kawan2 tidak setuju, tapi bagi saya tanpa kecenderungan berarti keraguan pasti masih menghinggapi diri. Keraguan ttg apa? keraguan tentang dienullah yang sedang kita genggam sekarang.
Seperti apa yang pernah bang divan tuliskan dalam commentnya dlm menanggapi comment seorang anonymous. Logika yang sy terima hanya logika hukum syara'. bukan logika cost dan benefit. Dari mana pun datangnya anda, jika memang membawa dalil yang lebih kuat, pastilah sami'na wa atho'na. Bukan saatnya lagi menutup diri dari kebenaran yang dibawa saudara seiman meski berpijak pada pergerakan yang berbeda. Masa bodoh dengan nama, sy hanya tahu bahwa Al-Jamaah (dengan alif --> bukan tanpa alif--> lihat di HR at-Turmudzi no 2091, atau HR Ahmad no 109) harus di tegakkan. Mau cari apa dalam hidup ini klo bukan ghayatul ghayahnya seorang muslim?!
Kembali pada metode dakwah Rasulullah yang kita pahami tidak boleh ada perbedaan, jika memang acuan sama--> qur'an, sunah, ijma' shabat, dan juga qiyas, apapun bahasa penyebutannya pastilah sama pula. jadi tak akan dikatakan sama metodenya jika mengambil jalan tengah dengan sistem, misalkan. sudah sangat jelas sy rasa, apapun alasannya. Dan sy rasa ini bukan pendapat sebuah pergerakan, ini pendapat islam. Begitulah kira2.
Sekarang, memang sudah saatnya membuka mata terhadap kebenaran, meski kata orang kadang-kadang pahit (NB: dalam dimensi manusia). Karena kemenangan akan menyongsong tak lama lagi. Maka persiapkan diri kalian untuk menyambutnya. ALLAHU AKBAR
IT'S THE TIME!!!
Beberapa waktu yang lalu seorang kawan mengunjungi blog. Dan saya melakukan kunjungan balik. Ketika melihat blognya, saya jadi teringat kisah salah satu pejuang jenius favorit sy. Pemuda 21 tahun penakluk Konstantinopel. Pemuda yang memulai debutnya sebagai Sulthan dari umur 12 tahun, Pemuda yang dengan ide gilanya bisa membuat kapal berlayar di daratan. Subhanallah.
Kemudian, ini menjadi sebuah perenungan. Bagaimana dengan saya? Oh setiap hari lebih banyak waktu dihadapkan pada program code, pada compiler, pada terminal LINUX, pada console hitam putih command prompt. Dibanding dengan Muhammad The Second?? Pemuda yang tak pernah masbuk dalam sholatnya, yang tak pernah tertinggal tahajudnya. Dakwah?? sungguh beliau selalu pergi berjihad setiap 3 bulan sekali. Bahkan beliau meninggal ketika hendak berperang untuk menaklukkan kota kedua yang dijanjikan Rasulullah, Roma.
Bagaimana dengan saya? anda? para pejuang islam? berapa ayat yang telah kita sampaikan dalam 1 hari? sering kali kita menjadi orang yang minimalis, hingga mungkin hanya 1 ayat yang disampaikan. Berapa orang yg sudah menerima dakwah kita dalam 1 hari? hmmm.... Bahkan mungkin anda(bukan saya) masih takut untuk sekedar mengatakan demokrasi itu sistem kufur… hmmm..ingin jadi Al-Fatih??
Cukupkah dengan acara-acara besar yang kita gelar di Lembaga dakwah Kampus tanpa follow up dan pembentukan syakhsiyah islam dikatakan sebagai dakwah? Saya rasa kita semua sepakat untuk mengatakan tidak. Cukupkah dengan member materi sebatas amalan yaumiyah pada ummat dengan menyembunyikan kesempurnaan ideology islam disebut sebagai dakwah? Sy yakin kita semua sepakat lagi untuk mengatakan tidak. Lantas, bagaimana mungkin bisa menjadi sesosok Al-Fatih? Jika pemikiran kita saja masih belum bersih dari kotornya pemikiran sistem yang ada sekarang?
Muhammad II sempat akan mundur dari perang melawan pasukan Sebuah kota yang selama 800-an tahun tak bisa dikalahkan, karena ucapan salah satu petinggi saat itu. Tapi, memang kuasa ALLAH, lewat ucapan tangan kanannya Sang penakluk terus dengan pendiriannya untuk meraih gelar “panglima terbaik” yang dijanjikan Rasulullah. Bagaimana jika beliau mundur? Dan menerima sejumlah harta yang ditawarkan oleh Raja Konstantinopel saat itu? He3…
Bagaimana dengan kita? Takut menyampaikan islam sebagai sistem yang sempurna? Masih menganggap Khilafah adalah hal utopis yang amat jauh untuk dicapai? Tidak…semoga itu jawaban yang kita sepakati kali ini.
Sekali-kali bukan!! Bukan saya merasa diri lah yang sempurna. Kesepmurnaan itu hanya milik ALLAH dan RasulNya. Sombong?? Oh itu selendang ALLAH, sy sungguh tak berani menyentuhnya. Hanya saja, ketakutan, keraguan, sikap yang enggan untuk berkomitmen inilah yang menghalangi kemenangan. Lantas, apa yang harus dilakukan sekarang?
IT’S THE TIME FOR CHANGING OUR SELVES. Sekarang adalah waktunya menjemput kemenangan yang dijanjikan ALLAH SWT. There’s no second change. Cz after this, ISLAM WILL NEVER EVER BE DEFEATED. Ini waktunya kawan, menanggalkan seluruh keinginan eksistensi diri untuk selainNya. Apa yang kita takutkan jika surga ALLAH sudah tergambar jelas di console otak kita karena refleksi aqidah yang mantap? Masih kah kita ragu? Tidak,itu jawaban saya. Jawabanmu, Kawan??
OBROLAN
Semriwing suara mereka masuk ke telinga sy yang sy pasangi headset.
"Memang tidak akan ada habisnya."
Kata seorang kawan, yang duduk tepat di samping saya. sebut saja namanya Inem(gomen ne.)
"Yah memang begitulah."
timpal lawan bicaranya, sebut saja Paijo.
Saya mulai tertarik. Apa sich memang 'yang tidak ada habisnya itu'?
diam2 sy pelankan volume.
"Memang susah kalau bicara dengan orang keras kepala."
hmmmmmmm.....sejenak aktifitas meng-coding saya hentikan.
kemudian si Inem melanjutkan....
"Tidak akan pernah ada habisnya kalau bicara tentang kebenaran."
WAKS??
hmmmmm........
saya masih terdiam. program yang tengah sy buat pun tertelantarkan. layar console pun sy biarkan. comment debugging tak sy hiraukan.
"Yah memang begitulah. tak ada habisnya. palagi orangnya mau benar sendiri..."
balas paijo sembari mengetik di laptopnya. Sementara si Inem terus bicara. dan sy paham apa yang mereka bicarakan.
Dan cukup. Sy menyetop diri. bahasan yang tidak ada habisnya ketika membahas orang2 seperti mereka yang tidak tahu arti kebenaran. Obrolan pagi yang membuat sy teringat tulisan Akang Ridho Al-Hamdi dalam buku mungilnya Melawan Arus. Ketika masih duduk di bangku SMA, sungguh senang rasanya memndapat hadiah buku dng judul yang cukup menawan. Tapi isinya?
Karena seorang penganut deisme pun pasti mengakui kebenaran. Sangat melekat di otak tulisan bang Divan yang berjudul 'Mutlaknya Relativitas'. Bagi para penganut deisme kebenaran adalah aturan yang paling memuaskan atau paling logis dan argumentative ketika di benturkan. Berarti relativitas kebenaran itu sebenarnya tidak ada. Kebenaran itu tidak relative. http://www.divansemesta.com/search/label/Mutlaknya%20Relativitas.
Jadi mana mungkin pembahasan kebenaran tidak ada habisnya? yah memang kecuali pakai kaca mata kuda.
AKU...
Aku adalah anak kecil itu. Yang tiap hari kau lihat di perempatan lampu merah daerah sunter yang terpaksa mengamen demi sesuap nasi dan selembar Koran sebagai selimut.
Aku adalah anak kecil itu. Yang tiap hari melihatmu tersenyum lebar di surat kabar – surat kabar bergengsi di Ibu kota. Melihatmu tersenyum di kala bibirku bahkan bergerak pun tak sanggup. Melihatmu tersenyum di saat aku bahkan tak sanggup merintih karena lapar yang menyerang.
Aku adalah anak kecil itu. Yang diam-diam merengek kepadamu untuk kau beri sedikit nafas bahagiamu. Yang diam-diam sebenarnya menaruh harapan padamu agar suatu hari kau dapat mengangkat statusku.
Tapi, anak kecil itu sekarang sudah mulai jenuh melihat tingkahmu yang sok mewah, sok berkuasa, padahal kau ini tak lebih dari wakilku dan org2 sepertiku di sana. Tapi, kau malah berkhianat. Kau pikir kau ini siapa?
Aku lelaki yang baru saja terbaring dirumah sakit bersama istriku tercinta. Luka bakar ini membuat kami tak bisa bergerak. Padahal kami harus bekerja menafkahi ketiga buah hati kami.
Kami menerima keadaan kami, karena pasti Allah sangat sayang pada kami. Hingga Ia memberi cobaan bagi kami. Tapi kenyataan membuat kami bertanya-tanya. Kenapa masih saja orang2 berdatangan ke rumah sakit karena kasus yang sama dengan kami? Malah terkadang luka bakar mereka lebih serius, atau nyawa mereka tak terselamatkan.
Apakah ini cobaan? Atau buah dari kelalaianmu? Jika satu, dua atau tiga kasus itu normal adanya. Tapi ini? Coba kau hitung keabnormalan dari jumlah kasus yang terjadi selama satu bulan. Apakah ini sebuah konspirasi baru yang kau ciptakan? Ataukah buah dari keteledoran?
Aku baru saja berumur 5 bulan. Umur dimana seharusnya aku ditimang, disayang, dibelai oleh ibuku. Tapi apa yang ku dapat? Apa kau tahu?
Perutku buncit. Kulit ariku kusut. Mukaku lebam karena ibu memukulku. Tak tahan mendengar tangisanku, katanya. Sudah pusing dengan urusan cari makan, katanya. Akhirnya aku jadi pelampiasan.
Apa kau tahu? Aku hampir dibakar olehnya. Tak sanggup membelikan susu untukku, katanya. Jadi mending aku mati saja, pikirnya. Baru lahir tapi sudah menanggung hutang Negara, begitu teriaknya tiap hari padaku. Apa kau tahu???
Aku adalah pemuda itu. Pemuda yang melihat mobil dinasmu melintasi jalan dengan kawalan ketat. Pemuda yang muak melihat senyum palsumu yang kau beri pada rakyat.
Apakah bisa kau menjadi teladan kami? Haruskah kelak kami-generasi penerus bangsa- menjadi sepertimu? Seperti dirimu yang merangkul musuh negrimu. Sepertimu yang menangis hanya karena dugaan “ancaman” teroris yang ditujukan padamu. Sepertimu yang hanya bisa berkata manis dan membuai dengan wajah melasmu. Haruskah kami sepertimu?
Aku adalah orang tua yang sangat renta yang kau salami beberapa waktu yang lalu. Apakah kau masih mengingatku? Aku orang tua yang ada di pengungsian yang kau kunjungi saat itu. Kunjungan yang hanya menambah pertanyaan di otakku yang sudah sedikit tak berfungsi ini. Kenapa baru menjenguk rakyatmu? Kemana saja kau?
Kenapa tak kau beri kami alas tidur di barak pengungsian? Kenapa tak kau siapkan pakaian layak pakai bagi kami? Apakah kau tahu kalau aku, anak-anakku, dan cucuku kedinginan? Kenapa kau malah menjamu penjajah dengan bakso dan nasi goreng di tengah2 derita kami? Masih bisa kah kau makan dengan “yang muliamu ” itu, sementara rakyatmu hny makan dgn lauk mie yang bahkan tak baik untuk kesehatan? Masih bisakah kau tidur kelelahan setelah menjamu tamu amerikamu itu, sementara rakyatmu mengemis sebuah bantal?
Kenapa hanya tersenyum, PAK?? Begitu berarti kah pencitraanmu dibandingkan dengan nasib kami, rakyatmu?
Kenapa hanya menggelengkan kepala, PAK?? Begitu takutkah kau pada majikanmu hingga kau biarkan kami bergelimang kesengsaraan?
Kenapa hanya diam, PAK?? Tidak sanggupkah engkau menjadi pemimpin, hingga kami terbengkalai?
Kenapa PAK?? Tak punya jawaban?? Haruskah kami, rakyat yang kau anggap bodoh yang menjawab????
Hunuslah pedang Ali dan Aisyah di tempat yang pantas(Sebuah intorspeksi 16:125)
Mungkin ada hal yang terlupakan ketika kita mengedepankan otot-otot perdebatan -jika tidak dikatakan pertikaian-. Boleh jadi benar kita mempertahankan kebenaran, tetapi jika terselip kepentingan ’keperkasaan intelektual’, hingga kemudian mengakibatkan putus tali persaudaraan, bukankah dengan itu kita justru melakukan hal yang diharamkan? Ironisnya, jika keharaman itu hanya diakibatkan oleh perkara-perkara cabang, atau berupa kesalah-fahaman definisi yang masih mereka pegang. Dan na’udzubillah, jika kekisruhan itu dimunculkan atas nama ta’ashub pergerakan. Maka dimana letak tolok ukur amal (miqyasul ’amal) yang kita punya? Maka dimana kita menyembunyikan kaidah yang mengatakan bahwa menghindari kerusakan itu lebih utama dari pada mengambil kemaslahatan?
Pada saatnya kita memang perlu untuk meninggikan suara, tetapi, tetap pada saatnya. Sulit rasanya jika sejak awal kita berangkat dari kebencian. Bukan lah kita akan mendapat kebenaran, tetapi selalu saja pembenaran. Saya sendiri pernah berkata dalam hati: Lebih baik saya tak hafal dalil! Jika dengannya hanya sebagai bekal untuk menyakiti. Bukankah dakwah ini karena kita cinta, hingga menyampaikannya pun harus dengan cinta. ”Katakanlah kebenaran walau pahit!”, tetapi apa harus dengan meninggalkan luka?
Agama ini bukan untuk gagah-gagahan, Kawan. Maka seberapa toleran kita pada yang lemah? Seberapa sabarkah kita memposisikan diri sebagai ’pencerah’? Tancapkanlah dalam hati, bahwa semua aktivitas membentak, mengumpat atas nama dakwah, pada hakekatnya hanya menunjukkan bahwa diri kita lebih menguasai. Bahkan di saat yang sama, ia menunjukkan terbatasnya asa, sikap yang tergesa-gesa, atau rapuhnya jiwa kita, bahkan ia pun menunjukkan seberapa kemampuan kita.
Tegaslah jika memang harus tegas, keraslah kalau memang harus keras, tetapi semua itu harus dilandaskan atas argumentasi, bukan sekedar emosi sampai-sampai mengumbar aib tiap-tiap pribadi. Atau sesumbar dengan kebaikan-kebaikan diri. Atau pembantaian mental berupa cibiran dan hinaan yang ditujukan kepada saudara Muslim sendiri.
Dan ingatlah, Kawan, ingat! Siapa yang bergembira di balik sana di saat pedang Ali dan Aisyah -radhiyallahu ’anhum- berkelebat satu sama lain? Ah, tak perlulah aku jawab pertanyaan itu di sini. Kitapun sama-sama tahu siapa musuh sesungguhnya saat ini.
Terakhir, sengaja kubuat tulisan ini sebagai instrospeksi diri pribadi, namun barangkali akan terpakai pula oleh kawan sesama peniti jalan ini. Karena lagi-lagi, khawatirnya, kita yang mengerti konsep Gharizah Al-Baqa’ malah justru terjebak dengan Baqa’ sendiri. Khawatirnya, ilmu yang kita miliki belum cukup didukung dengan keikhlasan hati. Khawatirnya, ’kaburo maqtan ’indaLlahi..’. Khawatirnya, wal-’Iyadzubillah..
Maka sekiranya ada yang ’tersamar’, akhiri perkataan dengan istighfar. Dan jika hal itu pernah menimpamu dariku, maka tak segan-segan kukatakan padamu: Terimalah maafku, Kawan.
copied from:
http://ahsanhakim.blogspot.com/
nice writing, bro...
di persimpangan pertigaan kah?
Kejadian ini sudah lama, tapi ya nggak lama-lama amat. Tepatnya awal-awal semester dua kuliah. Masih canggung bagiku untuk bergaul, meski sudah sekitar 6 bulanan berada di tempat baru ini. Maklum, agak “Aku agak pendiam orangnya. Kalem. Tidak banyak bicara. Santun, ramah, baik hati, gemar menolong, tidak sombong, dan suka nodong”. Tapi apa daya, kewajiban dakwah membuatku harus memutar otak untuk menyebarkan ideology ini.
Siang itu, aku mengelilingi kampus hampir ada 7 kali. Suer, bro. Ya maksudnya bukan mengelilingi seperti ritual mengelilingi rumah sebanyak 40 kali agar kau bisa melihat wujud asli jin(kata seorang teman dari Joga), tapi bolak – balik lantai 1 kemudian lantai dua lalu lantai 3 untuk sekedar mencari “mangsa”. Akhirnya setelah hampir 2 jam, aku menemukan segerombolan orang. Untunglah kawan seangkatan. Jadilah mereka mangsaku. Tapi, entah aku harus mengatakan sayang atau bagaimanakah seharusnya yang kutemui adalah noni. Jadilah bulletin islam yang kubawa tak jadi kusebar pula. Tapi, jelas taka pa bagiku. Dakwah itu ditujukan pada semuanya. Meski musyrifah pernah berkata bahwa sekarang concern dakwah kita bukan pada mereka yang noni(dimana sampai sekarang aku masih tidak setuju dengan beliau tentang hal ini), aku tetap mencoba untuk membuka pintu hati mereka. Berharap bahwasanya ALLAH SWT mau berbaik hati kepadaku dengan menjadikanku sebagai perantara datangnya hidayah buat mereka.
Mungkin pengalaman ini masih kalah jauh dgn pengalaman bang Divan dkk, yang ku rasa sudah sampe mual2 memakan asin-asemnya suatu perdebatan teologis. Tapi yah, bagiku, kuanggap ini sebagai pengukuh keimananku. Setidaknya selain tulisan bang divan yang berjudul “atheisme”, aku punya pengalaman itu.
Kebetulan kawan pertamaku adalah seorang hindhu. Mulanya aku awali dengan bertanya;
“Sebenarnya kau ini beragama hindhu atau Budha?”
Sedikit mendramatisir keadaan, dy menghela nafasnya. Panjang sekali menurutku.
“Insyaallah Hindhu”, jawabnya.
Insyaallah?? Jika Allah menghendaki??? Aneh pula kawanku ini. Harusny kutanyakan pula apakah dy seorng muslim. Pakah dy berada dipersimpangan tiga agama. Hingga ia memasang dua dewa dari dua agama berbeda, dan mengucapkan sebuah kata khas muslim? Namun belum sempat aku mengolah kata, dy brtanya;
“Ada apakah gerangan dikau bertanya?”
“hmm… hanya heran dengan stiker yang ada di laptopmu. Dua dewa dari dua agama yang berbeda.”
Dy tertawa. Tak lucu bagiku. Yah kalian tahu, itu adalah hal yang sakral.
“Apa kau tidak bingung menyembah dewa-dewa yang tugasnya satu sama lain bertentangan?”
Maklum pertanyaan polos.
“Sebenarnya kami sama dengan kalian. Kami menyembah Tuhan.”
Aku berontak. Jelaslah, tak mau aku disamakan dgn penyembah berhala. Penyembah patung2 tak jelas bertangan lebih dari dua.
“Bagaimana bisa?”, tanyaku sambil sedikit melotot.
“Dewa-dewa ini bagi kami seperti halnya Nabi atau Rasul dalam agama kalian.”
Semakin berontak. Nabi-nabiku tak ada yang menjadi perusak seperti salah satu dewa mereka.
“Hmm…. Bagaimana bisa sama? Nabiku tidak pernah menyuruh kami untuk menyembah mereka.”
“Dewa-dewa ini hanya sebagai perantara antara kami dgn Tuhan.”
“Berarti kita berbeda. Tuhanku tak pernah menyuruh utusanNya untuk menjadikan mereka sebagai perantara. Berarti Tuhan kita berbeda. ”
“Yah memang itulah kepercayaan kami, yang kami yakini kebenarannya, Y.”
“Bagaimana mungkin kalian bisa meyakini sebuah ajaran yang dibawa dewa-dewa yang bahkan tiap kisah dari dewa itu kalian katakan sebagai dongeng para rahib kalian?”
Aku tak tahu apa yang saat itu dy pikirkan. Yang jelas, aku yakin sudah mengguncangkan keimanannya. Keimanan pada legenda Dewa-dewa yang mereka sebut sebagai dongeng dari rahib mereka. Tapi, mungkin hidayah itu tidak turun sekarang atau melaluiku. Hingga ujung-ujungnya dia berkata;
“Sudahlah, Perbedaan itu anugrah. Tuhan lah yang menghendaki perbedaan itu. Kita harus menghargainya. Tanyalah pada petinggi agamaku di pura yang biasa aku kunjungi disini.”
Dan kemudian ia berlalu tanpa pamit sembari mengambil bulletin Islam yang dari tadi sengaja kuletakkan di atas meja. Alhamdulillah, batinku.
Tp, sebenrnya ingin sekali kutanyakan padanya. Perbedaan seperti apakah yang ia maksud? Jika perbedaan dalam ranah teologi, dari mana ia tahu bahwa itu kehendak Tuhan, jika dapat kita buktikan dengan gampang bahwasanya kami amat berbeda dari segi teologi itu sendiri? Ah, bagaimana aku bs percaya pada kata2 seseorang korban doktrin rahibnya?
Wallahua’lam.
GAZA TIDAK BUTUH KAU

Gaza tak butuh kau...Gaza tak butuh aku.. Yang Gaza butuhkan adalah Allah SWT. karena Gaza itu milikNya...
Kitalah yang butuh Gaza.. Kitalah yang butuh Gaza... Kitalah yang butuh Gaza...
Kita yang butuh Gaza, agar tercatat nama kita di sisiNya sebagai hamba yang bergerak untuk menolong agamaNya..
http://burjo.wordpress.com/2010/06/03/gaza-tidak-membutuhkanmu/
HIDUP
Singkatnya sms itu berisi sbuah pertanyaan, yng menurutnya filosofis (jujur, sbnrnya sy kurang begitu paham makna kata filosofis :d). Pertanyaan itu mengingatkan sy pada keponakan tercinta. Yah, kebetulan sy sedang rindu berat pada nya. Surabaya-jogja tidaklah dekat, jd frekuensi bertemu jd sgt jarang.
Suatu hari,pernah sy mengajak keponakan perdana untuk jalan2(really walk by foot). Saat itu kira2 usianya belum ada satu setengah tahun..ya mislkan umurnya saya misalkan x, maka codomain nya adalah 1
Ditulisan ini, sy tak hendak bercerita tentang keponakan perdana sy. Sy tak hendak cerita bagaimana lebih girangnya syauki bermain dengan kambing dari pada dengan saya. Atau saya tak hendak membuat cerpen tentang apa saja yang dia lakukan ketika mandi, yang menghabiskan waktu lebih lama dari saya.
Ya kembali ke pertanyaan kawan saya, yg membuat sy menulis artikel ini, setelah sebelumnya sy sedikit(baca: rada banyak) bercuap-cuap tentang keponakan saya. Kawan saya bertanya ttg apa arti hidup ini menurut sy. Hmmmm…. Jujur saja, sy bukan tipe orang yang memikirkan hal seperti itu. Sedikit tergelitik, atau lebih tepatnya muncul pula keinginan untuk mencari-cari. Dan akhirnya yang ada sy setuju dengan pendapat org kebanyakan tentang definisi hidup.
Ada yang mengatakan hidup itu pilihan. Sy setuju. Hidup adalah sebuah perjalanan. Hidup itu perjuangan. Hidup itu untuk berbagi dengan sesama. Segudang definisi hidup yang sy dapatkan ketika sy mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang kawan sy lontarkan tersebut. Nothing wrong, menurut sy. Hanya saja sy lebih melihat “Hidup” dari sudut pandang yang hidup. Bahwa hidup bukanlah mati. Bahwa hidup itu hidup. Ada kehidupan. Ah susahnya didefinisikan. :d
Bagi sy, apapun makanannya yang penting minumnya teh botol sosro. :d Maksudnya, apapun definisi hidup, bagi sy yg terpenting adalah tujuannya. Ketika sy memutuskan untuk memandang “Hidup” dari sudut pandang yang hidup, maka sy pahami bahwa dalam hidup ini tidaklah boleh ada suatu kediaman, harus ada pergerakan. Pergerakan yang didasarkan pada tujuan hidup. Tujuan hidup yang di dapat dari si Empunya hidup. Begitulah. Ketika yang sy pahami adalah demikian, maka sy pun tak boleh diam. Mau tak mau harus bergerak. Harus berbuat. Harus beraktifitas.
Nah inilah yang menurut sy menjadi kasusnya- Aktifitas saat hidup- yg seperti sy jelaskan di atas, harus punya tujuan. Maka, tujuan itu tak sy cari kemana-mana, seperti halnya beberapa kawan2 mahasiswa sy yg bermacam2 tujuannya sampai ada yg bingung ketika ditanya apa tujuan hidupnya saat di forum pengkaderan(baca: OSPEK). Saat itu ada yang menjawab, ingin membahagiakan keluarga dan orang tua, jadi orang sukses, dsb. Sangat prestige mungkin bagi mereka. Lantas sy bertanya (meski dalam hati), klo abis orang tua dan keluarga nya bahagia, dy mau apa? Setelah jadi org sukses(yang mungkin definisinya banyak) trus mau apa lagi?hmmmm…..
Maka dari itu, sy tak mau susah2 mncari tujuan hidup sy, sampai harus menyelam samudera pasifik. Allah sudah memberitahukan tujuan hidup ini pada kita, yakni beribadah kepadaNya. So based on this, pikiran sy hanya simple saja. Otomatis pergerakan(baca: aktifitas) sy harus berdasarkan apa yang diperintahkanNYA. Simple kan? Itulah tujuan hidup sy. Sy sama sekali tak punya tujuan untuk menjadikan keluarga sy kelak seperti keluarga sukses dengan parameter keluarga Bernaulli, yg dari buyut sampe cicit adalah ahli matematika. Mulai dari Jacob I, Johan I, Nicoulas, Daniel, Jacob II dst. Atau sy tak bertujuan menjadi seorang yang kaya raya seperti Bill Gates, atau penguasa IT lainnya. Tujuan sy hanya satu. ‘ibadallah untuk menggapai ridhoNya.
So, simple nya semua aktifitas yg sy lakukan semata-mata mendukung tujuan hidup sy. Sy memang berkeinginan menjadi perancang dan ahli network security yang handal dikemudian hari, tapi hal itu tak lepas dari tujuan hidup sy. Kalau sy ceritakan apa planning sy terkait hal ini, jadi panjang nantinya. :d
Ya intinya sekali lagi, bg sy tak penting apa arti/ definisi hidup. Wew, anda boleh kok tak setuju dengan perkataan sy. Anda punya hak. Toh tidak ada keharaman hukumnya ketika anda tidak setuju dengan pendapat sy. Bagi sy, pergerakan yg terjadi saat hidup, itulah masalahnya. :d
NB:
Smg bs menjawab….
BERLARI DENGAN ASAN

Kini
Surya tengah melebarkan telinganya
Mendengar suara genta sekolah pagi buta
Mendengar jejak kaki pengejar asan di setiap buldan
Mendengar derap para pelari menuju pondok winaya
Mendengar petuah para guru yang terpajan di muka para pencari pemuas pemikiran
Surya kini merentangkan tangan panjang cahayanya
Membumbungkan asan para penjual lampin
Tuk jadi majikan tinta dan membeli sebuah pena dengan sebatang aurum
Meraba harapan budak-budak tuk mengukir cita di dada
Kini, surya sedang membuka mata
Melihat manusia mengejar kejayaan di belantara kehidupan
Melihat para bocah yang mengejar azam
Melihat bisu tumbuhnya asa dalam dada tiap insan
Sang surya pun menjadi saksi
Bagi para pencari dan budak, bagi para penjual lampin
Bagi para papa dan gahara
Bagi perjuangan tanpa limit menuju kemahsyuran wiyana nusantara
Bagi generasi penerus Muhammad bin Salamah
Tuk merebahkan peribahasa tua “Indah kabar dari rupa”
Kemudian berlari dengan asan penuh di dada
Tuk membelalakkan dunia(yrz)
TANPA JUDUL
Namun,
darah yang memberi warna keberanian sebuah revolusi akbar...
Air mata yang membasahi kerongkongan perjuangan, hingga hilang dahaganya
Jalan ini, terlampau banyak duri yang musti dihilangkan,
Namun,
Duri ini tlah meneguhkan kakiku tuk tetap membuatnya terpaksa tumpul dan tunduk dibawah kaki
Jalan ini,
jalan ini,
jalan ini,
Jalan ini,
penuh mutiara yang tersembunyi dan disembunyikan
maka, lewat revolusi akbar khan ku raih mutiara yang terbuang yang kini ada di tepi jurang yang para manusia takut tuk mengambilnya
Tak kan pernah berhenti,,
sebuah revolusi sampai akhir hidup ini
hingga yang Agung berada ditempatnya kembali
SALAM REVOLUSI
ENTAH SAMPAI KAPAN
mereka akan tersadar bahwa negri ini
bukanlah panggung wayang golek yang butuh dalang org2 tak berguna
Entah sampai kapan
Manusia-manusia bodoh itu menejlma menjadi menteri berdasi
yang hanya bisa mengangguk pada pemilik kertas bernominal
Entah sampai kapan
boneka2 ini
menjadi pemeran utama di singgasana penentu
nasib jutaan manusia
Entah sampai kapan..............
"Apatah sampai generasi baru setelah kita yang nantinya berhasil menumbangkan peradaban busuk ini??"
atau
"Apatah cukup sampai disini saja peradaban ini berlenggak-lenggok,
dan generasi kita lah yang berhasil menumbangkannya??"
ESCAPIST
“Nyebut tole….nyebut….”
“huh…………..huh………………….”
Ku rasakan tak karuan. Kacau. Rasa marah menyambut setiap pertanyaan yang kuajukan pada diriku sendiri.
“Sabar le,,,,sabar….”
Aku..aku bisa merasakan tangan emak yang membelai rambut dan mengusap dadaku. Tapi, aku…aku tak bisa mengendalikan kaki dan tanganku. Mereka seperti bagian lain dari tubuhku.
“Argghh……Arggh…..Argh……..”
Mulutkupun tak mau kalah liar.
“Huh,,huh”
Nafasku tersengal .Aku tak berdaya mengendalikan tubuhku sendiri. Aku lelah. AKU LELAH.
Mataku!!! Mataku!!! Aku tahu sorot matakupun ikut berlomba menjadi liar. Bengis, tajam, pancaran amarah. Aku..aku tak sangup melembutkan sorot mataku pada emak.
Aku lelah….aku lelah…..
“Argh…..Argh…..”
Teriakanku bertambah kencang setiap kali kurasakan tangan Abah yang renta menghalau gerak liar tubuhku.
“BRUK”
Suara itu sangat jelas. Dan bertambah nyata saat mataku dengan sorotnya yang tak berubah melihat abah yang tersungkur tak berdaya di lantai karena tendangan maut kakiku. Kemudian aku…..aku…….aku…..tak sadarkan diri.
---------------||----------------
“Piye le, rasane awakmu?”
Lega. Kini kubisa merasakan bahwa aku punya tangan dan kaki. Damai. Karna sorot mataku tak lagi penuh dengan amarah.
“Emak...Abah.....”
Senang. Mulutku menjinak. Aku kembali. Ha ha ha ha.........
“Apa kau haus? Emak ambilkan minum ya?”
Aku menggeleng. Kupegang tangan emak. Mengiba dengan tatapan mataku. Mencoba memohon padanya untuk tetap tinggal disamping ku.
”Apa yang kau pikirkan dan rasakan sekarang?”
Pertanyaan abah membuatku bisu daalm sekejap. Rasanya pun ingin bisu selamanya. Perlahan air mataku menetes. Namun hanya air mata hati. Aku....diantara tahu dan tidak tahu. Ah entahlah aku bingung. Aku tahu kenapa aku begini, tapi aku takut mengakui, bahkan mengakui pada diriku sendiri.
---------------||----------------
”Budi..... Budi......”
Sangat jelas. Ada yang memanggilku. Tapi aku tak peduli. Aku tak pedulikan mereka jika mereka memanggilku dengan nama Budi. Apakah ini berarti aku benci namaku? Sebegitu rumitkah aku?
Aku hanya tidak terima saja, ketika guru sekolah dasarku selalu mengeja kalimat ”Ini Ibu Budi ” atau ”Ini ayah Budi”. Andai aku punya ibu dan ayah, aku tak akan tersinggung. Aku hanyalah bayi tengil yang dipungut emak dan abah dari tumpukan sampah. Bahkan hidungku, kata emak, saat itu tertutup oleh pembalut wanita. Aku hanya benci. Hanya benci.
”Budi!! Aku memanggilmu dari tadi. Apa kau tak mendengarnya? Ehmmm..... Ini catatan Aljabar linear dan Pemrograman Terstruktur mu, kemarin ketinggalan di kampus.”
Kampus?? Heh... Halim mengingatkanku kalau aku mahasiswa. Aku ingin mengubur ingatan itu. Dan hampir berhasil, setidaknya sampai detik dimana ia menyebut kata kampus. Kata yang begitu aku benci, karena telah mengubah duniaku 180 derajat. Kata yang bisa membuat kepalaku penuh beban. Kampus..... tempat dimana aku hanya dididik untuk menjadi kapital hedonis dengan orientasi kebahagiaan materi. Tempat dimana aku, memulai debutku sebagai.......
”Oya, jangan lupa 2 hari lagi demo Final Project. Jadi rangkaian subtractor, divider dan modulo nya aku serahkan padamu.Oya Ujian akhir semester dimulai .....................”
Kepalaku.............mataku remang.......
”Budi..... Budi.....”
---------------||----------------
”Rangkaian mu sempurna. Hampir tak ada cacatnya. Bagaimana kau membuatnya?”
Asprak ini membuatku illfeel. Tapi sedikit menyenangkan ketika rangkaianku ia nilai perfect. Tapi sungguh, pembuatan rangkaian ini sangat mudah.
”Ini hanya rangkaian subtractor biasa. Rangkaian divider pun, dasarnya subtractor pula, sedangkan hasil modulo, diambil dari hasil subtractor akhir rangkaian divider.”
Apa penjelasanku cukup gmablang bagi mereka? Ah, apa pentingnya. Mereka lah yang bodoh jika tak mengerti ucapanku. Lagi pula nilai A sudah ada didepan mata karena ucapan “sempurna” nya. Ha ha ha……..
“Harus menggunakan rangkaian komparator pada rangkaian divider nya”
”Lalu, bagaimana bisa kau jadikan modulo sebagai outputnya, Budi?”
Dua kali sudah, manusia berjabatan asprak ini membuat ku kesal. Tapi nilai A nya, cukup meredamku.
”Counter up. Dengan rangkaian counter up”
“Aku tak melihatnya. Mana rangkaian counter up yang kau maksud itu?”
Ingin sekali rasanya aku lemparkan pena yang dari tadi kugenggam ke wajahnya. Tapi biarlah. Ku masih menganggapnya asprak bodoh yang saat semester satu selalu revisi praktikum.
“Dalam sub circuit. Saya buat IC sendiri.”
Kepalaku…..kenapa? kumohon jangan di saat2 seperti ini......
---------------||----------------
”Maaf nak Halim, apa Bapak boleh tahu kenapa anak Bapak, Budi, mendapat nilai E? Bahkan harus melakukan revisi minimal tiga kali?”
”Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Tapi Budi tidak mengerjakan tugas Praktikum nya. Uji rangkaian, ia hanya menyodorkan worksheet kosong, kemudian ia duduk, lalu diam dan tak menjawab sepatah katapun ketika penguji mengajukan pertanyaan padanya.”
Aku melihat kepala abah mengangguk-angguk, kala si Halim kudil itu berucap. Meski aku tak bisa mendengar apa yang mereka sedang perbincangkan, aku bisa menarik kesimpulan kalau abah sedang diguna-guna oleh halim, sampai abah tak berhenti menganggukkan kepala rentanya.
---------------||----------------
”BANGUN!! SADARLAH KAWAN!! KAU INI MASIH HIDUP!! KAU MASIH BERNYAWA…… JANGAN JADI PENGHAYAL SEJATI!!!”
Tepatnya, yang kurasakan, Halim seperti menyuruhku untuk jangan menjadi seorang escapist sejati. Yah…. Aku memang seorang escapist sejati. Membuat dunia khayalanku, dan lari dari kenyataan yang ada didepanku. Bahkan, Budi pun masuk sebagai actor utama dunia khayalku. Cerita kampus pun terilhami dari langit. Si kudil Halim, dia terpilih jadi pemeran pembantunya. Lantas siapa aku?? Aku tak tahu. Mungkin lain kali akan kujadikan kau sebagai tokoh dalam dunia khayalku. Namun yang pasti, aku adalah orang yang tlah terjerat selamanya dalam dunia khayal yang begitu nyata.
susah memang..............
Dan kemudian, sy pun terhenyak. Elokkah pertanyaan sy? Bukankah ini namanya nafsu sesaat? Bukankah ni yg dinamakan kesombongan implisit? Bukankah sy hanya manusia biasa, yg tak punya kuasa untuk membolak-balik hati manusia? Lantas bagaimana bisa sy berpikir demikian?
Sy pun sadar, bahwa dakwah tidaklah instant. Nabi pun perlu waktu untuk bisa membuka hati Umar. bahkan Nabi pun tidak bisa membuka pintu hati pamannya untuk menerima islm, hingga pamannya meninggal. Lantas bagaimana dengan sy yg baru mendakwahkan islam pada kawan2 sy yang baru sekali sy lakukan pada mereka?
Dan sy sadar jua, sy bukanlah Tuhan yang bisa memberi hidayah pada setiap manusia. sy hanya menyampaikan, dan setelah itu adalah urusan Tuhan. Dan dunia dakwah tidak butuh org yg hanya punya semangat saja(apalagi semngt sesaat), tpi butuh org yng punya "ilmu retorika yang mengguncang dunia".
"KHILAFAH, TEGAKKAN!!"
"TEGAKKAN"
"KHILAFAH"
"TEGAKKAN"
Itulah teriakan-teriakan yang terus kami gemakan dalam aksi damai yang bertemakan "Selamatkan Indonesia dari sitem dan birokrat korup dengan syari'ah dan khilafah".
Dengan penuh semangat, kami terus meneriakkannya dari awal hingga akhir aksi.Meskipun panas Matahari Surabaya membakar ubun-ubun kami sejak pukul 9 pagi hingga pukul 11.30, tapi kekhidmatan aksi ini tak berkurang.
Meskipun peluh tak pernah berhenti keluar dari kulit tubuh kami, namun kami tak sedikitpun menurunkan Bendera Al-Liwa' dan Ar-Raya.
Rasa lelah pastilah terasa, tetapi pemandangan kibaran bendera Islam semakin menguatkan kaki dan tangan kami. Lantunan kalimat Tauhid yang jua digemakan semakin meyakinkan kami bahwa janji Allah pasti kan datang. "KHILAFAH ADALAH JANJI ALLAH". Tak ada sedikitpun keraguan yang menyerembul di hati kami.
Meski berkali-kali mengalami penolakan, namun kami tak patah semangat menyebarkan Lembar-lembar kertas yang berisikan opini penegakkan syariah dan khilafah pada para pengguna jalan. Ya, sewajarnya, ada yang menolak, ada yang menerima lantas membuangnya, dan ada pula yang menerima kemudian membacanya(insyaallah).
Dalam hati, kami terus berdoa agar Allah membukakan pintu hati setiap pengguna jalan yang menjadikan kami pusat perhatian ketika mereka melintas.
Dan dalam setiap doa, kami selalu memohon agar Allah menyegerakan tegaknya Daulah Khilafah yang akan menaungi seluruh umat, hingga disetiap pelosok dunia tak akan ada lagi orang yang meragukan kekuasaanNYA.
Dan dalam setiap sujudku, aku selalu memohon agar Allah meridhoiku menjadi pejuangNya, dan agar Allah memberiku ijin untuk merasakan hidup dibawah tegaknya panji-panji islam.Amin.
"Ya Allah jika dengan nyawaku, SyariahMu bisa tegak dan Daulah bisa berdiri, maka seandainya aku punya 1000 nyawa, maka ambillah semua. Namun pintaku, ijinkanlah hamba menikmati kemenangan itu walau hanya sedetik saja."
KMII, ALLAHU AKBAR
Demokrasi, demokrasi, demokrasi pasti mati…
Khilafah, Khilafah, akan tegak kembali…
Khilafah, Khilafah janji Allah yang pasti…
Itulah salah satu yel-yel yang dinyanyikan lebih dari 5000 mahasiswa-mahasiswi Islam dari berbagai perguruan tinggi dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, Bali, Madura dan Jawa dalam Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII), Ahad (18/10) di depan Basket Hall, Senayan, Jakarta.
Dengan penuh semangat, dari pagi hingga matahari tepat di atas kepala, mereka berulang kali melompat-lompat menerikan yel tersebut di sela-sela orasi para cendikiawan Muslim diantaranya adalah Fahmi Amhar, Dwi Condro Triono dan Fahmi Luqman di samping orasi dari para perwakilan mahasiswa.
Meskipun tidak turut melompat-lompat, sekitar seribu mahasiswi yang berdiri di sebelah kanan yang terpisah secara tegas dengan barisan mahasiswa, tidak kalah semangatnya, sambil mengangkat tangan terkepal, seirama menerikan yel tersebut.
Itulah salah satu ciri yang membedakan mahasiswa Islam dengan mahasiswa sekuler. Sehingga bukan hanya di masjid, barisan laki-laki dan perempuan terpisah. Di lapangan terbuka pun hukum Islam terkait dengan interaksi pria-wanita tetap diamalkan. Sehingga campur baur yang biasa terjadi dikalangan mahasiswa sekuler, tidak akan ditemukan dalam kelompok mahasiswa yang menjunjung tinggi syariah Islam.
Tonggak Perubahan
Kongres yang diselenggarakan Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) tersebut ialah sebagai koreksi atas pergerakan mahasiswa yang selama ini ada. Kongres menilai pergerakan mahasiswa yang ada selama ini lebih bersifat pragmatis dan demi kepentingan sesaat.
Fenomena itu bisa dilihat dari berbagai angkatan termasuk mahasiswa angkatan ’98 maupun ’66. Demi kepentingan perut semata mereka berebut kursi kekuasaan mengorbankan idealisme mereka sendiri ketika masih mahasiswa.
Bahkan lebih jauh dari itu, seperti yang dinyatakan Erwin Permana, Koordinator Badan Eksekutif Nasional BKLDK kepada Media Umat di sela-sela kongres, KMII ini merupakan koreksi total terhadap Sumpah Pemuda yang dilaksanakan pada 28 Oktober 1928 lalu.
KMII ini merupakan momentum dan tonggak perubahan sejarah mahasiswa atau pemuda kelak. "Kita bisa mengambil pelajaran dari Sumpah Pemuda 1928, sumpah tersebut dapat membawa arus perubahan dalam pergerakan pemuda untuk lepas dari penjajahan yang ada saat itu," ujar mahasiswa pasca sarjana UI tersebut.
Sumpah Pemuda mengubah persepsi para pemuda sehingga sadar dan bangkit bersama-sama mengusir penjajah. Namun sayangnya, mereka hanya berhasil mengusir penjajahan militer. Sedangkan penjajahan di bidang lain seperti penjajahan dalam bentuk politik, ekonomi, pergaulan, dan pendidikan masih terus berlangsung hingga saat ini.
Itu bukan karena perjuangan mereka yang melanggar sumpah. Tetapi konteks sumpahnya itulah yang bermasalah sehingga mereka hanya berkutat pada perjuangan melawan penjajahan militer.
"Sehingga kalau kita lihat konteks Indonesia kekinian memang penjajahan secara fisik itu tidak ada, tetapi secara ekonomi, politik, budaya, kita dijajah. Mengapa penjajahan non fisik ini tetap ada? Karena memang intelektual kitalah yang dijajah," ujarnya.
Oleh karenanya, Erwin menandaskan pemuda sekarang haruslah sadar dan bangkit secara intelektual. Terkait dengan itu, mahasiswa Islamlah yang sudah seharusnya menjadi garda terdepan dan menjadi motor penggerak untuk menyatukan dan membangun visi intelektual menuju Indonesia yang lebih baik.
Terbebas dari penghambaan terhadap manusia sehingga hanya perintah dan larangan dari Allah SWT saja yang layak diikuti karena memang hanya Allah SWT yang layak disembah seperti yang telah dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW.
Jadi pergerakan mahasiswa Islam ke depan bukanlah perjuangan revolusioner radikal yang memiliki cita-cita pendek dan dangkal yang akan menggantikan sistem yang satu dengan sistem buatan manusia lainnya. Bukan pula perjuangan yang hanya menggantikan penguasa tiran dengan penguasa tiran lainnya.
Akan tetapi pergerakan mahasiswa Islam ideologis. Berjuang dengan misi pembebasan umat manusia. Membebaskan manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Allah, Tuhannya manusia. Membebaskan manusia dari sistem buatan manusia menuju sistem buatan Allah SWT, Tuhan semesta raya.
Sumpah Mahasiswa
Semua duduk, hening, khusyu’ saat dibacakan ayat-ayat suci Alquran bahkan menangis ketika dibacakan do’a. Namun sorak sorai kembali membahana ketika mereka meneriakkan, "Allahu Akbar…! Allahu Akbar…! Allahu Akbar…!"
Mendekati puncak acara, yakni pembacaan Sumpah Mahasiswa, matahari semakin terik membakar, mendidihkan jiwa muda mereka yang semakin muak dengan sistem kufur yang selama ini diterapkan di Indonesia dan negeri-negeri Muslim lainnya.
Maka selain takbir dan yel Khilafah janji Allah yang pasti, dengan penuh semangat mereka pun meneriakan, "Demokrasi… hancurkan…! Kapitalisme… hancurkan…!", "Sosialisme… hancurkan…! Komunisme… hancurkan…!",
Mereka pun sangat rindu penerapan syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah menggantikan sistem buatan manusia yang selama terbukti secara telak sangat menyengsarakan manusia di dunia ini. Apalagi di akhirat nanti seperti yang telah Allah SWT tegaskan dalam Alquran.
Maka dengan tubuh yang bermandikan peluh dengan lantang mereka meneriakan, "Syariah… tegakkan…!, Khilafah…Tegakkan…!". Allahu Akbar… kemudian teriakan "khilafah, khilafah, khilafah…!" bergemuruh.
Tibalah acara puncak, semua peserta mengankat tangan kanannya dan mengacungkan jari telunjuk seraya bersumpah dengan sepenuh jiwa. Membaca serentak lima butir sumpah.
Mereka akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syariah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah di Indonesia dan negeri Muslim lainnya secara intelektual dan tanpa kekerasan.
Mereka pun bersumpah dengan sepenuh jiwa bahwa perjuangan itu dilakukan bukan karena sebatas tuntutan sejarah. Namun lebih dari itu. Perjuangan yang mulia tersebut merupakan konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT. (mediaumat.com ,19/10/2009)
-------------------------------------------------------------------------------------
ALLAHU AKBAR
SAATNYA KITA BERUBAH!!BANGKITLAH SELURUH KAUM MUSLIMIN DI DUNIA.....
KHILAFAH PASTI KAN TEGAK..TAPI BUKAN MELALUI JALAN DEMOKRASI YANG SESAT....
Wahai pengemban dakwah,,murnikanlah pemikiranmu. open your mind!!!!
BEGINIKAH DEMOKRASI NEGERI INI?

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada tanggal 5 Juli lalu, pernah menerbitkan sebuah surat elektronik milik Andi Malarangeng, sang jubir Presiden RI. Isi surat tersebut benar-benar mengejutkan. Terlihat sekali konspirasi di balik perhelatan demokrasi yang mahal itu. Pemegang kendali konstelasi politik dalam negeri tetap ada di tangan para munafikin antek kafir yang bermodal besar. Bukan rakyat, sebagaimana yang selama ini dielu-elukan dalam demokrasi.
Berikut adalah isi surat elektronik yang dikirimkan oleh Andi Malarangeng kepada Muchlis Hasyim, editor senior salah satu media cetak besar di Indonesia.
From: Andi Mallarangeng
Date: Fri, 3 Jul 2009 18:59:14 -0700 (PDT)
To: Subject:
Re: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan
Muchlis yang baik tapi sedang gundah, Menurut saya, kita masih on the track. Isu yang menyudutkan saya di Makasar, masalah di Medan, DPT bermasalah, atau omongan ngaco PS tentang GBK tidak akan mempengaruhi pemilih. Apa dia punya bukti kita memanipulasi media. Masyarakat kan melihat media sendiri lah yang menentukan berita mana yang pantas mereka turunkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ada beberapa argumen yang bisa memperkuat keyakinan saya bahwa beragam isu ini tidak akan mempengaruhi kita.
Pertama, bangsa kita berada pada tahap puncak konsumerisme yang menyebabkan kaburnya identitas Nasional. Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila itu tinggal jargon2 saja. Jadi orang akan memiih dari apa yang mereka lihat dan sukai dan itu jelas masalah pembawaan dan penampilan. Masyarakat konsumen tidak akan peduli dengan apa yang dibawa oleh orang tersebut. Mau kapatalis, sosialis, atau neolib sekalipun, mereka tidak akan pedulikan. Yang penting mereka puas dengan penampilan si kandidat.. Dan kandidat itu adalah SBY-Boediono. Jadi, kejadian saya di Makassar kemarin itu tidak usah dipikir terlalu berat, itu hanya sebuah eksperimen kecil saya untuk melihat apakah isu berbau SARA masih mendapat tempat di masyarakat kita? dan saya sudah mendapatkan jawabannya, memang betul terjadi sedikit riak di Makassar sana dan mungkin elektabilitas JK langsung meningkat tajam. Tetapi lihatlah pada hari pencontrengan nanti, masyarakat tetap tidak akan bergeming dari pilihan kita. Sebab bagi masyarakat konsumen, yang penting bukanlah isu, tetapi penampilan dari kandidat. Ibaratnya blackberry vs pancasila, jelas ketahuan mana yang laku dan tidak sekarang ini. Masyarakat kita mati2an berhutang kiri kanan buat beli blackberry makin lupa lah sama pancasila. Ingat bung, Obama bisa jadi presiden hanya karena konsumerisme dan kapitalisme di AS sedang runtuh sehingga penduduknya kembali ke nilai-nilai kebangsaannya yaitu "all men are created equal", makanya kulit hitam bisa jadi presiden. Kalau ndak ada keruntuhan ekonomi ndak mungkin kejadian tuh Obama boss.
Kedua, FZ cs tidak percaya bahwa politik aliran sudah mati di Indonesia. NU, Muhammadiyah apalah yang lain juga sudah tidak seperti dulu lagi. Kita kan juga liat sendiri, kyai kan UUD juga akhirnya toh, tinggal mana yang kantongnya paling dalam dan janjiny paling manis aja. Dan kita kan main cantik sekali seperti anda liat. Lalu, orang seperti ini ini juga tidak mau belajar dari sejarah kepemimpinan nasional di Indonesia. Sejak negara ini berdiri, semua presiden yang naik itu karena kecelakaan sejarah. Bung Karno diangkat menjadi presiden, karena Jepang kalah dari sekutu dan terjadi vacuum of power pada masa itu. Soeharto naik juga akibat kecelakaan sejarah yaitu terjadinya peristiwa 65. Nah yang lucu, setelah itu kecelakaan sejarahnya semakin ngaco. Reformasi bergulir tahun 98, menghasilkan presiden yang buta. Presiden buta dijatuhkan, naik pula lah perempuan bisu. Kalau politik aliran memang belum mati, sudah pasti Mega atau Habibie jadi. Lagipula kalau memang ada politik aliran maka alirannya pasti jawa, laki-laki, militer dan islam. Non jawa seperti saya dan teman-teman ini kan sudah memang tempatnya jadi king maker saja, lebih enak ndak repot tapi kebagian serunya toh. Makanya SBY berbeda, dia muncul by design yang matang lewat pemilihan langsung.
Ketiga, ancaman tentang gerakan mahasiswa dan rakyat itu sudah tidak relevan lagi dengan iklim demokrasi sekarang. Hanya mimpi siang bolong yang bisa menghadirkan kekuatan mahasiswa. Bahkan tahun 98 pun banyak orang salah meletakkan sejarah itu sebagai kebangkitan mahasiswa menggulingkan Soeharto. Padahal bukan begitu. Itu memang jatuhnya Soeharto dan mahasiswa jadi alat saja, tapi memang jumlahnya besar sekali jadi secara visual kelihatan seperti sebuah fenomena gerakan mahasiswa yang digerakkan sebuah pemikiran kebangsaan. Buktinya tidak ada satu pun tokoh mahasiswa yang jadi legenda karena pemikirannya di tahun 98. Rama yang jadi tokoh terpopuler pun ternyata Cuma onggokan omong kosong saja dan sebentar lagi berangkat pula ke bui. Jadi tidak perlu khawatir mahasiswa kita ndak ada yang berkualitas pemikirannya sampai bisa menggerakkan massa jadi selalu menunggu ditungangi. Dan yang menunggangi tidak pernah pintar sehingga selalu ketahuan sehingga masyarakat tidak pernah percaya lagi sama kredibilitas demo mahasiswa jadi tenang saja boss. Kita mengontrol pikiran dan sentiment public sekarang, ndak ada yang bisa kalahkan itu. Sudahlah, rakyat tidak percaya lagi pada mahasiswa. Kita datangin mereka ke tv saja mereka sudah senang sekarang. jadi Bos, gerakan mahasiswa itu bukan lagi suatu hal yang menakutkan sekarang.
Lagipula, taruhlah media tidak lagi "bersahabat" , itu hanya segelintir. Media itu bisnis bung, owner nya ndak mungkin ambil risiko untuk lima tahun ke depan. bisa ndak makan mereka kan. Yang penting anda kan sudah dijelaskan dan ditunjukkan. selama skenario utama tetap terjaga, Cuma hitungan hari kok dan jadilah kita berangkat ke Bermuda kan haha ingat saja, skenario ini sudah lima kali dites dan tidak pernah gagal.. Dengan persiapan sudah lebih lama dan panjang, skenario sekarang jauh lebih sempurna.Ndak usah paniklah dengan semua isu yang berkembang ini, mereka lupa musuh utama adalah waktu, bukan kita. betul kan? Kalau orang ini memang bisa berbuat sesuatu kan sudah lama dia lakukan.
Ok boss, nda usah kuatir dengan FZ cs, mereka itu cuma angin sepoi-sepoi. Tiga hari lagi dan lima tahun ke depan kita selesaikan urusan dengan mereka satu persatu.
Trims AM
From: Muchlis Hasyim
To: mallarangeng@ yahoo.com
Sent: Saturday, July 4, 2009 8:52:49 AM
Subject: Fw: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan
Daeng, Saya baru terima email dari kawan kita ini. Terus terang saya agak tidak nyaman. Mungkin ini kembali menjadi pengingat Daeng. Isu kemarahan masy sulsel, DPT, dan penggadaian GBK, Din Samsudin yang semakin rame, saya khawatir bisa bergulir diluar kontrol kita. Perlu dicermati baik-baik dan diantisipasi semaksimal mungkin boss. Saya harap Daeng bisa memberikan pencerahan.
Trims MH
From: Ronggo Lawe
Date: Fri, 3 Jul 2009 18:50:45 -0700 (PDT)
To: Subject: Kontrol media, mohon jadi pertimbangan
Kawan Muchlis, Banyak yang mulai tidak suka dengan permainan kita di media. Mereka mulai mengerti cara kita mengontrol berita di media. Itu sebabnya mereka terus mempermasalahkan Kasus DPT bermasalah, isu SARA celi, penghinaan orang Bugis oleh Andi, penjualan Gelora Bung Karno, dll. Saya lihat Fadli Zon cs terus bergerak untuk menguji kekuatan kita di media.. Sebab mereka tahu untuk isu-isu yang sangat sensitif itu, akan sangat janggal sekali jika media tidak memberitakannya dan itu di luar kontrol kita boss. Saya lebih khawatir lagi orang-orang seperti Fadli Zon ini bisa menggerakkan mahasiswa dan masyarakat. Jadi boss, permainan di media ini mulai berbahaya. Kayaknya kita harus mencari strategi baru.
[Kompasiana]
ADAPTED FROM www.begundalmilitia88.blogspot.com
BLOG NURDIN M TOP PALSU
.jpg)
Sebuah blog baru yang menyatakan milik kelompok Al Qo'idah Indonesia muncul di internet. Pada blog tersebut memberikan keterangan resmi kelompok Al Qo'idah Indonesia atas serangan bom di hotel JW Marriot dan Rizt Carlton.
Belum jelas siapa pembuat blog tersebut, apakah benar-benar dari Al Qo'idah Indonesia. Berikut pernyataan yang dituliskan dalam blog yang beralamat di http://mediaislam-bushro.blogspot.com/ tersebut.
MEDIA TANDZIM AL QO'IDAH INDONESIA
.1.
KETERANGAN RESMI TANDZIM AL QO'IDAH INDONESIA
ATAS AMALIYAT JIHADIYAH ISTISYHADIYAH
DI HOTEL JW. MARRIOT JAKARTA
اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.
أمَّا بعد
Ini adalah keterangan resmi dari Tandzim Al Qo'idah Indonesia untuk ummat Islam dengan Amaliyat Jihadiyah Istisyhadiyah di Hotel JW. MARRIOT Jakarta, pada hari Jum'at pagi, tanggal 17 juli 2009 M./24 Rojab 1430 H. yang dilakukan oleh salah satu ikhwah mujahidin terhadap "KADIN Amerika" di Hotel tersebut.
Sesungguhnya telah sempurna pelaksanaan Amaliyat Istisyhadiyah dengan karunia Allah dan karomah-Nya setelah melakukan survey yang serius dan pengintaian yang mendalam terhadap orang-orang kafir sebelumnya.
Dan sungguh benar firman Allah :
فَلَمۡ تَقۡتُلُوهُمۡ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمۡۚ وَمَا رَمَيۡتَ إِذۡ رَمَيۡتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰۚ وَلِيُبۡلِىَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡهُ بَلَآءً حَسَنًاۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ۬ (سورة الأنفال : 17)..
"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui". (QS. Al Anfal : 17).
Ini juga sesuai dengan firman Allah Ta'ala :
قَـٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيڪُمۡ وَيُخۡزِهِمۡ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٍ۬ مُّؤۡمِنِينَ (سورة التوبة : 14).
"Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman". (QS. Attaubah : 14).
Agar ummat ini mengetahui bahwasanya Amerika, khususnya orang-orang yang yang berkumpul dalam majlis itu, mereka adalah para Pentolan Bisnisman dan Inteljen di dalam bagian ekonomi Amerika. Dan mereka mempunyai kepentingan yang besar dalam mengeruk harta negeri Indonesia dan pembiyaan tentara kafir (Amerika) yang memerangi Islam dan kaum muslimin. Dan kami akan menyampaikan kabar gembira kepada kalian wahai ummat Islam, bi idznillahi Ta'ala dengan mengeluarkan cuplikan-cuplikan film dari Amaliyat Istisyhadiyah ini insya Allah.
Dan kami beri nama Amaliyat Istisyhadiyah ini dengan : "SARIYAH DR. AZHARI".
Kami ber-Husnu Dhon kepada Allah bahwa Allah akan menolong kami dan menolong kaum muslimin dalam waktu dekat ini.
الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون
Amir Tandzim Al Qo'idah Indonesia
Abu Muawwidz Nur Din bin Muhammad Top
Hafidzohullah
KETERANGAN RESMI DARI TANDZIM AL QO'IDAH INDONESIA
ATAS AMALIYAT JIHADIYAH ISTISYHADIYAH
DI HOTEL RIZT CALRTON JAKARTA
اَلْحَمْدُ ِللهِ مُعِزِّ اْلإِسْلاَمِ بِنَصْرِه، وَمُذِلِّ الشِّرْكِ بِقَهْرِه، وَمُصَرِّف اْلأُمُور بِأَمْرِه، وَمُسْتَدْرِجِ اْلكَافِرِيْنَ بِمَكْرِه، اَلَّذِي قَدّرَ اْلأَيَّامَ دُولاً بِعَدْلِه، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ أَعْلَى اللهَُ مَنَارَ اْلإِسْلاَمِ بِسَيْفِه.
أمَّا بعد
Ini adalah keterangan resmi dari Tandzim Al Qo'idah Indonesia untuk ummat Islam dengan Amaliyat Jihadiyah Istisyhadiyah di Hotel Rizt Calrton Jakarta, pada hari Jum'at pagi, tanggal 17 juli 2009 M./24 Rojab 1430 H. yang dilakukan oleh salah satu ikhwah mujahidin terhadap antek-antek Amerika yang berkunjung di Hotel tersebut.
Sesungguhnya Allah menganugerahkan kepada kami jalan untuk menyerang Hotel termegah yang dimiliki oleh Amerika di Ibukota Indonesia di Jakarta, yaitu Rizt Calrton. Yang mana penjagaan dan pengamanan di sana sungguh sangatlah ketat untuk dapat melakukan serangan seperti yang kami lakukan pada kali ini.
"Mereka membuat Makar dan Allah pun membuat Makar. Dan Allah itu Maha Pembuat Makar". (QS. Ali Imron : 54).
Adapun sasaran yang kami inginkan dari amaliyat ini adalah :
1. Sebagai Qishoh (pembalasan yang setimpal) atas perbuatan yang dilakukan oleh Amerika dan antek-anteknya terhadap saudara kami kaum muslimin dan mujahidin di penjuru dunia
2. Menghancurkan kekuatan mereka di negeri ini, yang mana mereka adalan pencuri dan perampok barang-barang berharga kaum muslimin di negeri ini
3. Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Terutama dari negeri Indonesia
4. Menjadi pelajaran buat ummat Islam akan hakikat Wala' (Loyalitas) dan Baro' (Permusuhan), terkhusus menghadapi datangnya Klub Bola MANCESTER UNITED (MU) ke Hotel tersebut. Para pemain itu terdiri dari para salibis. Maka tidak pantas ummat ini memberikan Wala'nya dan penghormatannya kepada musuh-musuh Allah ini
5. Amaliyat Istisyhadiyah ini sebagai penyejuk dan obat hati buat kaum muslimin yang terdholimi dan tersiksa di seluruh penjuru dunia
Yang terakhir ….. bahwasanya Amaliyat Jihadiyah ini akan menjadi pendorong semangat untuk ummat ini dan untuk menghidupkan kewajiban Jihad yang menjadi satu-satunya jalan untuk menegakkan Khilafah Rosyidah yang telah lalu, bi idznillah.
Dan kami beri nama Amaliyat Jihadiyah ini dengan : "SARIYAH JABIR"
الله أكبر ولله العزة ولرسوله والمؤمنون
Amir Tandzim Al Qo'idah Indonesia
Abu Mu'awwidz Nur Din bin Muhammad Top
Hafidzohullah
******
Catatan:
Pasca pembom-an di hotel marriott dan ritz carlton yang penuh misteri. Saat ini, muncul ke anehan lag. Yaitu pernyataan tanggung jawab (tulisan) 'resmi' dari tandzim al qoidatul jihad Indonesia. Blog tersebut bisa dilihat disini, dan disini. Beberapa ketidak wajaran tersebut adalah:
1. Menggunakan istilah TANDZIM AL QO'IDAH INDONESIA, sedangkan biasanya dalam pernyataan pernyataan resmi tandzim al qo'idatul jihad (al qaida) Timur Tengah menggunakan kata 'Tandzim Al Qoidatul Jihad' bukan Tandzim Al Qo'idah Indonesia. Dan penggunaan kata Indonesia biasanya diberikan kata fie (kata sambung di), yaitu Tandzim Al Qo'idatul Jihad fie (wilayah) Indonesia.
2. Tandzim Al Qo'idatul Jihad yang merupakan organisasi yang bermarkaz di Afghanistan dan tunduk terhadap kepemimpinan Imaroh Afghanistan. Imaroh Afghanistan mengeluarkan buku petunjuk (idari) untuk pejuangnya dibelahan dunia manapun. Baik untuk administratif maupun untuk perkara amaliyahnya (baca). Mencangkup 13 Bab dan 67 artikel. Amaliyah Bom Kuningan yang terjadi 17 Juli lalu bisa dibilang terlepas dari al Markaz at Tandzim Al Qoidatul Jihad. Serta tidak memperhatikan idari (aturan) yang telah dimiliki pejuang Tandzim Al Qo'idatul Jihad 'Alamiyyah (internasional).
3. Penggunaan tulisan (blog) akan sangat tidak meyakinkan daripada penggunaan video (rekaman) seperti yang sudah dilakukan pada saat bom bali 2. Dalam propaganda jihad internasional biasa digunakan pengakuan Video - Suara - Surat dengan tingkat yang semakin turun. Gw pribadi meyakini tidak lebih dari 10% blog tersebut aseli...
4. Beberapa intelijen meyakini Nurdin M. Top tidak lagi berada di Indonesia, namun berada di Moro (Filipina). Beberapa buronan lainnya pun sedang berada di sana seperti dulmatin, dll.
Jadi... menurut perhitungan gw hanya 85% lebih blog tersebut adalah fake (palsu), 10% aseli, dan 5% adalah digunakan untuk mencapai tujuan selain pengakuan tersebut (barangkali untuk menunjukkan argumentasi jihadnya). Wallahu a'lam...(semoga Allah melindungi mujahidin yg ikhlas)
http://revolusidamai.multiply.com/journal/item/495/Blog_Pengakuan_Nurdin_M._Top
MENJADI PROFESOR

Salah satu hal yang paling saya suka ketika saya main ke jogja adalah pertemuan saya dengan keponakan sulung saya. Dan tugas yang pasti diberikan pada saya adalah “momong”. Di depannya saya awalnya yang 100% waras jadi 100% gila. Bagaimana tidak? ketika saya lontarkan pertanyaan yang harusnya dia jawab, malah saya yang harus menjawab. Mirip orang gila yang menimang bonekanya. Dan beberapa kali saya harus berlagak seperti ayam, kuda, burung, dan kucing untuk menghiburnya sekaligus memberikan pemahaman padanya tentang perbedaan hewan2 itu (meskipun pemerannya adalah satu tokoh)
Melihat detik2 perkembangannya membuat saya berkhayal, ”kalau sudah besar akan jadi apa dia?” yah pastinya masih akan jadi manusia tulen bukan jadi2an sperti saya. Disela2 momong, saya teringat sms kawan seperjuangan tentang analogi bayi professor dengan umatkebangkitan. Ketika itu saya mengiriminya sms terlebih dahulu, yang singkatnya berisi semangat untuk menegakkan kembali khilafah demi diterapkannya aturan Allah secara kaffah. Dan dia menjawab :” Seorang professor, dulunya adalah seorng bayi yang belajar merangkak, berjalan, baru kemudian berlari. Yang dulunya hanya bisa menangis, berbicara terbata bata, baru kemudian berbicara dengan lancer layaknya orang dewasa. Begitu juga umat ini, butuh proses. Tak bisa langsung menegakkan islam di bawah naungan daulah.”
Yah saya hanya bisa menanggapi dengan balik bertanya: “ Lantas apa bedanya preman dengan professor?”
Maksud saya adalah ketika kawan sy menerangkan bahwa seorang profesor dulunya adalah bayi yang belajar merangkak, berjlan kemudian berlari, mka bukankah preman dulunya juga belajar berjlan, merangkak, kemudian berlari?Dimana bedanya dari segi ini? TAK ADA. Lantas kenapa bayi yang satu menjadi profesor dan yang lain menjadi preman?
Pastilah sebelum menjadi profesor, sang bayi mendapat didikan dari orangtuanya. Pastilah dy memang diarahkan untuk menjadi seseorang yang berpendidikan, intelek dsb. Atau mungkin juga lingkunganlah yang mendidik dan mengarahkannya, hingga dalam diri sang bayi tertancap tekad untuk menjadi profesor.
Berbeda dengan preman yang kemungkinan besar ia tak mendapat didikan dari kedua orgtuanya. Atau mungkin pula dia menjadi korban kesalahan dalam proses mendidik dan korban lingkungan yang membuatnya bermasadepan sebagai seorang preman.
Maka, menganalogikan proses bayi menjadi profesor dengan proses kebangkitan umat menjadi tidak tepat. Karena bukankah semua bayi pun akan mengalami proses yang demikian itu? Lantas dengn proses yang sama, apakah semua bayi itu menjadi profesor saat dewasa? Tentu tidak. Masa depan bayi bergantung pula pada siapa yang mendidik dan apa yang dididikkan padanya. Kemudian muncul pertanyaan lagi dalam benak sy, apakah proses umat menuju kebangkitannya akan berjlan alami seperti proses si bayi yang dari tidak bisa bicara menjadi bisa bicara, yang dari merangkak kemudian bisa berjlan kemudian baru berlari? Bukankah pertumbuhan sang bayi pun akan tersendat bila tidak ada stimulus atau rangsangan dari pendidik ato pengasuhnya?Lantas proses umat menuju kebangkitan hakikinya pun akan terhambat jika kita sebagai org yg lbh dulu paham tidak mendidiknya dengan benar? Jadi, bukankah tugas kita bersama untuk mendidik umat dengan cara yang benar? Dengan metode yang benar? Dan dengan tsaqafah islam yang kaffah dan benar? Bukankan ketika hanya mendidik umat dengan memberikan pengetahuan islam yang hanya parsial itu sama saja dengan kita menganggap bahwa umat tdk pernah tumbuh alias jadi bayi selamanya?
Maka kawan, apakah salah ketika saya berkoar pada seluruh penduduk di penjuru dunia untuk menegakkan islam secara kaffah dibawah naungan khilafah? Jika seluruh aktivis berpikiran sama dengannya, maka bukankah tak ada satupun umat ini yang tahu bahwa kemenangan hakiki adalah dengan tegaknya aturan Allah secara kaffah dan bukan kemenangan suatu partai dalam parlemen?
Meskipun sy berkoar demikian, bukan lantas sy tak tahu step ap yg harus sy tempuh sbg permulaan dakwah di suatu tempat terkait materi yang di dakwahkan. Hal ini hanyalah masalah uslub alias cara. Sehingga, tak akan berbeda islam yang dipahami antara masyarakat kota dengan masyrakat desa. Sekali lagi kita bermain dengan ”cara berdakwah”. So, meskipun yang kita dakwahi adalah org2 miskin, kita tak punya hak untuk mengatakan ” Org kelaparan kok diajak ke seminar tentang khilafah, yo ora tekan!”
Jadi seperti apapun uslubnya yang penting haruslah bertujuan dan bertarget.
Categories
- short story (1)
- shout (2)
Network Sites
Popular Posts
-
Tahun 1783, istilah demokrasi gencar diteriakkan. Diawali dari kemuakan bangsa eropa pada sistem monarki dan doktrin gereja, membuat Pantai ...
-
Seperti siang2 sebelumnya, wanita tua itu telah berada di sebuah halte bus kota . Menenteng tas bawaannya yang berisi ...
-
Sebuah blog baru yang menyatakan milik kelompok Al Qo'idah Indonesia muncul di internet. Pada blog tersebut memberikan keterangan resmi ...
-
Beberapa waktu lalu, tepatnya pada tanggal 5 Juli lalu, pernah menerbitkan sebuah surat elektronik milik Andi Malarangeng, sang jubir Presid...
-
Barangkali saja namanya manusia, aktivis dakwah pun terkadang masih menyimpan sifat membuta. Ia begitu tempramental. Hingga terkadang tipis ...
-
...
-
Pagi-pagi. Setelah isi pulsa gprs 5 ribu, cepat-cepat modem saya tancapkan. go to mail.yahoo.com plus gmail.com. file presentasi harus seger...
-
Kini Surya tengah melebarkan telinganya Mendengar suara genta sekolah pagi buta Mendengar jejak kaki pengejar asan di setiap buldan Mendenga...
-
Beberapa waktu yang lalu seorang kawan mengunjungi blog. Dan saya melakukan kunjungan balik. Ketika melihat blognya, saya jadi terin...
-
kami memang gila... hidup kami bertolak belakang dengan kehidupan masyarakat umum menolak kenikmatan dunia yang terbentang dihadapankan kami...
para "pro"
-
Kancane wae diapusi, opo maneh dudu kancane??1 tahun yang lalu
-
